powered by Google

United Tractors: Another Blue Chip Opportunity

Selasa, 26 Mei 2015

United Tractors: Another Blue Chip Opportunity

Bicara tentang United Tractors (UNTR), maka kita berbicara tentang perusahaan terbesar di Indonesia di dua bidang sekaligus yakni jual beli alat-alat berat dan jasa kontraktor tambang batubara, dan merupakan salah satu dari sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI (berfluktuatif, terkadang UNTR keluar dari daftar sepuluh besar tersebut kalau harga sahamnya lagi turun). UNTR juga memiliki sejarah kinerja yang sangat solid dalam jangka panjang, dimana sejak industri batubara mulai booming di Indonesia sejak awal dekade 2000-an, UNTR terus berkembang hingga kini berstatus sebagai anak perusahaan sekaligus kontributor pendapatan terbesar kedua (setelah bisnis otomotif) dari Astra International (ASII). Yup, dari total pendapatan ASII senilai Rp150.6 trilyun hingga Kuartal III 2014, Rp40.8 trilyun diantaranya berasal dari UNTR.


Melihat ukurannya saat ini, mungkin sulit untuk mempercayai bahwa UNTR tadinya (ketika perusahaan berdiri pada tahun 1972) hanya merupakan perusahaan kecil di bidang distribusi alat-alat berat merk Komatsu, Tadano, dan Bomag. Dan hingga hampir dua puluh tahun berikutnya UNTR tidak mengalami perkembangan usaha yang berarti. Setelah perusahaan diakuisisi oleh Grup Astra pada penghujung dekade 1980-an (sehingga secara otomatis mengalami pergantian manajemen), barulah UNTR mulai berekspansi, ditandai dengan menggelar IPO di Bursa Saham, dan masuk ke industri jasa kontraktor tambang batubara dengan mendirikan PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Pendirian PAMA ini kemudian terbukti sukses besar, dimana di tangan Grup Astra, PAMA kemudian sukses menjadi perusahaan kontraktor tambang batubara terbesar di Indonesia pada saat ini, dengan pangsa pasar sekitar 45% pada akhir tahun 2013.

Sementara di bisnis aslinya yakni jual beli alat-alat berat, UNTR juga terus berkembang. Dari awalnya hanya memegang hak distribusi untuk tiga merk alat-alat berat (Komatsu, Tadano, dan Bomag), UNTR kini juga jualan alat-alat berat merk Komatsu Forest, UD Trucks, dan Scania Bus (dan mungkin akan bertambah lagi di masa mendatang). Tidak hanya jual beli, UNTR juga menyediakan layanan solusi yang lengkap terkait alat-alat berat, seperti konsultasi lapangan, memberikan rekomendasi penyediaan dan penggunaan alat-alat berat yang optimal, layanan purna jual dan servis alat-alat berat, layanan jual belispare parts, hingga garansi dukungan produk. Sedikit berbeda dengan PAMA yang sudah menjadi perusahaan nomor satu di industri kontraktor batubara, bisnis alat-alat berat milik UNTR masih harus bersaing ketat dengan Grup Trakindo, yang merupakan distributor alat-alat berat merk Caterpillar, untuk menjadi perusahaan alat-alat berat (atau disebut juga ‘mesin konstruksi’) terbesar di Indonesia (namun dengan pangsa pasar 40%, UNTR masih berada satu langkah didepan Trakindo).
Beberapa merk alat berat/mesin konstruksi yang dipegang UNTR. Sumber: unitedtractors.com

Sukses di bidang alat-alat berat dan kontraktor tambang batubara, pada tahun 2007 UNTR mulai masuk ke industri tambang batubara itu sendiri. Hingga Kuartal III 2014, UNTR sudah memegang setidaknya sepuluh konsesi batubara dengan cadangan batubara lebih dari 409 juta ton, yang menjadikan UNTR sebagai perusahaan batubara kelas menengah di Indonesia (jauh lebih kecil dibanding ADRO, BUMI, PTBA, namun lebih besar dibanding KKGI, HRUM, GTBO). Sayangnya perusahaan kehilangan momentum ketika harga batubara sempat booming pada tahun 2011, dimana ketika itu mayoritas konsesinya belum sempat berproduksi. Pada tahun 2014 ini, terdapat setidaknya dua konsesi tambangnya yang sudah siap beroperasi secara full, namun perusahaan belum mulai melaksanakan penambangan batubara secara skala penuh karena masih menunggu harga batubara pulih. Alhasil, hingga Kuartal III 2014, dari total pendapatan UNTR senilai Rp40.8 trilyun, hanya Rp3.9 trilyun yang berasal dari penjualan batubara. Dalam kesempatan public expose yang terakhir, manajamen UNTR menyatakan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk menggali batubara yang mereka miliki, melainkan tunggu saja dulu sampai harga jual batubara pulih dengan sendirinya.

Ekspansi UNTR terus berlanjut (dan ini adalah salah satu alasan kenapa penulis suka sama perusahaan ini, selain karena fakta bahwa ia dikelola manajemen sekelas Grup Astra, yakni bahwa setiap tahunnya UNTR selalu melakukan ekspansi bisnis, entah itu dengan cara mendirikan anak usaha baru, menjalin kerjasama dengan perusahaan lain, dll, tanpa banyak gembar gembor! Sehingga tak heran jika perusahaannya berkembang terus secara signifikan). Pada tahun 2014 ini, UNTR masuk ke venture baru dengan mengakuisisi 50.1% saham PT Acset Indonusa, Tbk (ACST), sehingga UNTR praktis menjadi pemegang saham pengendali ACST, dan ACST menjadi anggota baru di keluarga besar Grup Astra. Tidak disebutkan berapa nilai akuisisinya, namun penulis percaya bahwa itu dilakukan pada harga yang wajar. Beberapa analis sekuritas menilai bahwa tindakan UNTR ini (yang mengakuisisi ACST), merupakan tindakan yang bisa berdampak buruk pada kinerja UNTR secara keseluruhan, karena ditengarai akan menyebabkan UNTR kehilangan fokus karena perusahaan sebelumnya tidak pernah bermain di sektor konstruksi.

However, penulis justru menilai bahwa langkah UNTR tersebut merupakan langkah yang bagus. Sejak awal, Grup Astra sudah tertarik untuk masuk ke bisnis properti dan kontraktor properti/konstruksi, dan itu sebabnya ASII melalui salah satu anak usahanya (bukan UNTR) mulai mendirikan Menara Astra sejak tahun 2013 lalu, dengan bekerja sama dengan perusahaan properti asal Hong Kong, yang sama-sama berstatus sebagai anak usaha dari Grup Jardine, Hong Kong (ASII adalah anak usaha dari Grup Jardine tersebut). Sementara untuk bisnis konstruksi, ketimbang capek-capek mendirikan perusahaan konstruksi sendiri kemudian merintis semuanya dari nol, maka jauh lebih baik untuk mengakuisisiperusahaan konstruksi yang kecil namun bisa menjadi besar suatu hari nanti. Dan dengan track record kinerja yang excellent dalam beberapa tahun terakhir, ACST merupakan pilihan yang terbaik, dimana dengan dukungan permodalan dan lain-lain yang luar biasa dari Grup Astra, ACST sangat berpeluang untuk menjadi perusahaan konstruksi yang besar suatu hari nanti (dan kalau melihat track record Grup Astra yang nyaris selalu sukses di bidang usaha apapun yang mereka masuki, maka peluang ‘menjadi besar’ tersebut terbilang terbuka). Saat ini ACST hanyalah perusahaan konstruksi yang relatif kecil dibanding Adhi Karya dkk, dengan nilai aset hanya Rp1.4 trilyun pada Kuartal III 2014.

Kemudian kenapa masuknya melalui UNTR? Ya karena UNTR ini sudah berpengalaman sebelumnya dalam bisnis jual beli alat-alat berat untuk proyek konstruksi (catat bahwaUNTR selama ini nggak cuma melulu jualan alat-alat berat untuk tambang batubara), alias matching dengan jenis bisnis yang dijalani ACST. Adalah konyol jika ASII mengakuisisi ACST secara langsung atau melalui Astra Graphia (ASGR), misalnya, karena nggak bakal nyambung.

So, hingga ketika artikel ini ditulis maka UNTR telah memiliki setidaknya empat jenis usaha: 1. Distribusi alat-alat berat, 2. Kontraktor tambang batubara, 3. Tambang batubara, dan 4. Konstruksi. Menurut penulis, itu adalah kombinasi usaha yang bagus dan saling melengkapi, dimana tambang batubara membutuhkan kontraktor, dan kontraktor membutuhkan alat-alat berat. Dan selain alat-alat berat untuk tambang batubara, UNTR juga bisa menyediakan alat-alat berat untuk keperluan konstruksi bagi ACST, yang tidak lain merupakan anak usahanya sendiri (UNTR sebenarnya bisa juga masuk ke bisnis perkebunan kelapa sawit, karena perusahaan juga menjual alat-alat berat untuk perkebunan, namun itu tidak dilakukan karena bisnis kebon sawit sudah dipegang saudaranya, Astra Agro Lestari/AALI).

Lalu apa yang menyebabkan saham UNTR turun akhir-akhir ini?

Kalau kita menilik kinerja UNTR di Kuartal II 2014 kemarin yang kembali solid dimana labanya naik 41.4% (setelah pada tahun 2012 dan 2013, laba UNTR sempat turun), maka penurunan saham UNTR dari 24,000-an hingga mencapai 18,000-an pada saat ini (kemarin malah sempat menyentuh 16,850, tapi langsung naik lagi), sekilas menjadi tampak tidak bisa dijelaskan secara fundamental. However, faktanya adalah, ketika saham UNTR berada di posisi puncaknya yakni 24,000-an, maka itu berarti bahwa dia sudah naik lebih dari 30% sejak awal 2014, dan itu adalah kenaikan yang terlalu optimis mengingat sektor batubara sejatinya belum pulih benar. Dan faktanya pada harga 24,000, UNTR (berdasarkan laporan keuangannya di Kuartal II 2014) mencatatkan PER 14.1 dan PBV 2.5 kali, alias tidak bisa dikatakan murah, sekali lagi, dengan mempertimbangkan situasi sektornya. Sepertinya investor yang masuk ke UNTR ini terlalu silau dengan kinerja perusahaan di awal-awal tahun 2014, dimana UNTR sukses membukukan kenaikan laba bersih hingga diatas 40% sementara ada banyak perusahaan batubara atau perusahaan kontraktor batubara yang lain yang labanya masih nyungsep di tahun 2014 ini.

Beruntung, hingga Kuartal III barusan, UNTR masih sukses menjaga kinerja solid-nya tersebut, dimana meski perusahaan sempat membagikan dividen senilai Rp727 milyar namun ekuitasnya masih bertumbuh total 8.5% sejak awal tahun 2014, dan labanya juga masih tumbuh diatas 40%. Secara operasional, UNTR masih mengalami penurunan penjualan alat-alat berat, terutama alat-alat berat untuk tambang batubara dan perkebunan (sementara alat-alat berat untuk konstruksi dan kehutanan, volume penjualannya masih meningkat). Namun entah bagaimana caranya, nilai pendapatan perusahaan dari penjualan alat-alat berat masih bisa naik sedikit menjadi 17.3 trilyun hingga Kuartal III 2014, dibanding Rp17.0 trilyun pada periode yang sama tahun 2013.

Dan yang terutama menyebabkan laba UNTR kembali naik, adalah karena PAMA sebagai anak usahanya sukses dalam hal meningkatkan efisiensi pekerjaannya sebagai kontraktor tambang. Hingga Kuartal III 2014, PAMA telah menggali dan mengangkat setidaknya 89.9 juta ton batubara, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun 2013 sebanyak 78.5 juta ton, padahal volume overburden (lapisan tanah yang diangkut agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil) turun dari 639.5 menjadi 605.5 juta bcm. Ini artinya PAMA menggali lebih sedikit, tapi menghasilkan batubara lebih banyak (stripping ratio-nya menjadi lebih kecil, penjelasannya dibawah). Alhasil UNTR mencatatkan laba Rp5.4 trilyun dari bisnis kontraktor tambang batubaranya, atau meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp3.4 trilyun.

(catatan: kalau anda masih bingung soal apa itu bedanya tambang batubara dengan kontraktor tambang batubara, baca penjelasannya disini. Intinya sih, perusahaan tambang batubara adalah pemilik dari batubara hasil galian. Sementara perusahaan kontraktor tambang batubara, mereka cuma menggali batubara milik perusahaan lain, kemudian dibayar untuk pekerjaan menggalinya tersebut).

Sementara untuk bisnis tambang batubara dan konstruksi, belum banyak yang bisa diceritakan karena UNTR masih mengalami kerugian (meski tidak signifikan) dari bisnis tambang batubaranya, dikarenakan penurunan harga jual batubara. Untuk pendapatan dari bisnis konstruksi juga mungkin baru akan dikonsolidasikan pada tahun depan, karena ACST baru diakuisisi pada tanggal 10 Oktober kemarin. Beruntung, sekitar 60 – 65% pendapatan UNTR berasal dari kontraktor batubara, dan justru bisnis kontraktor batubara inilah yang sedang tumbuh pesat setelah PAMA sukses meningkatkan efisiensi kinerjanya. Sekedar informasi, pendapatan perusahaan kontraktor tambang batubara tidak tergantung pada harga jual dari batubara, melainkan tergantung stripping ratio-nya, yakni perbandingan antara jumlah batubara yang digali dengan jumlah lapisan tanah yang dipindahkan. Semakin kecil angka stripping ratio tersebut, maka semakin sedikit volume tanah yang harus dipindahkan untuk jumlah batubara yang sama, sehingga biaya penggalian yang harus dikeluarkan si kontraktor menjadi semakin sedikit pula (sehingga margin labanya menjadi semakin besar). Soal batubaranya dijual pada harga berapa, itu menjadi urusan perusahaan pemilik tambang batubara-nya, bukan lagi urusan PAMA sebagai kontraktor.

Jadi karena itulah, penulis menganggap bahwa UNTR masih menawarkan prospek yang menarik (termasuk untuk jangka panjang), terutama, sekali lagi, karena perusahaan ini dikelola oleh manajemen sekelas Grup Astra. Malah jika nanti harga batubara akhirnya pulih kembali (dan saya pribadi termasuk yang percaya bahwa itu akan terjadi suatu hari nanti), maka UNTR bisa memaksimalkan konsesi-konsesi batubaranya, sehingga pendapatannya pun akan meningkat signifikan. Beberapa investor mungkin khawatir dengan kabar bahwa UNTR telah melakukan restrukturisasi beberapa anak-anak usahanya, dimana hal itu dikhawatirkan akan mengganggu kinerja perusahaan, dan itu sebabnya sahamnya kemudian turun. Namun faktanya, restrukturisasi tersebut justru bertujuan agar perusahaan lebih fokus dalam menjalankan bisnis kontraktor tambang batubara.

Jadi restrukturisasinya seperti ini: UNTR memiliki anak usaha bernama PT Tuah Turangga Agung (TTA), yang merupakan pemilik dari enam konsesi tambang batubara (jadi UNTR, melalui TTA, adalah pemilik dari enam konsesi tambang). Kemudian, melalui PAMA yang notabene merupakan perusahaan kontraktor tambang (bukan tambang batubara itu sendiri), UNTR juga memiliki empat konsesi lagi (jadi totalnya sepuluh konsesi). Agar PAMA tetap fokus pada kegiatan usahanya sebagai kontraktor tambang, maka keempat konsesi tersebut kemudian dialihkan semuanya ke TTA (‘restrukturisasi’), sehingga UNTR tetap memiliki sepuluh konsesi tambang batubara, namun kali ini semuanya melalui TTA, bukan PAMA. Dengan demikian, PAMA bisa kembali fokus pada usaha kontraktor tambang batubara, sementara untuk urusan tambang batubara, UNTR bisa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada manajemen TTA. So, ndak ada masalah bukan? Kata 'restrukturisasi' mungkin berkonotasi negatif jika itu dilakukan oleh Grup Bakrie, but don’t worry, we talk about ASTRA here.

Okay, jadi apakah dengan demikian UNTR pada harga saat ini (18,375) layak buy?

Well, sebelum menjawab pertanyaan diatas, maka pertama-tama kita pelajari dulu ‘karakter’ saham blue chip seperti UNTR ini. Sebagai perusahaan yang 1. Punya nama besar, 2. Merupakan market leader di bidangnya, 3. Merupakan bagian dari grup usaha sebesar Astra, 4. Memiliki track record kinerja yang cemerlang dalam jangka panjang, dan 5. Sahamnya sangat likuid, maka adalah wajar jika saham UNTR dihargai relatif mahal oleh para investor. Pada tahun 2011 lalu dimana bisnis tambang batubara sedang jaya-jayanya, UNTR sempat terus naik hingga menyentuh level 33,000, yang mencerminkan PBV lebih dari 5 kali (berdasarkan posisi ekuitas perusahaan ketika itu). Sementara pada waktu-waktu yang lain, PBV UNTR biasanya berada di rentang 2.5 – 3.5 kali.

However, pada waktu-waktu tertentu terkadang UNTR turun hingga valuasinya tidak lagi semahal biasanya. Misalnya ketika tahun 2013 lalu dimana laba UNTR memang turun, atau seperti pada saat ini, ketika UNTR dihantam berbagai sentimen negatif terkait restrukturisasi tadi, dan juga pelemahan harga batubara. Padahal yaa, kinerja perusahaannya bisa anda lihat sendiri: No problemo!

Jadi kalau bagi penulis pribadi kesimpulannya cukup jelas: It’s an opportunity. You know, di BEI nggak setiap hari ada saham blue chip murah seperti ini, dan UNTR adalah saham yang penulis admire sejak dulu namun selalu nggak jadi beli karena harganya selalu kemahalan (sementara pada tahun 2013 lalu, laba perusahaan masih turun). Sementara kalau berkaca pada pengalaman dimana saham-saham blue chip berfundamental bagus lainnya seperti Perusahaan Gas Negara (PGAS), Unilever Indonesia (UNVR), hingga Jasa Marga (JSMR) yang juga sempat turun sangat dalam karena sentimen negatif tertentu namun toh pada akhirnya naik lagi (karena kinerja perusahaannya sama sekali gak kenapa-napa kok), maka seharusnya demikian pula dengan UNTR! Gak usah jauh-jauh, kalau nanti UNTR ini balik lagi ke 22,000 saja, maka gain-nya sudah mendekati 20% bukan? Jadi sekali lagi, it’s an opportunity. Apalagi kita tahu bahwa Pemprov DKI sedang berencana untuk menambah armada bis Transjakarta merk Scania, dimana UNTR adalah distributor utama Scania Bus di Indonesia.

Hanya saja, sudah tentu, setiap peluang selalu diiringi dengan faktor risiko. UNTR mungkin bisa lanjut turun, atau paling tidak tertahan pada level harganya saat ini, jika harga batubara kembali tertekan (kita tidak pernah tahu soal itu, dan bahkan Warren Buffett tidak pernah bisa memprediksi harga komoditas). Tapi diluar itu, well, this ‘blue thing’ is too beautiful to be ignored.

PT United Tractors, Tbk (UNTR)
Rating Kinerja pada Kuartal III 2014: A
Rating Saham pada 18,375: AA

Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Penulis sedangg dalam posisi memegang UNTR di harga rata-rata 18,025. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Sumber: Indonesia Value Investing

Read more...

Anggota baru: Eka Devi Wulandari mengajak menyanyi dan riset pasar


Nama (Name) : Eka Devi Wulandari
Nama panggilan (Nickname) : Eka

Jurusan di ITB : Manajemen Rekayasa Industri
Jenjang S1 / S2 / S3 : S1
Angkatan Tahun : 2011

Personal Web/URL/Blog : http://
Foto / Alamat Facebook : http://www.facebook.com/ekadevi.cloudelf
Rekaman Video / Film : https://www.youtube.com/channel/UC-ebRsTl767pgLz_DmxiqqQ (dengan user name: Eka Devi Wulandari)

Profesi (Profession) : mahasiswa tingkat akhir
Keahlian (Expertise) : marketing, market research 

Alamat Rumah (Home Adr) : Jalan Awiligar Gang Bojong Mekar RT 03 RW 14 No 7
Kota/Negara (City/Country) : Bandung
Perusahaan (Company) : belum bekerja

Alamat Kantor (Office Adr) : -
Kota/Negara (City/Country) : -
Company Web/URL           : http:// 

Tempat/Tanggal Lahir (Place/Date of Birth) : Bandung, 29 Desember 1993
Umur (Age) : 21 tahun
Hobby/Life Style : bernyanyi

Ceritakan 1 pengalaman berkesan semasa di kampus ITB : bergabung sebagai salah satu asisten akademik dari Laboratorium Perencanaan dan Optimasi Sistem Industri (LPOSI) di Departemen Tekni Industri ITB 

Ceritakan juga 1 pengalaman berkesan sesudah berkarir : belum memiliki pengalaman

Interest (ketertarikan, aspirasi, minat) join : ingin memperoleh informasi serta sharing pengalaman dari alumni ITB yang lain 




Read more...

Contoh Value Stock: Petrosea

Contoh Value Stock: Petrosea

(Ditulis Desember 2013)

Beberapa dari anda mungkin sudah mengetahui bahwa Bapak Lo Kheng Hong, investor perorangan paling terkenal di Indonesia, memegang saham Petrosea (PTRO) pada jumlah yang cukup signifikan, yakni 65.9 juta lembar saham atau setara dengan 6.5% total saham beredar perusahaan. Jika LKH membeli PTRO pada harga yang sama dengan harga PTRO saat ini, yakni 1,290 per saham, maka beliau telah menginvestasikan sedikitnyaRp85 milyar pada anak usaha Grup Indika ini. Meski dana tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil dari total aset LKH, tapi untuk ukuran investor retail manapun dana sebesar itu jelas tidak bisa disebut sebagai uang receh. Pertanyaannya sekarang, apa bagusnya sih PTRO ini sampai-sampai LKH cukup pede untuk membelinya sebanyak itu?


Penulis sekitar setahun yang lalu pernah membahas PTRO ini (baca "Petrosea", Agustus 2012), dan ketika itu kesimpulannya adalah bahwa perusahaan ini termasuk perusahaan yang bagus dari sisi kinerja operasional dan juga pertumbuhannya dalam jangka panjang (PTRO adalah perusahaan jasa kontraktor tambang batubara). Tapi disisi lain manajemennya agak kurang fair dengan ‘memaksa’ PTRO untuk membayar bunga utang obligasi yang diterbitkan oleh induknya, Indika Energy (INDY). Jadi jika kita mengasumsikan bahwa Grup Indika bisa saja membuat PTRO jadi merugi sewaktu-waktu, maka sahamnya pun gak akan kemana-mana.

Namun masih ada satu lagi faktor yang sangat menarik dari PTRO ini, yakni valuasinya pada saat ini, yang sangat rendah. Mari kita lihat, berdasarkan laporan keuangan terakhirnya periode Kuartal III 2013, dan berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 1,290, PER PTRO tercatat 5.4 kali, dan PBV 0.6 kali. Dividend yield-nya? Pada tahun 2012 lalu, PTRO membagikan dividen US$ 0.021 atau setara Rp230 per saham (menggunakan kurs Rp11,000 per US Dollar), sehingga yield-nya, berdasarkan harga sahamnya saat ini adalah 17.8 persen! Jadi kurang murah apa lagi coba?

However pada tahun 2013 ini nilai dividen yang dibayarkan PTRO berkurang menjadi hanya US$ 0.007 per saham, seiring dengan menurunnya perolehan laba bersih perusahaan. Namun dari sisi PER dan PBV, terutama PBV-nya yang cuma 0.6 kali, PTRO tetap sangat menarik. Dan bagi value investor manapun, terutama para bargain hunterseperti LKH, faktor valuasi ini menyebabkan PTRO terlalu bagus untuk diabaikan.

Nah, seperti biasa, berikut adalah beberapa poin terbaru yang perlu anda ketahui tentang PTRO ini, jika memang anda berminat untuk mengikuti jejak sang master:

1. Saham PTRO memiliki beta 0.19. Artinya pergerakan saham ini nyaris sama sekali tidak dipengaruhi oleh pergerakan IHSG, sehingga saham ini layak dikoleksi jika anda termasuk yang masih khawatir bahwa IHSG akan turun lagi. Satu-satunya saham yang memiliki beta lebih rendah, sejauh riset penulis, adalah Unilever Indonesia (UNVR) dengan beta 0.18.

2. Seperti umumnya perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya, PTRO mencatat penurunan laba bersih 54.9% pada Kuartal III 2013, sehingga ROE-nya pun turun menjadi tinggal 11.2%. Meski kinerja PTRO tampak buruk, namun intinya perusahaan masih mampu mencetak laba, sehingga ekuitasnya masih bisa naik sebesar 5.1% dalam sembilan bulan terakhir, dan itu sudah dikurangi dividen. Jika anda termasuk yang optimis bahwa sektor batubara tidak akan selamanya tenggelam seperti sekarang, maka ketika nanti sektor batubara pada akhirnya pulih, kinerja PTRO juga seharusnya tidak akan kesulitan untuk melaju kencang kembali, dan demikian pula dengan harga sahamnya.

3. Pada Mei 2013, PTRO resmi menerima tambahan pinjaman dari Indika Capital Resources (ICR), yang merupakan sesama anak usaha dari INDY, sehingga utang PTRO ke ICR meningkat menjadi US$ 140 juta, dan ini adalah bentuk cost transfer dari INDY ke PTRO (INDY menerbitkan sejumlah obligasi di Singapura, dan menyuruh PTRO untuk membayar bunganya). Hasilnya pada Kuartal III 2013, beban bunga utang yang harus dibayar PTRO ke ICR meningkat dari US$ 10 menjadi 16 juta. Jika tidak ada kesepakatan tambahan utang ini, maka laba bersih PTRO seharusnya tercatat sekitar US$ 23 juta dan bukannya hanya US$ 17 juta.

Poin ketiga inilah yang membuat saham PTRO menjadi agak berisiko, sebab Grup Indika sebagai pemiliknya bisa saja menaikkan kembali beban bunga pinjaman tadi sehingga akhirnya menyebabkan laba bersih PTRO berkurang signifikan, bahkan mungkin hingga minus alias rugi. Tapi kabar baiknya, perusahaan berencana untuk membayar sebagian utangnya ke ICR sebesar US$ 115 juta pada November 2013, sehingga di laporan keuangannya untuk periode Kuartal IV 2013 mendatang, kemungkinan utang tersebut akan berkurang menjadi tinggal US$ 25 juta.

4. Tapi diluar faktor utangnya ke ICR, neraca PTRO terbilang wajar serta bersih dari utang (ada utang bank jangka pendek sebesar US$ 12.5 juta, tapi itu bukan jumlah yang serius). Dan yang paling menarik adalah struktur modal bersihnya, dimana dari ekuitas PTRO sebesar US$ 197 juta, sebagian besar yakni US$ 163 juta diantaranya merupakan saldo laba alias akumulasi dari laba bersih perusahaan dimasa lalu, padahal PTRO selama ini terkenal royal dalam membagikan dividen. Artinya? PTRO ini perusahaan yang bagus dengan track record jangka panjang yang mentereng, alias sudah sangat mapan dan sudah tidak memerlukan bantuan pendanaan apapun lagi! Bandingkan dengan Delta Dunia Makmur (DOID), misalnya, yang sampai sekarang masih harus berjuang untuk mengatasi utangnya yang teramat sangat besar.

Terakhir, dan ini mungkin merupakan alasan utama kenapa LKH memilih masuk ke PTRO ini, adalah karena perusahaan memiliki aset riil dengan nilai yang jauh lebih tinggi dibanding harga sahamnya pada saat ini. Pada Kuartal III 2013, PTRO memiliki dana cash sebesar US$ 52 juta, dan dana cash yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta. Jadi totalnya US$ 169 juta, dimana semuanya berbentuk deposito bank dengan tingkat bunga 6.25 – 8% per tahun untuk deposito Rupiah, dan 2.3% per tahun untuk deposito Dollar.

Nah, jika kita pakai kurs katakanlah Rp11,000 per US Dollar, maka PTRO memiliki aset berupa uang tunai sebesar Rp1.9 trilyun, all fresh in several bank accounts.

Lalu bagaimana dengan utang PTRO sebesar US$ 140 juta ke ICR? Jika PTRO menjual  aset-aset non tunai kemudian membayar lunas seluruh utangnya, termasuk utang ke ICR, maka masih akan ada sisa uang tunai senilai kurang lebih Rp300 milyar. Tapi untuk pendekatan konservatif, maka anggap saja bahwa Rp300 milyar ini tidak ada (aset-aset tadi semuanya dijual murah, yang penting cukup buat bayar utang), sehingga satu-satunya aset yang dimiliki PTRO adalah dana cash sebesar Rp1.9 trilyun tadi.

Dan.. berapa uang yang harus anda keluarkan untuk memperoleh deposito bank senilai Rp1.9 trilyun tersebut? Cuma Rp1.3 trilyun! Karena itulah nilai pasar PTRO pada saat ini berdasarkan harga saham Rp1,290. Jadi dengan demikian kita punya margin of safety sekitar Rp600 milyar disini, tentunya jika anda memutuskan untuk mengakuisisi 100% saham perusahaan. Bagi LKH sendiri, karena beliau hanya mengambil 6.5% saham PTRO, maka margin of safety-nya adalah sekitar Rp39 milyar.

Karena itulah, PTRO memang luar biasa menarik bagi seorang value investor. Poinnya disini adalah jika aset-aset PTRO merupakan aset tidak lancar yang sulit untuk dijual/dilikuidasi jika terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan (misalnya perusahaannya bangkrut), maka PBV PTRO yang kurang dari 1 kali mungkin tidak terlalu menarik. Tapi jenis aset yang dipegang PTRO disini adalah aset yang bisa dicairkan sewaktu-waktu, sehingga pada skenario terburuk sekalipun (perusahaan bangkrut), PTRO masih memiliki nilai jual yang signifikan.

Tapi seperti yang sudah kita bahas diatas, PTRO ini adalah perusahaan yang mapan yang tidak sedang dililit masalah utang, jadi kenapa juga dia harus bangkrut? Dalam dua tahun terakhir ini kinerja perusahaan memang menurun seiring dengan sektornya yang lesu, tapi jika nanti sektor batubara pulih lagi, maka PTRO seharusnya juga tidak akan kesulitan untuk langsung tancap gas lagi.

Meski memang, satu hal lagi yang perlu dicatat disini adalah, aset tunai milik PTRO yang berupa deposito yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta tadi, itu hanya akan digunakan untuk membayar pokok dari pinjaman perusahaan terhadap ICR (makanya disebut ‘dibatasi penggunaannya’). Jadi memang dalam skenario terburuk tadi, dana US$ 117 juta ini akan langsung menguap karena digunakan untuk membayar utang ke ICR, sehingga sisanya adalah deposito senilai US$ 52 juta dan beberapa aset lainnya berupa piutang usaha, pajak dibayar dimuka, kepemilikan saham di beberapa anak usaha, serta sejumlah armada alat-alat berat. Jika dilihat dari sini, maka margin of safety PTRO ini mungkin bisa lebih kecil dari Rp600 milyar, karena perusahaan tentunya akan mengalami sedikit kesulitan untuk segera melikuidasi aset-asetnya, terutama aset yang berupa armada alat-alat berat. Tapi dua hal yang perlu dicatat disini adalah: 1. PTRO hanya perlu melikuidasi asetnya jika terjadi skenario terburuk, yakni perusahaannya bangkrut, dan 2. Margin of safety sebesar Rp600 milyar tadi mungkin akan berkurang, tapi tidak akan sampai nol sama sekali, karena angka Rp600 milyar tersebut sebelumnya juga sudah dikurangi Rp300 milyar (karena alasan konservatif seperti yang sudah kita bahas diatas). Catat pula bahwa margin of safety tersebut dihitung berdasarkan kepemilikan aset perusahaan pada saat ini, atau dengan kata lain, margin of safety tersebut dihitung berdasarkan asumsi bahwa kedepannya, PTRO tidak akan mampu meraih laba bersih sama sekali. Dan penulis kira ini adalah salah satu asumsi paling konservatif yang pernah ada.


Armada alat-alat berat milik PT Petrosea

Jadi kesimpulannya, jelas bahwa LKH masuk ke PTRO karena satu alasan sederhana: Sahamnya murah dan menawarkan keuntungan yang lumayan, bahkan jika kita mengambil skenario terburuk yang mungkin terjadi pada perusahaan. Sementara jika sektor batubara benar-benar pulih sesuai harapan, maka keuntungan yang diperoleh bisa berkali-kali lipat.

However, seperti halnya LKH memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh keuntungan signifikan dari saham-saham lainnya, maka untuk PTRO ini beliau sudah pasti tidak berharap bahwa ia akan bisa menjualnya besok sore untuk memperoleh keuntungan 100%. Dan karena LKH mengambil 65.9 juta lembar saham PTRO, padahal saham PTRO yang dipegang investor publik cuma 305 juta lembar, maka bisa dipastikan kedepannya PTRO ini bakalan jadi nggak likuid, apalagi jika para investor yang lain juga melakukan aksi hold, sehingga PTRO praktis sangat tidak cocok untuk trading. Jika anda berharap bisa menjualnya dalam waktu kurang dari 1 tahun, then this stuff is not for you.

Sementara dalam situasi pasar yang lagi down seperti sekarang, maka jujur saja ada banyak saham-saham lain yang juga menarik terutama dari kalangan blue chip, dimana saham-saham ini bisa dipastikan bakal langsung naik jika nanti indeks pada akhirnya pulih juga, sementara PTRO ini sama sekali tidak bisa diprediksi kapan dia akan naik (jika IHSG naik, dia belum tentu akan ikut naik). Tapi berhubung kita tentunya juga nggak tahu kapan IHSG bakal pulih, atau malah turun lagi, maka PTRO ini sangat cocok sebagai pilihan alternatif.

PT Petrosea, Tbk.
Rating Kinerja pada Q3 2013: BBB
Rating saham pada 1,290: AAA


Sumber: Indonesia Value Investing

Read more...

Petrosea


(Ditulis Agustus 2012)

BUMI (Bumi Resources) gonjang ganjing lagi? Peduli amat! Untuk pekan ini penulis lebih memperhatikan Petrosea (PTRO), yang menjadi menarik untuk diperhatikan pasca penurunannya yang sangat tajam akhir-akhir ini, justru setelah dia di-stocksplit dengan rasio 1 : 10 pada Maret lalu. Ketika artikel ini ditulis, PTRO kembali tertekan 3.49% ke posisi 2,075, sehingga jika dihitung sejak enam bulan terakhir, PTRO sudah terkoreksi lebih dari setengahnya, yakni 52.02%. Secara fundamental, penurunan PTRO sulit dijelaskan mengingat kinerjanya pada First Half 2012 (1H12) kemarin cukup bagus dengan mencatat laba bersih US$ 21 juta, naik 8.6% dibanding 1H11, dan itu mencerminkan ROE 26.2%. So, what happen?


PTRO dulunya merupakan perusahaan kontraktor tambang migas yang berdiri pada tahun 1972, dan listing di BEI sejak tahun 1990. Pada tahun 2009, Grup Indika melalui Indika Energy (INDY) mengakuisisi PTRO, dan PTRO secara resmi menjadi salah satu anak perusahaan INDY. PTRO kemudian dialih fungsikan menjadi kontraktor tambang dan penyedia jasa engineering bagi tiga perusahaan tambang batubara yang dimiliki oleh INDY, yakni PT Kideco Jaya Agung, PT Santan Batubara, dan PT Mitra Energi Agung, namun dengan tetap menerima orderan dari perusahaan tambang batubara lainnya (yang tidak dimiliki oleh INDY). Pada 1H12, PTRO mencatat pendapatan US$ 174 juta, dimana US$ 65 juta diantaranya berasal dari Kideco, Santan, dan Mitra Energi, dan selebihnya dari pihak ketiga.
Terkait kepemilikan INDY atas Santan, INDY memegang 50% saham Santan melalui PTRO, sehingga Santan adalah juga merupakan unit usaha dari PTRO. Pemilik lain dari Santan adalah Harum Energy (HRUM), yang juga memegang 50% sahamnya.

Kembali ke Petrosea. Terkait penurunan sahamnya belakangan ini, ceritanya ternyata lumayan panjang. Jadi ketika proses akuisisi INDY terhadap PTRO selesai sepenuhnya pada Agustus 2009, total jumlah saham yang diambil alih (termasuk yang melalui proses tender offer) terbilang sangat besar, yakni 98.55% atau nyaris 100%. Mengingat bahwa PTRO adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa, maka BEI memerintahkan INDY untuk refloat alias menjual saham PTRO ke publik, minimal sebanyak 16.6% dari total modal disetor PTRO. Dan INDY melakukan refloat tersebut secara bertahap, hingga akhirnya pada tanggal 24 Februari 2012, INDY selesai me-refloat saham PTRO dengan melepas total 28.75% saham PTRO ke publik, sehingga kini INDY hanya memegang 69.8% saham PTRO. Secara keseluruhan, INDY telah melepas total hampir 29 juta lembar saham PTRO (tepatnya 28,997,000 lembar saham, ini adalah jumlah saham sebelum stocksplit), termasuk saham opsi sebanyak 3.8 juta lembar yang dibeli oleh dua fund asing, yakni Citigroup dan Macquaire Capital.

Hebatnya, berdasarkan keterbukaan informasinya di Bursa Singapura, INDY bisa meraupgross cash US$ 116 juta dari proses refloat saham PTRO tersebut, yang setelah dipotong fee broker, bersihnya sekitar US$ 113.6 juta. Yap, INDY meraup US$ 113.6 juta untuk melepas 28.75% saham PTRO. Padahal ketika INDY mengakuisisi saham PTRO, biaya yang dikeluarkan cuma US$ 83.8 juta untuk memperoleh 81.95% saham PTRO. So, kira-kira INDY cuan berapa dari trading saham PTRO ini? Silahkan anda hitung sendiri. Yang jelas, hal ini menunjukkan bahwa INDY adalah bandar ulung yang mampu meraup ‘bonus tambahan’ dari kegiatan investasinya, dalam hal ini akuisisinya terhadap PTRO.

Anyway, karena terdapat sekian juta lembar saham PTRO yang dibuang ke publik, maka penurunan saham PTRO belakangan ini menjadi bisa dijelaskan. Termasuk, aksi stocksplit kemarin juga kemungkinan salah satunya bertujuan untuk memancing para trader dan investor untuk membeli saham PTRO ini, namun itu tetap tidak mencegahnya untuk terus terkoreksi, hingga akhirnya valuasinya mulai menjadi tampak murah (PER PTRO cuma 5.6 kali pada harga 2,075).

Mungkin anda bertanya, apakah hal yang sama (refloating saham) juga terjadi, atau akan terjadi pada anak usaha INDY lainnya yang juga terdaftar di bursa, yakni PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)? Penulis belum mengeceknya, namun kemungkinan sih nggak ya, soalnya INDY saat ini memegang 51% saham MBSS, yang jika dikurangi lagi maka itu bisa menyebabkan INDY tidak lagi menjadi pemegang mayoritas MBSS. Sementara kepemilikan publik atas saham MBSS juga sudah cukup besar, yakni 23.9%, sehingga INDY tidak memiliki kewajiban untuk me-refloat saham MBSS ke publik.

Kembali lagi ke Petrosea. Sekarang, bagaimana prospeknya? Agar sistematis, penulis akan menjelaskan hal-hal yang sebaiknya perlu anda ketahui terkait PTRO ini secara poin per poin. Okay, here we go.

1. Secara keseluruhan, PTRO memiliki tiga unit usaha, yakni 1. Kontraktor pertambangan batubara, 2. Jasa logistik pelabuhan, engineering, dan pengolahan air bersih, dan 3. Jasa engineering dan konstruksi untuk tambang minyak dan gas. Pada 1H12, unit usaha kontraktor tambang batubara menyumbang 92.4% dari total pendapatan perusahaan, alias sangat dominan, sehingga praktis PTRO tidak memiliki banyak cerita untuk unit usaha diluar kontraktor tambang batubara.

2. PTRO memiliki penempatan investasi pada dua perusahaan, yakni 50% saham Santan Batubara (seperti yang sudah dibahas diatas), dan 47% saham PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri, sebuah perusahaan air minum. Pada 1H12, PTRO memperoleh bagian laba bersih sebesar total US$ 3.6 juta dari kedua perusahaan tersebut.

3. Terkait pertumbuhan perusahaan, pada akhir tahun 2011 lalu PTRO memiliki (atau menyewa) total 29 fleet (armada) alat-alat berat untuk operasional tambang batubara. Angka tersebut tumbuh sekitar 50% dibanding jumlah fleet pada akhir tahun 2010, yakni 19 fleet (catatan: satu fleet alat-alat berat terdiri dari satu unit excavator, lima hingga delapan unit dam truk, dan beberapa alat berat pembantu lainnya). Dari sisi volume overburden, sepanjang tahun 2011, PTRO telah memindahkan overburden sebanyak 116 juta BCM, tumbuh 43% dibanding tahun 2010. Untuk tahun 2012 ini, perusahaan berencana menambah sekitar 10 - 15 fleet alat-alat berat, dan mentargetkan kenaikan volume overburden sebesar 40 - 50% dibanding tahun 2011.

Btw sekedar catatan, salah satu perbedaan mendasar antara perusahaan tambang batubara dengan perusahaan kontraktor tambang batubara adalah dilihat dari indikator pertumbuhannya. Pertumbuhan perusahaan tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan jumlah batubara yang diproduksi. Sementara pertumbuhan perusahaan kontraktor tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan volume overburden, yaitu lapisan tanah yang digali agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil. Jika jumlah batubara biasa dihitung menggunakan satuan ton, maka volume overburden dihitung menggunakan satuan bank cubic meter (BCM). Kalau pake data dari salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia, yaitu Kaltim Prima Coal, maka kontraktor tambang harus menggali rata-rata 9 BCM overburden untuk memperoleh 1 ton batubara.

4. Terkait kontrak yang diperoleh perusahaan, sepanjang enam bulan pertama 2012, PTRO telah menandatangani setidaknya dua kontrak anyar senilai masing-masing US$ 188 dan 471 juta, dengan Santan Batubara dan PT Gunung Bayan Pratama Coal, dimana keduanya merupakan pelanggan lama perusahaan (dan Santan sendiri memang separuhnya dimiliki oleh PTRO). Kalau dilihat dari sini, maka target kenaikan volume overburden sebesar 40 - 50% yang dicanangkan PTRO terbilang realistis. Hingga First Half 2012, PTRO sendiri sudah mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 55.2%.

5. Sayangnya meski pendapatan perusahaan naik signifikan, namun laba bersih PTRO hanya naik 8.7%, dan laba operasionalnya juga hanya naik 11.2%, sehingga jelas bahwa masalahnya terletak di beban operasional. Dan memang, beban operasional PTRO meningkat tajam dari US$ 4.6 menjadi 19.1 juta, yang terutama disebabkan oleh penurunan bagian laba bersih dari perusahaan asosiasi (Santan dan Tirta), kenaikan beban bunga, dan kenaikan kerugian akibat pelepasan aset. Kalau dilihat dari sisi ini, maka sepertinya Grup Indika sebagai pemilik PTRO tidak begitu peduli soal apakah laba PTRO akan naik atau turun, karena yang lebih penting adalah peningkatan laba bersih dari INDY, yang merupakan induk dari seluruh unit usaha Grup Indika di bidang tambang.

6.  Salah satu penyebab kenaikan beban operasional PTRO adalah karena kenaikan beban bunga, yang disebabkan oleh pinjaman jangka panjang sebesar US$ 85 juta dari pihak berelasi, dalam hal ini Indika Capital Resources (ICR) yang merupakan anak usaha lainnya dari INDY. Ini adalah bentuk cost transfer dari INDY kepada PTRO, mengingat bahwa ICR menggunakan bunga yang dibayarkan oleh PTRO untuk menjamin/membayar bunga obligasi yang diterbitkan oleh INDY. Simpelnya, PTRO harus membayar beban bunga yang ditanggung induknya tersebut. Pada 1H12, INDY mencatat nilai utang dari tiga kali penerbitan obligasi sebesar total US$ 495 juta.

7. PTRO membayar bunga sebesar 9.85% per tahun kepada ICR, dan jumlah pinjaman yang diberikan ICR kepada kepada PTRO akan dinaikkan pada tahun-tahun mendatang hingga mencapai US$ 140 juta. Artinya? Bunga yang harus dibayarkan oleh PTRO kepada ICR akan meningkat kembali. Pada 1H12, PTRO membayar beban bunga US$ 6 juta. Dan jika beban bunga yang harus dibayar PTRO ini terus naik hingga mencapai angka yang substansial, katakanlah US$ 10 - 20 juta, maka itu berpotensi menurunkan laba bersih PTRO, mengingat laba bersih PTRO sendiri hanya US$ 21 juta.

8. DER PTRO tercatat 2.0 kali, dan ini memang tidak begitu bagus, sehingga meski ROE PTRO mencapai 26.2%, namun ROA-nya cuma 8.8%. Akan tetapi perlu diingat bahwa utang PTRO seharusnya jauh lebih kecil jika tidak ada utang dari ICR. Diluar utang dari ICR, sebagian besar utang PTRO adalah utang usaha dan utang sewa alat-alat berat, yang tidak mengandung bunga sehingga tidak berpengaruh negatif pada laba bersih perusahaan. Jadi dalam hal ini, penulis tetap menganggap bahwa PTRO merupakan perusahaan kontraktor tambang yang cukup profitable.

9. Penurunan harga batubara belakangan ini tidak atau belum berpengaruh terhadap kinerja PTRO sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara, setidaknya jika dilihat dari sisi pendapatan yang masih mampu naik signifikan. Namun bagian laba bersih PTRO dari PT Santan Batubara memang berkurang sekitar 50%, dan ini sedikit banyak turut berpengaruh terhadap perolehan laba bersih PTRO.

10. Dari sisi ukuran, PTRO bukanlah perusahaan kontraktor tambang besar. Empat besar perusahaan kontraktor tambang di Indonesia adalah Pamapersada (anak usaha United Tractors/UNTR), Bukit Makmur (anak usaha Delta Dunia Makmur/DOID), Thiess, dan Darma Henwa (DEWA). Namun posisi PTRO sebagai anak usaha dari INDY terbilang menguntungkan bagi perusahaan, mengingat bahwa INDY merupakan one of the largestintegrated mining service company in Indonesia.

11. Dari sisi kualitas kinerja dan valuasi, saham PTRO pada harganya saat ini adalah yang paling menarik dibanding UNTR, DOID, dan DEWA. Tapi dari sisi manajemen, UNTR masih merupakan yang terbaik (Astra punya bro!). Namun jika dibanding Northstar (pemilik DOID) atau Bakrie (pemilik DEWA), maka cara kerjanya Grup Indika sebagai pemilik PTRO masih lebih fair terhadap investor retail.

Kesimpulannya, PTRO boleh disebut sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara yang konservatif dari sisi operasional, namun agak complicated dari sisi finansial, yang terutama karena dikerjai oleh induknya sendiri, INDY. Tidak hanya dari sisi kinerja keuangan, INDY bahkan juga meraup keuntungan dari transaksi jual beli saham PTRO, seperti yang sudah kita bahas diatas. Tapi untungnya financial engineering-nya Grup Indika tidak separah grup usaha lainnya yang sudah disebut diatas. Dan kendali INDY atas PTRO otomatis secara membuatnya menjadi perusahaan yang memiliki akses lebih kepada banyak perusahaan tambang batubara, sehingga PTRO seharusnya tidak kesulitan dalam memperoleh klien ataupun kontrak baru untuk terus meningkatkan pendapatan. Tapi sekali lagi seperti yang sudah dibahas diatas, kenaikan pendapatan bagi PTRO tidak selalu berarti kenaikan laba bersih. Disisi lain, saham PTRO pada saat ini merupakan yang paling menarik dibanding semua saham perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya di bursa, baik dilihat dari sisi kinerja perusahaan maupun valuasi sahamnya.

So, bagaimana rekomendasi atas sahamnya? Ya kalau menurut penulis sih, coba tunggu sampai PTRO ketemu rebound-nya lah. Mengingat bahwa belakangan ini harga minyak mulai naik lagi, dan biasanya harga batubara juga akan menyusul, maka itu akan menjadi sentimen positif bagi PTRO. Tapi bagi penulis sendiri yang kurang sreg dengan gaya pengelolaan perusahaan dari Grup Indika, maka PTRO ini nggak cocok buat dikoleksi kalau tujuannya untuk investasi long term.


PT Petrosea Tbk (PTRO)
Rating kinerja pada 1H12: A
Rating saham pada 2,075: A



Sumber: Indonesia Value Investing

Read more...

Prospek IPO saham PP Properti pada Mei 2015

Kamis, 07 Mei 2015





Pada bulan April 2014 lalu, Wijaya Karya (WIKA), salah satu perusahaan BUMN di bidang konstruksi di Indonesia, meng-IPO-kan salah satu anak usahanya yaitu Wijaya Karya Beton (WTON), dimana WTON sukses meraup tambahan modal senilai Rp1.2 trilyun hasil dari menerbitkan 2 milyar lembar saham baru (dan menjualnya ke publik) pada harga Rp590 per saham. Mengingat nilai ekuitas WTON sebelum IPO hanya Rp680 milyar, dimana setelah dibagi 6.7 milyar lembar saham (jumlah saham WTON sebelum IPO) maka hasilnya adalah Rp102 per saham, maka cukup jelas bahwa investor publik telah membayar saham baru WTON pada harga yang sangat mahal, yakni nyaris 6 kali lipat lebih tinggi (590 berbanding 102) dibanding harga yang dibayar WIKA sebagai pemegang saham mayoritas dari WTON.

Meski demikian, mungkin karena kinerja WTON terbilang cukup baik sepanjang tahun 2014 lalu (laba perusahaan naik 33.6% dibanding tahun 2013), plus didorong oleh adanya sentimen positif terkait banyaknya rencana pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah sepanjang tahun 2014 tersebut, maka WTON tetap naik signifikan hingga sempat menembus 1,400, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding harga perdananya (meskipun belakangan mulai longsor lagi, karena memang udah gak ketulungan mahalnya).

Nah, jadi ketika BUMN konstruksi lainnya, Pembangunan Perumahan (PTPP), mengikuti jejak WIKA dengan meng-IPO-kan salah satu anak usahanya, dalam hal ini PP Properti (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja PPRO), maka perhatian investor mungkin fokus pada pertanyaan berikut: Apakah PPRO bisa mengikuti jejak WTON yang sukses mencetak gain dua kali lipat?

Karena seperti halnya WTON yang pelaksanaan IPO-nya diurus oleh empat sekuritas sekaligus (jadi tukang jualan saham IPO-nya ada banyak), maka IPO PPRO kali ini bahkan diurus oleh lima sekuritas sekaligus. Penulis awalnya heran, kenapa kok saya menerima banyak sekali email pertanyaan dari teman-teman investor soal prospek dari IPO PP Properti ini? Tapi ternyata itu karena para investor tersebut memperoleh tawaran dari sekuritasnya masing-masing untuk ikut IPO-nya. Termasuk, iklan IPO PPRO ini juga ada dimana-mana, biasanya dalam bentuk artikel ulasan ‘prospeknya’ yang ditulis para analis sekuritas di media, baik itu media cetak maupun internet (but don’t worry, penulis bisa menjamin bahwa ulasan yang sedang anda baca disini adalah sepenuhnya independensesuai pemikiran penulis sendiri).

Pendek kata, PPRO tampak menarik karena banyak yang mempromosikan, sementara perusahaannya sendiri belum tentu beneran bagus. Jika IPO PPRO hanya dipegang oleh satu sekuritas, maka mungkin IPO-nya juga tidak akan seheboh sekarang. Disisi lain, karena proses kelahiran PPRO ke Bursa Efek ini ‘dibidani’ oleh lima sekuritas sekaligus, maka peluangnya untuk sukses (baca: sahamnya naik) tetap terbilang besar kecuali jika fundamentanya memang sangat buruk, katakanlah seperti IPO GarudaIndonesia (GIAA) dulu.

Anyway, mari kita coba pelajari dulu PP Properti ini sejak awal.

Pada tahun 1991, PTPP yang sebelumnya hanya bergerak di bidang konstruksi, mulai melebarkan sayapnya dengan juga masuk ke bisnis developer properti, ketika itu dengan membangun Perumahan Otorita di Jatiluhur, Jawa Barat, kali ini dengan kapasitasnya sebagai developer pemilik proyek, bukan kontraktor. Seiring dengan berjalannya waktu, PTPP kemudian lebih banyak lagi mengerjakan proyek-proyek properti lainnya. Hingga pada tahun 2010, PTPP menjadikan portofolio properti-nya sebagai salah satu lini bisnis utama diluar konstruksi sebagai bisnis asli perusahaan. Dan pada tahun 2013, PT PP Properti (PPRO) secara resmi didirikan sebagai wadah dari unit-unit bisnis properti yang dimiliki PTPP.

Kalau melihat usia perusahaannya yang terbilang ‘kemarin sore’ maka praktis PPRO belum memiliki track record yang solid dalam jangka panjang, dimana laporan keuangannya hanya hanya ada sampai tahun 2013 karena perusahaan baru berdiri pada tahun 2013 tersebut (kalau dihitung dari tahun 1991 sejak PTPP masuk ke bisnis properti, maka PPRO ini juga baru berusia 24 tahun). Dengan nilai aset Rp2.7 trilyun pada akhir tahun 2014, maka ukuran perusahaan juga relatif kecil terutama jika dibandingkan dengan developer-developer papan atas di Indonesia. Terkait prospek pertumbuhan perusahaan kedepannya, PPRO juga tidak menawarkan prospek yang terbilang ‘wah’. Pada akhir tahun 2014, PPRO hanya memiliki landbank seluas 54 hektar yang akan dikembangkan dalam waktu 15 – 20 tahun kedepan (salah satunya dengan menggunakan dana hasil IPO-nya). Jika dibandingkan dengan landbank dari Bumi Serpong Damai (BSDE) yang mencapai lebih dari 7,000 hektar, misalnya, maka PPRO jelas gak ada apa-apanya, bahkan jika nanti perusahaan sukses menambah cadangan landbank-nya tersebut (PPRO berencana menggunakan sebagian dana hasil IPO-nya untuk membeli beberapa bidang tanah).

Meski demikian PPRO tetap memiliki keunggulan dalam posisinya sebagai anak usaha dari PTPP yang tentunya sudah cukup mapan sebagai perusahaan konstruksi, dan saham PTPP sendiri sukses naik banyak sejak IPO-nya pada tahun 2010 lalu di harga 560. Alhasil PTPP menjadi salah satu perusahaan konstruksi paling populer di Indonesia (atau minimal di tingkat investor di BEI), sehingga PPRO dengan sendirinya turut menjadi populer. Selain itu, kecilnya jumlah landbank milik perusahaan adalah karena PPRO belakangan ini lebih fokus pada pembangunan superblock, yang memang tidak membutuhkan tanah yang luas.

Dan mungkin faktor terpentingnya adalah, pada saat ini kinerja PPRO sedang dalam momentum pertumbuhan yang luar biasa karena kebetulan ada banyak proyek-proyek properti yang sudah digarap sejak tahun 2012 (ketika itu PPRO masih berstatus sebagai salah satu divisi dibawah PTPP), yang pada tahun 2014 kemarin mulai membuahkan hasil dimana laba perusahaan melonjak dibanding 2013 (persentase kenaikan secara persisnya tidak bisa dihitung karena laporan keuangan PPRO untuk tahun 2013 hanya untuk periode dua bulan, yakni November - Desember), dan seharusnya trend pertumbuhan tersebut masih akan berlanjut pada tahun 2015 ini. Per akhir tahun 2014, PPRO memiliki setidaknya 21 proyek pengembangan properti mulai dari Patria Park Hotel hingga Grand Slipi Tower, dimana ada banyak diantaranya yang sudah mulai ‘berbuah’ tapi ‘belum habis dipanen’.

Jadi berkaca pada pengalaman di WTON, maka jika pada Kuartal II 2015 nanti (PPRO akan listing perdana di BEI pada tanggal 19 Mei, sehingga perusahaan nggak akan sempat merilis LK Kuartal I 2015) PPRO kembali membukukan lonjakan laba bersih, maka sahamnya juga mungkin akan naik signifikan tak peduli meski valuasinya sudah mahal. Dalam hal ini kita tidak perlu berharap pada prospek terkait penggunaan dana hasil IPO yang diperoleh perusahaan, karena PPRO juga tentunya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar (minimal 2 – 3 tahun) untuk memberdayakan dana hasil IPO tersebut hingga menghasilkan tambahan keuntungan bagi perusahaan.

Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya? Apakah juga mahal seperti WTON dulu?

Bagi anda yang masih awam value investing, anda mungkin bingung bagaimana caranya menentukan apakah saham PP Properti ini mahal, wajar, atau murah, padahal sebenarnya sederhana saja kok. Pada IPO-nya nanti, PPRO akan melepas saham baru ke publik pada rentang harga Rp185 – 350 per saham. Sebelum IPO, nilai ekuitas PPRO tercatat Rp1.0 trilyun, sementara jumlah sahamnya adalah 9.1 milyar lembar. Maka, nilai saham PPRO adalah 1 trilyun dibagi 9.1 milyar, sama dengan Rp113 per saham. Jika saham baru PP Properti dilepas pada harga terendah yakni 185 per saham, maka itu artinya anda sebagai pemegang saham baru di perusahaan hanya perlu mengeluarkan dana dalam jumlah yang sedikit lebih besar (Rp185 berbanding Rp113, berarti 1.6 kalinya) dibanding modal yang disetor PTPP sebagai pemilik asli sekaligus penanggung jawab atas jalannya operasional perusahaan.

Dan menurut penulis itu adalah harga yang relatif murah, atau bahkan sangat murah jika dibanding IPO WTON setahun yang lalu. Jika PP Properti benar-benar dijual pada harga 185, dan jika pada Mei nanti IHSG paling tidak masih stabil di posisinya saat ini (5,400-an), maka saham PPRO berpeluang untuk naik signifikan sejak listing perdananya, dan kenaikannya tersebut akan berlanjut jika pada laporan keuangan terbarunya (Kuartal II 2015, akan terbit akhir Juli nanti) perusahaan masih sukses membukukan kinerja yang bertumbuh.

Namun jika PP Properti dilepas pada harga 350, maka tentunya dia tidak bisa dikatakan murah lagi. Selain itu peningkatan ekuitas dalam jumlah yang kelewat besar (karena besarnya dana perolehan hasil IPO-nya) juga akan menyebabkan ROE PPRO nantinya akan tampak sangat kecil, dan itu bisa membuat kinerja fundamental perusahaan menjadi tampak buruk sehingga malah menjadi katalis negatif bagi sahamnya. But well, mari kita berharap bahwa mudah-mudahan PP Properti ini akan dilepas pada harga yang 185, syukur-syukur bisa lebih rendah lagi (ya gak mungkin lah, just kidding!)


PT PP Properti, Tbk
Rating Kinerja Pada 2014: A
Rating Saham pada 185: AA



Sumber: Indonesia Value Investing

Read more...
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP