powered by Google
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Kisah Yayung kecil pergi sekolah sendirian ke TK Giki di Bandung

Kamis, 28 Februari 2013

From: Yayung TI77
Sender: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Date: Thu, 28 Feb 2013 04:16:07
Subject: Re: [Senyum-ITB] Tizi di Hegarmanah



Hehehe....saya di Hegarmanah itu waktu saya lahir, th 1958-1964, mungkin saat itu temennya mbak Nia belum lahir.

Saya bersekolah di TK Giki , jl Karangsarin ujung Sukajadi....ke sekolah jalan kaki sendiri aja....
Heran yaa...jaman itu anak TK bisa jalan sendiri,nyebrang sendiri ,gak ada yg nemenin, tapi orangtua yakin, anaknya akan baik2 saja, pulang dg selamat kembali ke rumah.
Coba deh jaman sekarang, sdh pasti gak mungkin terjadi.

Jadi, saya nyebrang kantor pos (persis depan rumah), jalan ke atas setiabudhi, didepan Rumah Mode sy nyebrang lagi,jalan terus naik keatas, belok kiri KarangSari,trus jalan aja sampe ujung. 

Walaupun cuman merasakan 1th sekolah disitu,tp kenangannya sangat melekat.
Th.1965 sy pindah ke Surabaya.


Yayung TI77


Peta: Rute perjalanan dari A (Jl Hegarmanah 2A) ke B (Jl Karangsari) = 700 m

View Larger Map



Baca juga:
- Kenangan Indahwati Santoso TK78 tentang Tizi di Hegarmanah


-----Original Message-----
From: Niawati Anita
Sender: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Date: Thu, 28 Feb 2013 03:53:10
Subject: Re: [Senyum-ITB] Tizi di Hegarmanah


Teman saya Maya IF 85 dulu di Hegarmanah juga. Apa tetanggaan sama mbak Yayung ?

Salam,
Nia TL85

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Yayung TI77
Sender: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Date: Thu, 28 Feb 2013 03:45:07
Subject: Re: [Senyum-ITB] Tizi di Hegarmanah

Berarti no 8 mbak....krn rumah saya dulu di Hegarmanah no 2A , yg sekarang jadi hotel SaniRosa.
Memang suasananya jauh lbh menyenangkan wkt di Hegarmanah.

Salam, yayung ti 77

----------------------------

Hotel Preanger 1960



Hotel Preanger 1910


Read more...

Sejarah dan arti kata "Dago"

Jumat, 21 September 2012


DAGO

Dago, dagoan berasal dari bahasa sunda yang artinya "menunggu", pada zaman dahulu di masa penjajahan Belanda, penduduk di daerah utara Bandung memiliki kebiasaan untuk saling menunggu untuk pergi bersama-sama ke kota, yang mana pada masa itu, rute yang ditempuh menuju kota melewati daerah yang masih tergolong sepi dan rawan binatang buas, terutama di daerah hutan di sekitar terminal Dago sekarang. Pada tahun 1900-1914, pemerintah Hindia Belanda memulai pembangunan di daerah Bandung, pembangunan di daerah Dago, dimulai dengan pembangunan rumah peristirahatan milik Andre van der brun pada tahun 1905, pada saat ini bangunan ini masih berdiri dan berada bersebelahan dengan Hotel Jayakarta. Wilayah Dago itu sendiri meliputi, simpang Dago ke arah utara,dago jati(STKS-sekarang), dago biru, dago pojok, hingga PLTA Bengkok.


Bangunan bersejarah
Terdapat beberapa bangunan bersejarah di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda atau biasa disebut dengan dago, diantaranya : 1. Rumah peristirahatan Andre van der Brun 2. Dago Tea house,

Selain itu terdapat kompleks bangunan yang dahulu berfungsi sebagai sanatorium. Dahulu dikelola oleh Netherlands Rode Kruis, kemudian dipindahtangan pengelolaan dan kepemilikannya oleh Palang Merah Indonesia, saat ini berada tepat di seberang Jayakarta Hotel. Kompleks ini cukup luas membentang dari utara (sekarang di sebelah atas pompa bensin), hingga ke selatan di seberang atas kampus STKS. Kompleks ini terdiri dari 12 bangunan, dua kompleks bangunan merupakan milik Universitas Padjajaran, selebihnya merupakan milik PMI. Pada tahun 1964 kompleks tersebut kemudian dijadikan sebagai perumahan karyawan Palang Merah (saat ini masih ditempat sebagian).

Bangunan di kompleks tersebut diberi nama kota-kota di Jawa Barat, seperti Banjarnegara, Sukanagara, Lebaksiuh, Subang, Panumbangan, Buah Dua. Dahulu berjejer pohon cemara di sepanjang pagar halaman kompleks tersebut, juga pohon beringin, pohon asem, pohon nangka, bahkah pohon durian sekalipun. Sekarang ada beberapa bangunan yang sudah rata dengan tanah, terbengkalai.

Kompleks bangunan tersebut memiliki nilai historis terutama dari arsitektural bangunan dimana salah satu bangunan bergaya Gothic dengan atap menjulang meruncing ke atas (rumah Sukanagara, sekarang sudah rata dengan tanah). Bangunan tersebut pada masanya hanya terdapat beberapa buah saja, termasuk yang terdapat di jalan Dago (sekarang menjadi factory outlet, dibongkar habis.)


( kalo ada salah2 keterangan sejarah, mohon dimaklum. )  

- BandungHoek - by Joyrider



Sumber: joyriderbandung.blogspot.com

Read more...

Video: Bandung Tempo Doeloe

Minggu, 10 Juni 2012

Bandung, Indonesia 1941
A City View, Tempo Doeloe




Bandung has always been known as the Paris of Java, with its cool mountain climate, and the lush countryside surrounding the city.

This video was taken of the city only a few months before the Netherlands Indies was invaded by the Japanese Imperial army, effectively ending the Netherlands Indies.

Many of the buildings you see today, can be discovered in the 21st century city of Bandung.

Enjoy :-)


Read more...

Video: Kehidupan Kota Bandoeng 1910-1930

Rabu, 06 Juni 2012



Mulai mendekati tahun 1920an Bandung mulai mekar bagai bunga di musim semi. Pada saat itu situasi seakan berpihak pada kota baru ini. Jalur kereta sudah dibuka 30 tahun yang lalu dan mobil-mobil pun sudah mulai terbiasa lalu lalang di tengah kota. Kota ini sudah tidak lagi terisolasi dari dunia.

Perkebunan di sekeliling Bandung adalah sumber pendapatan yang luar biasa untuk modal pembangunan kota. Golongan pengusaha kaya di Bandung, golongan Pribumi, para pendatang dan pemerintah kota begitu bangga pada kota miliknya. Mereka bahu membahu mempercantik kota kecil ini. Setiap orang memiliki kontribusi masing-masing untuk kota berjulukan "The Garden of Allah" ini.

Saat itu Bandung seakan berkata pada dunia ,"Aku sudah bangun, aku siap menyilaukan pandangan kalian semua"


Mahanagari.com

Read more...

Video: Suasana Braga di bulan Februari 2011

Sabtu, 17 Maret 2012



Uploaded by on Mar 1, 2011

In Bandung again we spend the day to roam through the Braga street (Jalan Braga) in order to find the pastry shop of an acquaintance. But unaware of her maiden name we video what we think is worthwhile for her.
We are addressed in fluent Dutch by a taxi driver who remembers where which shop was and what happened to the cinema Majestic.


It is charming to discover that no hardship seems to endure among Indonesians towards the Dutch. 'There is a time to hate and there is a time to forgive', is what they seem to practise. We could do 'business' with that familiarly spoken. Why couldn't we cooperate having learned that colonisation leads to loss. Why not start joint ventures to develop all the richness of this enormous archipelago in a win win situation. In the Java Journal I read of the Swedish charming offensive towards Indonesia these days. What a waste of time as the Dutch still cherish knowledge about several aspects of Indonesia. Common Indonesians may speak a little Dutch and are willing to learn. Let's put away the colonial fuss and let's make contact again. The Dutch are good in maintaining their structures let it be a national road network or architecture. It will require constant communication and decision making.
Then unemployment in Indonesia thus could be diminished as also hawking of the tourists.


The steam roller on a pedestal is a tribute to Governor General Daendels of the Dutch Indies in the nineteenth century who had built the Groote Postweg (the Long Mail Road) across Java. Well, the plague on the pedestal explains enough as you will see.
The next old picture shows a rice field along the mentioned road.
Note the image of Marilyn Monroe on a wall along the Asia-Afrika Road. You'll certainly know this almost classical image of her. Here in Bandung she appears to lose something...
We strike upon the protestant Bethel church which also dates from the former centuries. Stroll along some beautiful architectural creations, the local mosque, on our way to resto 'De Bandungsche Melk Centrale' which has been described before.

Read more...

Rasa itu tetap sama di restoran Braga Permai, Bandung


Ada sebuah tempat di Bandung, yang sedapat mungkin kukunjungi setiap ke Bandung. Hanya untuk sekedar minum kopi atau membeli oleh-oleh di sana. Aku tahu tempat ini dari papaku. Dulu kalau papa pulang dari Bandung, dia suka membawa Karya Umbi/ Raos, Sus Merdeka atau oleh-oleh dari sini. Lama-lama Karya Umbi/ Raos, dan Sus Merdeka bisa beli juga di Jakarta, kami menjadi bosan, dan tidak pernah beli lagi. Tapi kalau oleh-oleh dari sini, tidak pernah kami tolak!

Oleh-oleh itu adalah coklat yang kebanyakan adalah bitter sweet dengan berbagai bentuk dan campuran rasa. Ada yang truffle, ada nougat, ada kenari, ada marzipan, ada kacang giling dll. Kalau dulu papa sering membeli semua jenis seratus gram (Di sini memang cara membelinya dengan per 100 gram – harganya sekitar 35.000 rupiah sekarang) lalu dibagilah untuk 5 orang, Mama dan 4 anak, masing-masing satu kantong. Masing-masing menerima satu kantong, boleh makan kapan saja, tapi tidak boleh minta punya orang lain. Kalau ada jenis yang tidak suka bisa barter dengan damai! hoho…senang sekali waktu kami menuliskan nama di kantong dan menyimpannya di lemari es. Dan tentu saja tidak ada yang berani mengambil coklat yang bukan miliknya.

Restoran jadul Braga Permai yang terkenal dengan coklatnya


Braga Permai ( Jl. Braga No. 58 Telp 022-4233778) adalah nama Restoran (dulunya Maison Bogerijen) yang menyimpan sejarah, mungkin satu jaman dengan ice cream Ragusa. Kabarnya sudah ada sejak tahun 1930-an, sebagai tempat meneer-meneer dan mevrouw-mevrouw minum kopi. Karena itulah papaku tahu tempat ini, dan setiap ke Bandung pasti membelikan kamu coklat Braga. Lihat saja foto kotak kuenya, masih memakai foto-foto jaman bahelua itu. Ada beberapa meja di teras restoran, dan tentu saja di dalam restoran.Dulu aku jarang mampir duduk dan makan di sini,biasanya langsung ke dalam tempat etalase coklat dan kue-kue, memesan dan langsung bayar. Tapi waktu mudik musim panas kemarin, dua kali ke sini dan duduk untuk sekedar ngopi atau nge-es dan beristirahat. Sang supir pun perlu istirahat kan? Dan waktu datang ke dua kalinya dengan Gen, dia juga menikmati kopi tubruk yang disajikan. Sayang waktu itu kami baru makan di Raja Rasa, dan kecewa karena Kopi Aroma tidak buka. Sayang waktu aku ke sana dua kali itu, mau pesan es krim Tutti Frutti tapi tidak ada.

Coklat braga yang dijual per 100 gram. Salah satu kuenya yang akhir-akhir ini aku suka adalah sus dengan saus caramel di atasnya kiri bawah. Kanan bawah kue dengan amandel (marzipan)

So, jika ada waktu silakan coba menikmati suasana Bandung jaman dulu sambil ngopi dan makan coklat, meskipun tentu saja ada makanan lain spesialitet restoran ini. Coklat di sini rasanya tetap sama seperti coklat oleh-oleh papa dulu waktu kami kecil!

Sumber: imelda.coutrier.com

Read more...

Wisata Bandung : Rumah makan TIZI'S

Wisata Bandung : Rumah makan TIZI'S


TIZI'S adalah rumah makan dengan menu eropa yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 1980-an.
Suasana restoran sangat asri dan terletak di sekitar Dago sehingga cukup mudah dicapai.
Menu istimewanya adalah 'Schaschlik'




Daftar menu (Juni 2011)

Peta Lokasi Tizi's


View Larger Map

Peta: A (ITB) ke B (Tizi's di Jl. Kidang Pananjung)
Jarak 1,6 km.


Sumber : candrawulan.blogspot.com

Read more...

Carito nyata Urang Awak di Bandung

Sabtu, 25 Februari 2012

From: "Santri-91" 
To: <Senyum-ITB@yahoogroups.com>
Subject: [Senyum-ITB] Kepada urang awak sekalian, moga menghibur


Karya nyata malam minggu ini :D . Ubek sutres dunsanak sadonyo.
Berikut adolah carito nyata, percakapan bahasa indonesia seorang urang minang di perantauan
dengan warga setempat, nama pelaku dan lokasi kejadian dirahasiokan. ;)

1. "Bu, kalo "Kura-Kura" nya dimana?" tanya seorang urang awak kepada ibu
kos-nya. Si ibu kos kaget dan heran. "Kura-kura kok di kamar?" tanya si ibu kos
bingung. Setelah dijelaskan, maksudnya adalah Gembok. :))
*Karena di minang, "Gembok" itu disebut "Kuro-Kuro" alias Kura-kura kalo dipaksa
jd Indonesia. Hehehe

2. "Bik, nanti beli kerupuknya yang "Berderuk" ya," pesan seorang urang awak ke
si bibik yg mau ke pasar. Si bibik bingung maksudnya apa. Setelah dijelaskan,
maksudnya "Garing" alias Crunchy
*kalo makanan yg Garing/Crunchy di minang disebut "Badaruak". Kalo diterjemahkan
paksa jadi "Berderuk" Ahaaay haha

3. "Bik, mahal sekali itu belanjanya,"protes seorang minang ke si bibik yg baru
pulang dari pasar. "Ada bibik "Harga" belanja tadi?"tanya sang urang minang. Si
bibik bingung sekali, apa maksudnya. Setelah dijelaskan sedemikian rupa,
akhirnya si bibik mengerti, maksudnya "Ditawar".
*kalo menawar barang itu di minang dipake kata "Di Ago" yang kalo dipaksa
dijadikan bahasa Indonesia jadi "Diharga". "Tawar" ="Ago", dan kalo bahasa
Indonesia jadi Harga. :)) memang bikin fresh deh cerita2x nyata ini.

Selamat malam minggu teman2x. Jangan tertawa terlalu terpingkal2x, nanti
"Menjabir" air liur teman2x sekalian nanti.


Macam "Koncat" saja tertawa sambil meloncat2x begitu :p :p

Sy ;)

Read more...

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP