powered by Google
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Video: Sejarah Berdirinya Google

Jumat, 09 Agustus 2013


Berawal untuk mendapatkan gelar PhD dari 10 tahun silam yang merupakan ide penelitian Sergey Brin dan Larry , Google menjelma jadi mesin pencari uang dan membuat dua sahabat itu mendapat gelar sebagai orang terkaya di dunia yang berusia muda. Kaya raya, muda, dan dari hasil jerih payah sendiri. Beragam predikat itu tersemat kepada Sergey Brin, dan Larry Page, yang telah berhasil masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama beberapa tahun berturut-turut. Dalam pemeringkatan tahun 2010, dua pendiri Google tersebut berada di urutan ke-24 dengan kekayaan bersih masing-masing USD17,5 miliar atau setara dengan Rp159,68 triliun. Sementara tahun sebelumnya, dua sahabat ini berada di urutan ke-26 dengan nilai kekayaan bersih masing-masing sebesar USD12 miliar atau setara dengan Rp109,5 triliun.


Sementara Google Inc sebagai perusahaan mencatat pendapatan kotor sebesar USD23,651 miliar pada 2009 atau setara dengan Rp215,81 triliun. Pendapatan operasi Google pada 2009 sebesar USD8,312 miliar atau Rp75,84 triliun dengan keuntungan mencapai USD6,52 miliar atau Rp59,4 triliun. Angka ini naik dibandingkan tahun 2008 dengan pendapatan mencapai USD21,8 miliar dan profit USD4,23 miliar. Total aset yang dimiliki Google Inc pada 2009 sebesar USD40,49 miliar dan total equity USD36 miliar. Google telah mempekerjakan sebanyak 19.835 karyawan pada 2009 yang tersebar di seluruh dunia dengan anak perusahaan YouTube LLC, Double-Click, GrandCentral, dan Picnik. Bahkan pendapatan dan keuntungan Google telah melampaui Ebay, Amazon maupun Yahoo!.

Tahun lalu, Ebay mencatatkan keuntungan sebesar USD2,3 miliar dari pendapatan USD8,7 miliar. Adapun pada 2008, Ebay mencatat keuntungan sebesar USD1,78 miliar dari total pendapatan USD8,54 miliar atau terjadi peningkatan 34%. Tahun ini, Ebay memperkirakan pendapatan total USD8,8 miliar sampai USD9,1 miliar. Adapun Amazon pada 2009 mencatatkan pendapatan USD24,5 miliar dengan pendapatan bersih sebesar USD902 juta. Profit bersih Amazonini meningkat hampir 40% dibandingkan 2008 yang hanya mencatatkan keuntungan USD645 juta dari pendapatan USD19,17 miliar. Amazon telah mempekerjakan sekira 20 ribu karyawan.

Terakhir pendapatan Yahoo! pada 2009 sebesar USD6,4 miliar, sedikit turun dari pendapatan 2008 yang sebesar USD7,21 miliar. Namun profit 2009 meningkat menjadi USD598 juta dari yang sebelumnya hanya USD419 juta. Yahoo! didukung dengan sekira 14 ribu karyawan. Menurut Forbes, keuntungan Google yang sebesar USD5,5 miliar diperoleh hanya dalam waktu 12 bulan dengan market share naik hingga 70% pada tahun lalu. Bahkan aplikasi Google sudah diterapkan dalam ponsel pintar (smartphone) sehingga semakin meningkatkan market share Google sejak November 2008.

Dengan kinerja demikian, wajar jika situs mesin pencari Google telah menjelma sebagai situs mesin pencari uang bagi pendirinya. Bagi Brin, bapak satu anak yang tinggal di Polo Alto California ini Google menjadi sumber pendapatan utama. Tidak berbeda dengan Page. Menurut catatan Forbes sumber penghasilan utama pria yang tinggal di San Francisco California ini adalah dari Google. Saat ini selain sebagai pendiri, Page menjabat sebagai Presiden Pengembangan Produk Google Inc. Sementara Brin menjabat sebagai Presiden Bidang Teknologi Google Inc.



Pertemuan Dua Sahabat

Larry Page dan Sergey Brin
Kisah perjalanan hidup Brin dan Page agak unik. Sulit membayangkan dua mahasiswa program doktoral yang tidak menyelesaikan kuliahnya kini menjelma sebagai orang yang masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Sergey Brin yang lahir di Moskow, 21 Agustus 1973, memiliki nama lengkap Sergey Mikhailovich Brin. Sebelum mendirikan Google dengan sahabatnya Page, Brin memang sudah mempelajari ilmu komputer dan matematika. Brin melanjutkan pendidikan ilmu komputernya di Stanford University melalui beasiswa dari National Science Foundation. Dia menerima gelar masternya pada Agustus 1995.

Selain itu, Brin memiliki gelar MBA dari IE Business School. Disebut-sebut, Page dan Brin awalnya tidak saling menyukai ketika mereka pertama kali bertemu di Pascasarjana Ilmu Komputer Standford University pada 1995. Kendati begitu, karena ketertarikan pada bidang yang sama, akhirnya keduanya menjadi sahabat. Bersama-sama mereka mencari dan menemukan informasi yang relevan dari sekumpulan data yang besar. Mereka pun kemudian menulis sebuah karya penelitian berjudul ”The Anatomy of a Large-Scale Hypertextual Web Search Engine” yang dianggap sebagai bibit bagi karier mereka dalam mendirikan Google.

Sementara itu Page, pria yang lahir 26 Maret 1973, memiliki nama lengkap Lawrence Edward Page. Suami dari Lucinda Southworth ini adalah seorang lulusan dari East Lansing High School. Page memperoleh gelar bachelor of science dalam teknik komputer dari Universitas Michigan. Dia juga lulusan master dari Universitas Standford. Setelah bertemu dengan Brin di Program PhD Ilmu Komputer Universitas Stanford, mereka menjalankan bisnis situs mesin pencari Google yang mulai beroperasi pada 1998. 



Googol Menjadi Google

Logo Google Inc

Menilik sejarah berdirinya Google, awalnya memiliki nama Googol. Sebuah terminologi matematika yang memiliki arti satu diikuti oleh 100 angka nol. Page dan Brin menggunakan nama ini karena memiliki misi ingin mengorganisasi informasi di seluruh dunia dan membuatnya menjadi mudah di akses dan berguna secara universal. Sebagai perusahaan Google Inc didirikan pada 7 September 1998 di ruang garasi rumah teman Brin dan Page di Menlo Park, California.

Pada Februari 1999, perusahaan tersebut pindah ke kantor di 165 University Ave, Palo Alto, California sebelum akhirnya pindah ke ”Googleplex”, Mountain View, California pada akhir tahun yang sama. Google berawal dari proyek penelitian Page dan Brin pada awal 1996 yang mengembangkan teori bahwa sebuah mesin pencari yang berdasarkan analisis matematika hubungan antara situs-situs web akan memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan menggunakan teknik-teknik pencarian dasar yang digunakan pada saat itu. Sistem ini pada awalnya dinamakan BackRub karena menggunakan backlink untuk memperkirakan seberapa penting sebuah situs.

Page dan Sergey terus menyempurnakan teknologi Google sepanjang awal 1998. Akhirnya, perusahaan Google pun dapat didirikan pada 7 September 1998 dan dibuka secara resmi di Menlo Park, California. Saat ini Google merupakan sebuah perusahaan berpredikat nomor satu dalam top 100 perusahaan yang paling diminati di Amerika dengan jumlah pegawai hampir 20.000 orang.


Sumber: terindikasi.com


----------------


The Google Story


Uploaded on Oct 8, 2009

A (very) quick look back at the Google story over the last 11 years. 
From Stanford to Mountain View and around the world, featuring many different products, starting with BackRub (Search) up to Google Wave, StreetView and Chrome.

Read more...

Daendels, Perintis Infrastruktur Jalan Koridor 2, Jawa

Sabtu, 09 Maret 2013


Daendels, Perintis Infrastruktur



Gouverneur-generaal H.W. Daendels
Gouverneur-generaal H.W. Daendels
Nederlandsindie.com – Gouverneur-generaal (Gubernur Jenderal) Herman Willem Daendels adalah perintis infrastruktur yang sangat luarbiasa dampaknya bagi kemajuan ekonomi di Jawa, yakni pembuatan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) atau populer disebut Jalan Daendels.Panjang jalan di sisi utara Jawa ini dari Anyer di ujung barat sampai Panarukan di ujung Timur, dengan panjang total mencapai 1000km, terpanjang di dunia saat itu.
Daendels membangun jalan yang membelah sepanjang Pulau Jawa ini terutama untuk tujuan strategi dan kepentingan militer: mobilisasi pasukan dengan cepat.
Pembangunan jalan ini memakan korban jiwa sangat banyak, namun dinilai oleh para sejarawan Indonesia sekarang sebagai kemajuan penting. Berkat jalan ini bagian-bagian terpencil di Jawa menjadi mudah dicapai dalam hitungan hari, tidak lagi berpekan-pekan.
Ketika Daendels tiba di Jawa dia langsung memutuskan untuk membangun jalur transportasi di sepanjang bagian utara Jawa, demi melindungi pulau penting di bawah kekuasaan Belanda ini dari serangan Inggris. Dengan adanya jalan ini mobilisasi pasukan Belanda akan menjadi sangat cepat.
Daendels memaksa setiap penguasa lokal sepanjang jalur yang direncanakan itu untuk mengerahkan rakyatnya membangun jalan yang diinginkan.
Dia menetapkan target produksi di mana jika target ini tidak tercapai maka para penguasa lokal dan rakyatnya akan dibunuh. Potongan kepala mereka digantung di pohon di sepanjang jalan. Daendels menjalankan kebijakannya ini dengan keras dan kejam.
Dengan disiplin bajanya itu akhirnya Daendels dapat menyelesaikan jalan yang diimpikannya itu hanya dalam setahun (1808), sebuah prestasi sangat luarbiasa di zaman itu. Karena pembangunan jalan yang sangat spektakuler dan kekejamannya itu nama Daendels tetap dikenal sampai sekarang.


Peta: Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan




Jalan Anyer Panarukan (Jalan Raya Pos/Daendels)



Uploaded on Oct 25, 2010
Jejak Sejarah Indonesia Series

Read more...

Ekspedisi Daendels, Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan

Ekspedisi Daendels, Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan







Ekspedisi Daendels, Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan
Penulis : Heru Margianto | Kamis, 14 Agustus 2008 06:22 WIB





Indonesia adalah negeri budak.
Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

-Pramoedya Ananta Toer, dalam Novel Jalan Raya Pos, Jalan Daendels-
______________

5 Januari 1808. Maarschalk Herman Willem Daendels menjejakkan kakinya di Anyer, Banten. Ini adalah hari pertamanya di Pulau Jawa setelah perjalanan jauh melintas samudra dari negeri Belanda. Tidak ringan misi yang diembannya di negeri jajahan ini. Raja Belanda Louis (Lodewijk) Napoleon, saudara Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte, mengangkatnya menjadi Gubernur Jenderal di Jawa menggantikan Albertus Wiese. Tugas utama Gubernur Jenderal Daendels adalah menyelamatkan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Jawa adalah satu-satunya  
daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius jatuh pada tahun 1807. Beberapa kali armada Inggris terlihat di perairan utara Laut Jawa, dekat Batavia. Delapan tahun lalu, tepatnya tahun 1800, armada Inggris berhasil memblokade Batavia dan menghancurkan galangan kapal Belanda di Pulau Onrust. Belum lama, dua tahun lalu, tahun 1806, armada Inggris muncul di Gresik. Kegentingan politik mewarnai kedatangan Daendels hari itu.

Gubernur Jenderal baru ini bergerak cepat. Ia sadar betul, kekuatan Perancis-Belanda di Jawa tidak akan mampu menghadapi armada Inggris. Ia pun merestrukturisasi kekuatan militernya. Orang-orang pribumi direkrutnya menjadi tentara. Ia membangun sejumlah rumah sakit dan tangsi-tangsi militer baru. Di Surabaya ia mendirikan Benteng Lodewijk dan membangun sebuah pabrik senjata. Di Semarang ia membangun pabrik meriam. Sementara, sekolah militer ia dirikan di Batavia.

Namun, lebih dari semua itu, proyek utamanya demi mempertahankan Jawa adalah membangun jalan raya sepanjang lebih kurang 1.000 kilometer yang menghubungkan ujung barat dan ujung timur Pulau Jawa, menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Tujuannya satu agar mobilisasi perang dapat berjalan cepat. Hanya dengan jalur darat yang bagus mobilisasi pasukan untuk mempertahankan Jawa akan lebih mudah dilaksanakan. Inilah Jalan Raya Pos (Groote Postweg, The Great Post Road).
***

Era kekuasaan Daendels di Pulau Jawa yang hanya tiga tahun (1808-1811) merupakan salah satu titik kelam sejarah bangsa ini.  Pramoedya Ananta Toer, dalam novelnya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels,mengabadikan masa-masa pahit itu. Dengan getir ia menulis, ”Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”. Sejarah mencatat, lebih dari 12.000 jiwa tewas akibat kerja paksa membangun jalan ini. 

Namun siapa nyana, di balik hitamnya sejarah masa lalu, Daendels sesungguhnya meletakkan dasar bagi perkembangan tata ruang kota dan hubungan antarkota di Jawa sejak awal abad XIX hingga kini.Jalan raya itu kini menjadi urat nadi transportasi di Jawa. Pembangunan Jalan Raya Pos juga telah mengubah wajah perkotaan di Jawa. Kehidupan ekonomi di kota-kota yang dilewati jalur Jalan Raya Pos berkembang pesat. Satu kota mati, kota lain tumbuh. Begitu terus sepanjang waktu. Selama 200 tahun (1808-2008) jalan raya itu menjadi saksi bisu hidup dan matinya kota-kota di Pulau Jawa.

Mengenang 200 tahun Jalan Raya Pos, Kompas akan melakukan ekspedisi, menyusuri kembali jalan itu dari Anyer hingga Panarukan. Perjalanan akan berlangsung dari tanggal 16 hingga 25 Agustus nanti. Rute yang akan ditempuh adalah 
Anyer-Serang-Tangerang-Jakarta-Depok-Bogor-Cipanas-Cianjur-Bandung-Cileunyi-Sumedang-Palimanan-Cirebon-Losari-Brebes-Tegal-Pekalongan-Batang-Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang-Lasem-Tuban-Gresik-Surabaya-Waru-Sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo-Panarukan.

Napak tilas yang mengambil tema  200 Tahun Anjer-Panaroekan: Jalan (untuk) Perubahan” ini ingin memotret perkembangan yang terjadi di sepanjang Jalan Raya Pos. Kompas juga ingin menggali pelajaran apa yang bisa dipetik dari Gubernur Jenderal Belanda dengan proyek jalan raya ini. Sejarah, sekelam apa pun bentuknya, selalu menyimpan pelajaran berharga. Di halaman ini Anda dapat mengikuti perjalanan tim ekspedisi Kompas.
______________________

"Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
 -Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-

Read more...

Hugo Chavez dan Venezuela

Rabu, 06 Maret 2013

Hugo Chavez

06 March 2013 | 17:35


Setelah sekian lama menderita sakit, pemimpin Venezuela Hugo Chavez berpulang kemarin. Ini adalah kabar yang mengejutkan, apakah itu bagi para pemujanya ataupun bagi para pembencinya.
Sejarah mungkin benyak melahirkan tipe pemimpin seperti Hugo Chavez. Chavez adalah pemimpin yang kekuatan terbesarnya terletak pada kharisma diri dan kemampuannya membakar semangat rakyat. Karakter seperti ini identik dan cenderung melahirkan pemerintahan diktator. Dan, sebagaimana sejarah mencatat, kediktatoran identik dengan malapetaka.
Tapi Chavez beruntung. Negerinya Venezuela bukanlah negeri yang baru merdeka.  Venezuela sudah bebas dari penjajahan ketika di Indonesia ini Diponegoro masih berperang dengan Belanda. Negeri yang baru merdeka biasanya tidak stabil dan dari situlah pemimpin yang agitator dan diktator dibutuhkan. Sebagai perekat dan pemersatu.
Karena itu ketika Chavez 14 tahun lalu terpilih menjadi presiden, cukup aneh ketika rakyat Venezuela bias menerima gayanya yang cenderung otoriter tersebut. Dengan kata lain Chavez menjadi pemimpin dengan legitimasi yang kuat dalam sistem demokrasi. Dia dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilihan presiden tahun 2006 dan 2012.
Tidak hanya memiliki sistem yang mapan, Venezuela juga negeri yang kaya. Di dalam perut buminya terkandung miliaran barel minyak dan gas yang entah berapa puluh tahun lagi bisa dieksploitasi. Chavez yang sosialis percaya bahwa minyak dan gas itu adalah milik rakyat dan tidak semestinya dikuasai oleh asing.
Dunia dibuat terkejut ketika Chavez memaksa perusahaan minyak asing memberikan porsi saham yang lebih besar untuk perusahaan negara. Jika perusahaan itu tidak setuju, maka Chavez mengancam akan segera menasionalisasi. Ini adalah sebuah tamparan keras khususnya terhadap negara kaya seperti Amerika Serikat yang perusahaannya dirugikan.
Begitulah cara Chavez berkonfrontasi. Dengan caranya itu uang minyak dan gas Venezuela bisa menghidupi rakyat dan menjamin kesejahteraan mereka. Tidak hanya itu, Chavez bahkan menggunakan uangnya itu untuk membantu negara lain di Amarika Latin melunasi utang-utangnya.
Jiwa sosialis Chavez tidak hanya menyangkut apa yang sifatnya materi. Dia juga percaya bahwa kemerdekaan hakiki manusia hanya bisa terwujud manakala manusia itu hidup dalam bangsa yang merdeka. Karena itulah Chavez menjadi salah satu pendukung Palestina paling gigih. Meskipun Venezuela menjalin hubungan diplomaik dengan Israel, Chavez tidak sungkan mengusir diplomat Israel ketika rakyat Palestina diserang.
Itulah Chavez. Semangat dan cita-citanya yang membara menjadi kebanggan bagi rakyat Venezuela, Amerika Latin, dan dunia. Sungguh kita tidak menyangka, di balik kebebatan itu semua, tubuhnya menyatakan tak sanggup untuk menopang lagi. Mulai kemarin tubuhnya terkulai tanpa nyawa meninggalkan dunia fana ini. Selamat jalan, Chavez!


Sumber: kompasiana.com

-------------------------------

Peta: Venezuela dangan ibukota Caracas


View Larger Map



Video: Venezuela

Miss Universe, 6 Miss World, 6 Miss International, dan1 Miss Earth


Read more...

Video: Bandoeng 1912-1930

Sabtu, 23 Februari 2013


Bandoeng 1912-1930






Uploaded on Aug 17, 2010
Suasana kota Bandung tempo dulu..
terlihat di sana Statsiun Kereta Api Bandung, Jl. Braga, Jl. Purnawarman kemudian Jl. Wastukencana.



Peta: A (Stasiun Kereta Api) - B (Jl Braga) - C (Jl Wastukencana) - D (Jl Purnawarman)


View Larger Map



Read more...

Menengok Repihan Majapahit di Trowulan

METROPOLITAN YANG HILANG:

Menengok Repihan Majapahit di Trowulan

Sebuah perjalanan wisata sejarah untuk mengenang keagungan Majapahit.



candi,trowulan,majapahit,buddhaCandi Brahu merupakan tinggalan Buddha dari zaman Majapahit. Bangunan batu bata merah ini berada di Desa Bejijong. Para ahli arkeologi menduga bahwa keberadaan candi ini merupakan warisan dari zaman Pu Sindok pada abad ke-10 (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Ramai kendang berpadu dengan cimplung, jidor, dan kempul mengiringi para sinden bersuara bak penyanyi seriosa. Mereka melantunkan tembang-tembang Jawa yang sepertinya dinyayikan tiga oktaf lebih tinggi untuk memanggil warga berkumpul di perempatan Desa Trowulan. Suatu malam pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, kuda lumping dipentaskan untuk memberikan keselamatan bagi warga desa.
Sejak Thomas Stamford Raffles menorehkan nama Trowulan—sebuah desa kecil dekat Mojokerto—dalam bukunya History of Java yang terbit pada1817, banyak peneliti mulai terkesima dengan eksotisnya nama Majapahit. Seabad kemudian Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda, menjadi orang pertama yang melakukan penggalian amatir di situs Trowulan. Berdasarkan Kakawin Nagarakertagama dan temuan lapangan, Pont mencoba merekonstruksi Kota Majapahit itu. Kelak usaha rekonstruksi itu dilanjutkan oleh beberapa ahli sejarah dan arkeologi hingga kini dengan temuan yang beragam.
Di manakah Pont tinggal selama dia meneliti Trowulan? Sebuah rumah indis akhir abad ke-19 dengan beranda luas berhias pilar-pilar menjadi rumah Pont. Kini rumah bersejarah itu masih bisa dijumpai dalam kondisi sangat terawat karena menjadi bagian Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur di jalan raya Mojokerto-Jombang. Apabila Anda dari arah Kota Mojokerto, Gapura Wringin Lawang, sebuah bangunan gerbang tanpa atap, akan menyambut sebelum memasuki kawasan Trowulan.
Kerajaan Majapahit dikenal jago dalam teknologi tata kelola air. Sayangnya kanal-kanal yang mengelilingi dan saling berpotongan secara tegak lurus di kota Majapahit itu sekarang tak tampak lagi. Namun, sebuah penanda adanya teknologi tata air di kota kuno itu adalah kolam Segaran, yang artinya laut buatan. Luas Segaran kira-kira enam kali lapangan sepak bola, dan mungkin menjadi kolam buatan manusia terluas di dunia.
rumah indis,henry maclaine pont,trowlan,majapahitRumah indis akhir abad ke-19 ini terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang. Henry Maclaine Pont pernah tinggal di rumah ini pada awal abad ke-20. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Situs lain yang masih berhubungan dengan teknologi tata air terletak di Trowulan sisi tenggara. Sebuah petirtaan kuno dari terakota yang lebih dikenal warga sebagaiCandi Tikus. Pada 1914 petirtaan ini ditemukan warga secara tak sengaja ketika memburu hama tikus sehingga dinamai mirip hama perusak padi itu. Tak jauh dari petirtaan tersebut berdiri Gapura Bajang Ratu, bangunan batu bata berdesain paduraksa atau gapura beratap.
Desa Sentonorejo, Trowulan, sebuah kawasan yang dulunya dikelilingi kanal kuno, saat ini menjadi perhatian para ahli arkeologi. Temuan lantai segi enam, struktur bangunan di situs yang bernama Kedatonderetan umpak persegi delapan, dan temuan-temuan permukiman telah menunjukkan bahwa kawasan ini diduga bagian keraton Majapahit.
Sebelah selatan Sentonorejo, terdapat situs Makam Troloyo. Terdapat beberapa makam Islam abad ke-14 dan 15. Situs permakaman ini menunjukkan bahwa kerukunan beragama telah terbina di Kota Majapahit. Seperti situs-situs lain di Indonesia, banyak legenda yang berkait dengan keberadaan makam Islam ini.
Kembali ke kawasan Segaran. Jika Anda melapar saat berkunjung ke Trowulan, beberapa warung di seberang kolam raksasa dengan menu khas ikan wader goreng dengan sambal nan mengelora, mangut lele, dan rawon siap puaskan selera.
segaran,kuliner,majapahit,trowulanIkan wader goreng dengan sambal yang bersemayam di dasar piring dan mangut lele menjadi pilihan santap siang di depan Segaran. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Apabila melihat tinggalan permukiman dan bangunan lainnya, kapan Trowulan ini mulai dihuni? Sebuah prasasti yang berada pada situs Kubur Panjang, demikian warga Trowulan menjulukinya, menyebutkan penanaman pohon bodhi pada 1281. Hal ini menunjukkan adanya dugaan bahwa pada zaman Singhasari Trowulan sudah berpenghuni. Bahkan, lempeng prasasti yang ditemukan kawasan kompleks percandian di Bejijong menunjukkan bahwa pada abad ke-10 kawasan ini telah dihuni dinasti keturunan Mataram Kuno. Di Bejijong kini masih terdapat tinggalan dua candi, yaitu Candi Brahu dan Candi Gentong.
Makam Putri Cempa yang terletak tak jauh dari kawasan kolam Segaran dipercaya warga sebagai salah satu selir raja Majapahit asal Campa, begitulah legendanya, entah bagaimana sejarah sesungguhnya. Pastinya, makam Islam abad ke-15 ini ramai dikunjungi peziarah pada hari-hari tertentu pada penanggalan Jawa.
Jika Anda meniti dari garis tengah kolam Segaran menuju ke arah timur, Anda akan menemui sebuah reruntuhan Candi Menak Jinggo dengan bongkahan-bongkahan batu andesit. Sebuah patung garuda dari candi ini telah dipindahkan ke Museum Trowulan.
Tidak afdol apabila berkunjung ke tanah bekas kota kuno ini tanpa menyambangiMuseum Trowulan yang merupakan museum dengan koleksi terlengkap tinggalan Majapahit: arca, relief, patung terakota, hingga pipa-pipa kuno. Di hamparan halaman museum itu terdapat struktur-struktur bangunan permukiman kuno yang ditampak-ulangkan beserta kearifannya: selokan batu bata dan lantai kerakal yang disusun supaya air mudah meresap.
Wicaksono Dwi Nugroho, selaku Koordinator Museum Trowulan telah merintis“Komunitas Jawa Kuno” yang sebulan dua kali bertemu di Museum Trowulan. Dia mengatakan bahwa komunitas ini bergiat bagaimana menulis huruf dan angka Jawa kuno, hingga membaca prasasti.  Meskipun baru berjalan setengah tahun, paguyuban ini sudah menggaet anggota sejumlah 30-40 orang awam asal kota-kota di Jawa Timur hingga Yogyakarta. Inilah salah satu bentuk pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat secara sukarela untuk menyelamatkan warisan leluhur.
Malam itu perempatan desa Trowulan kian hingar bingar. Sesajen pisang, kembang, dan kemenyan menyeruakkan aroma magis. Lelaki berbadan gempal yang memerankan penari pembuka atau ganongan telah kesurupan. Bagi para penari, tak ada makna khusus dari tarian ini selain mewarisi budaya leluhur tanah Majapahit, sekaligus memberikan keselamatan desa. Awal pementasan mereka segera dimulai, seluruh pengiring bersiap seraya menyerukan nama paguyuban seni kuda lumping mereka, ”Majapahit Jaya!”
(Mahandis Y. Thamrin/NGI)


Sumber: nationalgeographic.co.id

Read more...

Trowulan: Instalasi Air untuk Rakyat Majapahit

Minggu, 17 Februari 2013

Trowulan: Instalasi Air untuk Rakyat Majapahit
Oleh: Nina Susilo dan Ingki Rinaldi



Kerajaan Majapahit yang berjaya pada abad XIII sampai XV mewariskan memberikan peninggalan yang membuktikan bahwa manusia bisa mengelola air dengan baik. Kala itu, air tidak pernah menimbulkan banjir di musim 
hujan atau kekeringan di musin kemarau karena manajemen dan teknologi pengairan dipikirkan secara matang untuk kepentingan Kerajaan Majapahit dan rakyatnya.
Kerajaan Majapahit banyak menyisakan instalasi pengairan yang masih dapat disaksikan hingga saat ini. Sebagian masih digunakan masyarakat sebagai jaringan irigasi yang tidak pernah kering, seperti terowongan air bawah tanah di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kendati instalasi pengairan yang ditemukan lebih lengkap dan beragam, sebagian sudah terlupakan serta berubah wujud dan fungsi. Di Trowulan, teknologi pengairan Majapahit yang tersisa terdiri atas jaringan kanal, kolam penampung air, waduk, bak kontrol, dan saluran air bawah tanah.
Foto udara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional mulai tahun 1973 sampai tahun 1980-an menunjukkan keberadaan jaringan kanal di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Jalur kanal yang lurus ini memanjang 4,5-5,5 kilometer dan bersilangan membentuk kisi-kisi. Lebarnya tidak kurang dari 20 meter, bahkan ketika dipetakan terakhir  40-80 meter dan kedalamannya 6-9 meter.
Sisa jalur kanal saat ini masih bisa dikenali kendati umumnya sudah menjadi persawahan. Bentuknya melebar dan cekung. Sawah yang memanfaatkan sisa kanal ini tidak pernah kering. Di tepian kanal umumnya terdapat selokan dengan susunan bata dari masa Majapahit.
Selain menjadi sawah, sebagian kanal sudah menjadi permukiman, seperti yang terlihat di barat laut Kolam Segaran. Di sekitar makam Troloyo, kanal dibatasi dengan tembok dan dijadikan lapangan parkir. Di perbatasan Mojokerto-Jombang, sebagian kanal malah sudah rata dengan permukaan tanah dan siap diaspal menjadi Jalan Lingkar Mojoagung.
Jaringan kanal yang lurus dengan pola berkisi-kisi, menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Prof Mundardjito, menunjukkan adanya kekuatan penguasa dan massa yang besar untuk membuatnya. Fungsinya diperkirakan sebagai pengendali banjir atau drainase kota, penyedia air, irigasi, dan transportasi.
RADITYA HELABUMI
Warga memancing ikan di Kolam Segaran yang termasuk dalam situs Trowulan di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (15/1). Kolam Segaran yang memiliki panjang 375 m dan lebar 125 meter ini dahulu digunakan untuk menjamu para tamu Kerajaan Majapahit.

Selain kanal, di sekitar Trowulan bisa dilihat sisa instalasi pengairan yang mendukung kehidupan kerajaan dan masyarakat. Kolam Segaran seluas 6,5 hektar di Kecamatan Trowulan bisa dilihat sebagai penampung air. Adapun waduk-waduk, seperti Balong Bunder dan Balong Dowo yang masih tersisa, diduga berfungsi sebagai penangkap air dari berbagai sumber di gunung-gunung di selatan Trowulan.
Selain itu, sebuah kolam penampung berukuran 1-2 hektar masih bisa dilihat pula di Dukuh Botokpalun, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Bagian tangkis waduk ini lebih lebar ketimbang pematang sawah biasa, sekitar 1 meter. Warga setempat menyebutnya waduk milik Dinas Pengairan Mojokerto dan kini dikelola desa sebagai sawah yang disewakan.
Matsom (52), warga Botokpalun, mengatakan, kedalaman lumpur di sawah itu mencapai pinggang manusia, sedangkan di dasarnya terdapat batu yang membuat air tidak keluar. Karena lumpur yang tebal, khusus di tempat itu, menanam padi bisa dilakukan tiga kali musim tanam tanpa menambahkan air.
IWAN SETIYAWAN
Salah satu peninggalan kerajaan Majapahit , Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini diperkirakan merupakan petirtan atau tempat mandi keluarga kerajaan yang dibangun sekitar abad ke-13 atau abad ke-14.

Instalasi pengatur air lainnya, Candi Tikus, diyakini sebagai pengukur debit air. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1989-1990 juga menemukan bangunan dari susunan batu bata yang tampak seperti bak kontrol di sekitar Dukuh Blendren, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan.

Peninggalan Majapahit di Trowulan menunjukkan apa yang dibuat penguasa untuk rakyatnya. Mungkin banyak ditemukan peninggalan bangunan suci dari masa lalu, tetapi bukan peninggalan yang khusus ditujukan untuk pertanian dan kesejahteraan rakyat.

Read more...

Kisah Molly Bondan: Penterjemah Pidato Bung Karno

Jumat, 01 Februari 2013


From: chalid zakaria 
Date: Fri, 1 Feb 2013 18:03:12 +0800 (SGT)
Subject: Re: [sinergi-ia-itb] Re: [Senyum-ITB] Bambu Runcing Menang Melawan Sekutu? (TaRa)

 
Pak Alit Bondan, ini tulisan bapak tentang orangtuanya ya pak?



MOLLY BONDAN
Penterjemah Pidato Bung Karno
Oleh : Alit Bondan *)





Molly Bondan
lahir dengan nama gadis Marry Alithea Warner di Auckland, Selandia Baru pada
tanggal 9 Januari 1912. Dibesarkan di Australia dan menikah dengan
Mohamad Bondan ,
Perintis kemerdekaan Republik Indonesia yang dibuang oleh Belanda ke Boven Digul bersamasama
Rombongan
Bung Hatta dari Tahun 1934 sampai 1943. Ketika Jepang menyerbu
Indonesia, Bung Hatta kembali ke Jawa dan Mohamad Bondan dilarikan ke Australia. Disanalah
mereka bertemu dan menikah pada tahun 1946.
Dengan pesawat Komisi Tiga Negara ( KTN ), Moh.Bondan beserta keluarga diterbangkan dari
Brisbane ke Jogyakarta ( Ibu Kota Republik Indonesia Masa Itu ) pada tahun 1947. Di Jogyakarta
mereka di rumah



dr.Sutarto, adik ipar Bung Hatta dari tahun 1947 sampai dengan 1950.
Moh.Bondan bekerja di Kementrian Perburuhan sedangkan Molly Bondan bekerja di RRI
Jogyakarta di bawah pimpinan
Yusuf Ronodipuro, sebagai penyiar bahasa Inggris untuk siaran
berita luar negeri yang mengumandangkan berita-berita perjuangan Republik Indonesia.
Molly Bondan aktif pada siaran RRI , menulis dan mengajar Bahasa Inggris, dan karena
kedekatannya dengan Bung Hatta, dipercaya Oleh

Bung Karno untuk menterjemahkan pidatopidato
kenegaraannya ke dalam Bahasa Inggris., terutama pidato 17 Agustus sejak Tahun 1950
s/d 1966. Pidato dalam bahasa Inggris tersebut dimaksudkan untuk konsumsi diplomat-diplomat
asing , wartawan asing dan undangan lainnya dari negara sahabat yang hadir dan untuk siaran
langsung ke luar negeri.
Judul Pidato 17 Agustus Bung Karno yang diterjemahkan Molly Bondan ialah :
Dari Sabang sampai Merauke ( 1950 ), Capailah Tata Tenteram Kerta Raharja ( 1951 ), Harapan
dan Keyataan ( 1942 ), Jadilah Alat Sejarah ( 1953 ), Berirama dengan Kodrat ( 1954 ), Tetap
terbanglah Rajawali ( 1955 ), Berilah isi kepada hidupmu ( 1956 ), Satu Tahun Ketentuan ( 1958 )
, Tahun Tantangan ( 1958 ), Penemuan kembali revolusi kita ( 1959 ), Laksana malaikat yang
menyerbu dari langit, Jalannya revolusi kita, ( Jarek ) ( 1960 ), Resopim ( 1961 ), Tahun
kemenangan ( Takem ) ( 1962 ), Genta Suara Republik Indonesia ( Gesuri ) ( 1963 ), Tahun
Vivere Pericoloso ( Tavip ) ( 1964 ), Capailah Bintang - bintang di langit ( 1965 ), dan Jangan
Sekali-kali meninggalkan Sejarah ( 1966 ).
Selain itu Molly Bondan juga aktif dalam konferensi - konferensi Internasional sebagai staf
Sekretariat dengan tugas menterjemahkan dan mengurus pidato-pidato para delegasi, antara lain
dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, Juga konferensi Colombo Plan ke 11
di Jogyakarta pada tahun 1959. Bahan kuliah Bung Karno mengenai















Marhaenisme yang berjudul
Shaping and Reshaping Indonesia
, yang dipaparkannya pada tanggal 3 Juli 1957 untuk
memperingati 30 Tahun berdirinya Partai Nasional Indonesia juga disusun dengan bantuan Molly
Bondan. Pidato Bung Karno di PBB tahun 1958 dengan judul
To Build The World A New , juga
tak lepas dari sentuhan Molly Bondan.
Pengalaman lainnya yang agak unik terjadi tahun 1959 yang dialami Molly Bondan ditunjuk
sebagai penterjemah dalam sidang pengadilan

Allan Laurence Pope , penerbang Amerika yang
ditembak jatuh di atas laut Arafuru setahun sebelumnya. Setelah menjalani tugas dalam
persidangan yang melelahkan, Molly beserta anaknya berlibur selama lima minggu ke Australia
sekaligus menemui ibunda beserta adik-adiknya yang tinggal disana.
Perpindahan statusnya dari Kementrian Penerangan ke Kementrian Luar Negeri pada tahun
1960 , tidak banyak mengubah bidang tugas Molly Bondan. Sebagai Penyiar Radio , tetap
mengasuh Rubrik




Surat Terbuka dan serial This is Indonesia di Programa III RRI Jakarta yang
ditujukan bagi orang-orang asing yang tinggal di Indonesia. Sebagai penulis dan pengajar
Bahasa inggris untuk karyawan-karyawan Kementrian Luar Negeri yang akan ditugaskan
,menjadi Atase Penerangan di Luar Negeri tetap dilaksanakan di samping tugas-tugas dari Bung
Karno dan tugas-tugas mengikuti Konferensi-Konferensi Internasional.
Molly Bondan Ikut serta menyusun Pidato Bung Karno di Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok di
Beograd, Yugoslavia Tahun 1961. Kemudian pidato Bung Karno pada peringatan 10 Tahun
Konferensi Asia Afrika bulan April 1965 di Bandung.
Bulan Juni 1963 membantu delegasi Indonesia pada pertemuan tingkat Menteri di Manila yang
membahas konsep






Maphilindo. Dari Manila diskusi terus dilanjutkan ke Hongkon dan Singapura.
Kembali lagi ke Manila dan ada pertemuan lainnya di Kamboja ( menyatukan Malaysia , Philipina
dan Indonesia ) gagal di tengah jalan.
Ketemu Ayah.
September 1964, Molly Bondan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok ke II di Kairo.
Keberadaannya di Kairo ini merupakan suatu peristiwa yang sangat penting baginya. Sebelum
keberangkatannya ke Indonesia Tahun 1947, Ayahandanya telah berangkat lebih dahulu dan
menetap di Inggris. Pada September 1964 itulah kesempatan terakhir ia bertemu dengan
ayahnya yang sedang perjalanan pulang ke Australia dengan Kapal Laut.
Maret 1965 ke Pnom Penh membantu menyusun pidato Bung Karno untuk Konferensi di
Parlemen Indo China.
Sebenarnya ada 2 orang lagi penterjemah yang bertugas membantu Bung Karno selain Molly
Bondan , yaitu :







Tom Atkinson dan John Coast . Tom Atkinson adalah Orang Inggris yang
menetap di Indonesia sejak Perang Dunia Kedua. Sedangkan John Coast adalah diplomat
Inggris di Bangkon dan tertarik dengan perjuangan Rakyat Indonesia. Diam-diam dia menyusup
ke Ibukota Republik di Jogyakarta. Tetapi menjelang Tahun 1961 kedua orang Inggris itu satu per
satu kembali ke Negaranya. Tinggallah Molly Bondan Seorang diri menjadi Penterjemah setia
dari Bung Karno dan Republik Indonesia.
Sang Suami Moh.Bondan pensiun dari Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1967, dan Molly
sendiri menjalani pensiun dari Departemen Luar Negeri setahun kemudian. Setelah pensiun itu ,
pernah diminta oleh penerbit Gunung Agung untuk mengerjakan pekerjaan Editorial Buku






The
Smiling General
, biografi Presiden Suharto.
Menerbitkan Buletin
Dengan sang suami Molly menerbitkan buletin bulanan
Indonesia Current Affairs Translation
Service Bulletin
. Isinya setebal 90 Halaman, diterjemahkan dari berita-berita koran yang terdiri
dari berita politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Untuk itu Moh.Bondan harus membaca
tidak kurang dari 13 koran setiap hari, kecuali minggu , guna memilih berita-berita yang
merefleksikan Indonesia. Dan tugas Molly untuk menterjemahkannya ke Bahasa Inggris. Sasaran
Buletin tersebut ialah kedutaan-kedutaan asing di Jakarta. Tetapi akhirnya juga menjadi sumber
informasi bagi Universitas-universitas luar negeri yang mempunyai kajian mengenai Indonesia.
Kesehatan Moh.Bondan mulai menurun pada tahun 1975. Berhubung tidak ada penggantinya,
buletin terpaksa ditutup pada bulan desember 1976. Molly juga pernah menulis di Koran , seperti





Harian Kami
( 1968 ), antara lain mengenai Pancasila. Molly juga menyadari bahwa Masyarakat
Indonesia membutuhkan banyak ide-ide mengenai kemanusiaan dan keadilan sosial yang telah
ada di Dunia Barat sejak abad ke 17. Untuk itu beliau menulis di Kompas sebanyak 11 Artikel
berseri selama tahun 1979. Molly Bondan yang telah mengabdikan hidupnya pada Negara
Republik Indonesia berhenti menulis pada tahun 1980. Beliau mengidap penyakit kanker yang
menyebabkan wafatnya pada tanggal 6 Januari 1990, tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke
78 dan dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Pada hari itu, datang ke rumah duka untuk
melayat, antara lain : Menteri Luar Negeri





Ali Alatas , Menko Kesra Supardjo RustamIbu
Rahmi Hatta , S.K.Trimurti, Ruslan Abdul Gani, Maladi, B.M.Diah
( Tiga terakhir pernah
menjadi Menteri Penerangan , sebagai atasan Molly ), Duta besar Australia
Philip Flood dan
lain-lainnya.
Jakarta, 10 Agustus 2007.
*) Drs.Alit Bondan MKom
adalah anak tunggal Molly dengan Moh.Bondan, dosen SEKOLAHTINGGI TEKNIK PLN Jl Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi Jakarta 11750

--- On Fri, 2/1/13, alitbondan1@yahoo.com <alitbondan1@yahoo.com> wrote:

From: alitbondan1@yahoo.com <alitbondan1@yahoo.com>
Subject: Re: [sinergi-ia-itb] Re: [Senyum-ITB] Bambu Runcing Menang Melawan Sekutu? (TaRa)
To: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Date: Friday, February 1, 2013, 2:51 PM

 
Memang benar orang-orang tua kita dulu amat heroik perjuangannya. Disamping bambu runcing ada segelintir orang yg perjuangannya betul-betul berjuang utk mencapai kemerdekaan. Ayah saya dulu dibuang ke Boven Digul bersamasama Bung Hatta da Bung Syahrir. Boven Digul itu sulu sarang penyakit malaria. Saya dpt membayangkan kalau dibuang ke sarang penyakit malaria, rasanya seram sekali. Tetapi itu adlh kenyataan sejarah. Kalau orang zaman sekarang tidak mengerti dg perjuangan orang-orang dulu. Maunya hanya menikmati yg enak-enak dan tidak faham dg perjuangan merebut kemerdekaan 1945. Saya pribadi menganggap Bung Karno adalah tokoh internasional yg tidak ada tandingannya.

Salam, Alit Bondan Ma65

Read more...

Tentang Buku Putih di novel Gading-Gading Ganesha

Kamis, 25 Oktober 2012


From: Wibi Bradford 
Date: Thu, 25 Oct 2012 10:02:05 +0100 (BST)
Subject: Re: [Senyum-ITB] Sejarah Buku Putih



Menarik sekali mengikuti sejarah dan perjalanan fakta dan peristiwa mahasiswa ITB yang termuat dalam buku Putih.
Saya terinpsirasi dan menjadikanya sebagai salah satu kutipan dalam Novel yang saya tulis: Gading-gading Ganesha (yang pernah difilmkan oleh Mas Suhono dkk, angk 81).

Nukilan cerita saya ambil dari websitenya Mas Hengky Susilo dkk (angkatan 77). Tampaknya ada semangat untuk menuliskannya kembali, akan lebih lengkap jika di situ juga diambil point of views dari pihak TNI (Siliwangi, yang mengepung I dan bersikap kooperatif dengan mahasiswa terkepung) serta mungkin dari TNI (yang mengepung kedua kali, dari Pasukan Diponegoro yang sangat sangar) sehingga adik-adik kita di ITB dan masyarakat mendapatkan gambaran dari berbagai sisi, dapat digali antara pelaksanaan tugas (sebagai tentara yang harus nurut perintah atasan) dan sisi humanismenya, serta pertentangan batin Pak Himawan Sutanto, dlsb. Sehingga penuturan bukan saja dari segi alur cerita dan faktual tapi juga mendalami sisi humanisme dan 'nilai' yang dapat dipelajari generasi muda.

Ini sekedar nukilan Buku Putih dalam Novel Gading-Gading Ganesha (yang waktu itu tidak sempat cross check ke Mas dan Mbak sekalian, karena dikejar dead line, menyambut Dies Natais Emas ITB, sehingga harus selesai penulisan novel dalam waktu 3 bulan)..


Tabik

Wibi TI 84
Dermawan Wibisono


-------------------------------------------

Video: Kampus ITB membuat Gerakan Anti Kebodohan 
Dokumentasi: Liga Film Mahasiswa ITB


Published on May 24, 2012 by 



Di sepertiga malam terahir setelah kelelahan berdiskusi, akhirnya empat sekawan menuju kamarnya masing-masing dalam kantuk yang tak tertahankan.
Fuad masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai, menyingkap karpet di bawah lemari plastiknya dan mengambil sebuah bendel lembaran kertas yang sebagian sudah berwarna kuning karena lembab. Dibukanya kembali lembar demi lembar kertas itu yang merupakan ringkasan kejadian tahun 1978, saat ITB diduduki tentara. Walau di mulutnya dia mengatakan kapok untuk berpolitik praktis, jauh di lubuk hatinya ada ketidakrelaan yang dalam bahwa gerakan mahasiswa ITB akhirnya kembali mengulangi kegagalan yang sama.

Pendudukan Kampus ITB oleh Tentara Pada Tahun 1978
Disarikan dari catatan harian mahasiswa ITB angkatan 1977
(Delima Kiswanti, Irwan Natarahardja, Saifi Rosad, Dana Pamilih, Dewi Utami, Arya Rezavidi, Karlina Supeli, Roy Djajanegara, Agus Purnomo, Husein Akil, Halim Mangunjudo, Didi Haryadi, Didit Widiatmoko)
Para mahasiswa ITB di tahun 1978 telah melihat bahwa pemerintahan Presiden Soeharto sudah mulai keluar dari idealisme membangun sebuah bangsa dan negara yang baik dan benar. Karena media massa saat itu sangat dikontrol oleh pemerintah dan DPR tidak bisa mengutarakan pendapat, maka mahasiswalah yang akhirnya mengambil alih peran memperjuangkan kepentingan rakyat dan berusaha mengembalikan pengelolaan negara pada alur yang benar.
Dengan bersatu-padu, seluruh mahasiswa ITB saat itu melakukan berbagai kegiatan untuk mengkoreksi Presiden Soeharto melalui berbagai gerakan moral seperti menerbitkan buku putih yang berisikan data-data kajian dan pemikiran untuk perbaikan bangsa, demonstrasi dengan orasi-orasinya, happening art dan berbagai bentuk lainnya. Namun gerakan moral ini akhirnya digebuk dengan kekerasan melalui operasi pendudukan kampus ITB oleh tentara. Para tokoh mahasiswanya yaitu Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Indro Tjahjono, Irzadi Mirwan (alm), Al Hilal Hamdi, Ramles Manampang, Jusman Syafei Djamal, Joseph Manurung, Kemal Taruc dan banyak lagi yang lainnya dipenjara di tahanan Cimahi.
Tentara menduduki kampus ITB dua kali.
Pendudukan yang pertama terjadi pada bulan Januari 1978. Tengah malam sebelum pendudukan berlangsung, crew radio 8EH ITB-radio milik ITB saat itu dan anggota resimen mahasiswa ITB, Mahawarman, memberitahu kepada beberapa mahasiswa bahwa menjelang subuh, kampus ITB akan diduduki oleh tentara akibat demo dan protes yang dilakukan oleh mahasiswa ITB yang sudah dianggap keluar batas oleh Presiden Soeharto dan aparatnya. Pada pukul 02.00 dini hari, aliran listrik di kampus dipadamkan oleh PLN. Kampus begitu gelap gulita. Hitam pekat menyelimuti. Bersamaan dengan padamnya listrik di seluruh penjuru kampus, seluruh mahasiswa telah siap berjaga di sekeliling kampus Ganesha. Para mahasiswa yang memiliki motor memarkir motornya di jalan Ganesha dengan menghadapkan motor ke arah jalan raya. Degup jantung di setiap dada mahasiswa bertalu-talu begitu kerasnya. Harap-harap cemas, menanti sebuah hari pengadilan jalanan yang akan segera mereka terima. Jarum jam berdetak sangat lambat. Temaram fajar memantulkan bias cahaya samar-samar, bayangan-bayangan hitam berkelebat, bergerak perlahan mendekati kampus. Jam menunjukkan pukul 04.00, mata masih belum dapat terlalu jelas mengindikasikan siapa dan berapa pasukan yang datang menyatroni kampus mereka. Saat waktu menunjukkan pukul 05.00, dengan serentak seluruh lampu motor dinyalakan dan tampaklah bahwa di sekeliling pagar di seberang jalan raya telah berjajar barisan tentara dalam formasi siaga dengan senjata dan tameng-tameng penangkis.
Komandan Mahawarman ITB segera mengambil inisiatif, maju kedepan, menghadap komandan tentara dari Kodam Siliwangi dan meminta agar tentara masuk hanya dari pintu utama di jalan Ganesha dan hanya masuk kampus saat terang tanah, saat pagi telah tiba agar tidak menimbulkan kekacauan yang tak dapat dikendalikan. Tentara setuju.
Satu jam berlalu dalam diam, siap-siaga, penuh ketegangan. Begitu  fajar menyingsing, sesuai perjanjian, pasukan tentara yang berbaris 8 jajar segera memasuki pintu gerbang kampus. Begitu tiba di pintu gerbang kampus yang berjarak 20 meter dari jalan Ganesha, para mahasiswa senior dan tokoh-tokoh Dewan Mahasiswa berusaha menghentikan derap maju pasukan tersebut. Pasukan mendesak ingin menguasai kampus. Seluruh mahasiswa langsung mengambil inisiatif dengan melakukan aksi duduk dengan mengatur formasi mahasiswi ada di barisan depan, dengan harapan para tentara tidak akan berlaku semena-mena. Seluruh mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di akhir lagu, beberapa tentara menurunkan tameng dan senjata sambil menitikkan air mata. Pada akhir lagu para mahasiswa memekikkan “merdeka!” yang disambut teriakan tentara dengan pekikan yang sama”merdeka!”. Tiga puluh tiga tahun Indonesia telah merdeka, tetapi siapa yang merdeka?
Tentara diliputi keraguan dan rasa welas asih sebagai sesama bangsa Indonesia. Pasukan tidak meneruskan desakan untuk maju. Pada pukul 07.00, rektor ITB, almarhum Prof. Iskandar Alisyahbana datang ke kampus dan memberi orasi yang intinya melarang mahasiswa melawan tentara dengan kekerasan tapi dengan kekuatan moral. Kesepakatan dicapai antara tentara dan mahasiswa yaitu bahwa tentara tidak akan menyebar ke seluruh penjuru kampus dan tidak akan menduduki kampus, dan mahasiswa diminta berkumpul di lapangan sepak bola yang terletak di tengah-tengah kampus.
Pada siang harinya di hari yang sama, akhirnya tentara menyebar dan menduduki kampus tetapi tidak menguasainya karena mahasiswa tetap berada di dalam kampus walaupun telah dicoba diusir berkali-kali oleh tentara. Para mahasiswa senior menginstruksikan agar kampus jangan sampai dikosongkan, karena inilah rumah mereka, inilah kedaulatan mereka. Para mahasiswa berkomitmen tidak akan menyerahkan kampus dan akan tetap berada di tempat siang-malam siap menerima segala kemungkinan dan risiko  apapun. Mahasiswa menginap di dalam kampus, tak beranjak  selama beberapa hari.
Malam hari pertama pendudukan, mahasiswa disuguhi tontonan gratis film “Cintaku di Kampus Biru” di studio Liga Film Mahasiswa, sumbangan dari Ikatan Orang tua Mahasiswa. Film yang diangkat dari novel karangan Ashadi Siregar itu mereka tonton, padahal justru belum beredar di pasaran.
Setelah beberapa hari pendudukan kampus ITB, pasukan Siliwangi ditarik ke barak. Pasukan Siliwangi dengan Panglima Kodamnya saat itu Mayor Jendral Himawan Soetanto dianggap terlalu lunak kepada gerakan mahasiswa ITB.
Pada tanggal 9 Februari 1978, tentara kembali menduduki kampus ITB. Pada pendudukan kampus yang ke 2 ini, pasukan yang dikirim bukan dari Kodam Siliwangi tetapi dari Kodam Brawijaya yang baru selesai menjalankan tugas dari Timor Timur. Berbeda dengan pasukan dari Kodam Siliwangi yang santun, damai  dan penuh persuasif, pasukan Kodam Brawijaya yang baru kembali dari medan perang Timor Timur ini begitu beringas. Berhadapan dengan mahasiswa mereka samakan berhadapan dengan tentara Fretilin yang bersenjata.  Dengan ganas pasukan ini menarik dan menyeret mahasiswa, tak peduli laki atau perempuan, menjambak rambutnya, memukul para mahasiswa dengan popor senapan dan mengejar-ngejar mahasiswa yang lari tunggang langgang dengan bayonet terhunus. Para mahasiswa yang lari dengan menunggang sepeda motor dikejar dengan jeep tentara dan bagi yang naas akan langsung ditabrak dari belakang. Beberapa mahasiswa terluka, ada yang patah tangannya sehingga langsung dilarikan ke Rumah Sakit Boromeus yang bertetangga dengan kampus ITB, tak lebih dari 50 meter jauhnya.
Para tokoh Dewan Mahasiswa seperti Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Al Hilal Hamdi, Jusman Syafei Djamal, Indro Tjahjono dan Ramses Manampang akhirnya menjadi buron Pemerintah Soeharto, ditangkap aparat dan dipenjara. Dewan Mahasiswa domisioner karena ketuanya ditangkap, sehingga terpaksa dipimpin oleh presidium yang mengoperasikan organisasi dari luar kampus karena kampus diduduki tentara. Pamflet-pamflet protes terus disebarkan dengan kucing-kucingan saat fajar menjelang oleh para mahasiswa. Para mahasiswa militan itu melakukan operasi dengan diam-diam dengan berpindah-pindah tempat. Mencetak pamflet dengan mesin stensil yang digotong berpindah-pindah, menyebarkannya ke segenap penjuru jalan di Bandung sebelum fajar menyingsing. Namun akhirnya para penyebar pamflet ini tertangkap juga oleh tentara dan dipenjara di Cimahi berkumpul dengan para tokoh mahasiswa yang telah tertangkap lebih dahulu. Para mahasiswa dipenjara selama 35 hari di penjara Cimahi, bertetangga dengan para tahanan dari G30S PKI dan pemberontak DI/TII. Dewan mahasiswa ITB membentuk Komite Pembelaan Mahasiswa yang diketuai Wimbo dari Elektro dengan beberapa anggota seperti Didi Haryadi, Arie – Sipil, Zuhriati - Teknik Industri, Burhan – Astronomi, Hendardi – Sipil. Para tokoh mahasiswa ITB didukung dan dibela oleh Adnan Buyung Nasution, Harjono, Sukarjo dan Amartiwi Saleh. Kampus diliburkan satu semester karena pendudukan tentara tersebut.
Dalam tahanan di Cimahi tersebut para mahasiwa diinterogasi tentara dengan menunjukkan bukti foto dokumentasi yang begitu detail disertai bukti-bukti yang sangat lengkap, yang sudah pasti sumber dari semua itu berasal dari sebagian kecil teman-teman ITB sendiri yang saat teman-teman mereka masuk penjara dan sesudahnya nanti mereka akan mendapatkan kursi dan posisi empuk di pemerintahan Soeharto, menjadi anggota DPR atau pejabat pemerintah. Dan sudah pasti, saat mahasiswa berdemo, para pengkhianat gerakan mahasiswa itulah yang ikut berteriak sangat keras.

            Fuad memandangi buku catatan itu dengan masygul. Sedih, perih, sesal, kesal, dan marah begitu menyesakkan dadanya. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Di pelupuk matanya terbayang dengan jelas gambar-gambar bersejarah proses pendudukan kampus oleh tentara itu bagai melihat film layar lebar. “Sejarah Berulang!” gumamnya. Dia yang semula tak percaya akan  isi  paragraf terakhir dari bendel yang dibacanya itu dan bermaksud membuktikan bahwa paragraf terakhir  itu hanyalah hypothesis sang penulis atau setidaknya cerminan rasa iri yang manusiawi, ternyata benar adanya. Aku sekarang mengalaminya, bukan lagi sebuah cerita. Indonesia dijajah begitu lama karena di tengah-tengah perjuangannya selalu ada pengkhiat  dan para oportunis sejati. 



Read more...

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP