powered by Google
Tampilkan postingan dengan label Braga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Braga. Tampilkan semua postingan

Video: Suasana Braga di bulan Februari 2011

Sabtu, 17 Maret 2012



Uploaded by on Mar 1, 2011

In Bandung again we spend the day to roam through the Braga street (Jalan Braga) in order to find the pastry shop of an acquaintance. But unaware of her maiden name we video what we think is worthwhile for her.
We are addressed in fluent Dutch by a taxi driver who remembers where which shop was and what happened to the cinema Majestic.


It is charming to discover that no hardship seems to endure among Indonesians towards the Dutch. 'There is a time to hate and there is a time to forgive', is what they seem to practise. We could do 'business' with that familiarly spoken. Why couldn't we cooperate having learned that colonisation leads to loss. Why not start joint ventures to develop all the richness of this enormous archipelago in a win win situation. In the Java Journal I read of the Swedish charming offensive towards Indonesia these days. What a waste of time as the Dutch still cherish knowledge about several aspects of Indonesia. Common Indonesians may speak a little Dutch and are willing to learn. Let's put away the colonial fuss and let's make contact again. The Dutch are good in maintaining their structures let it be a national road network or architecture. It will require constant communication and decision making.
Then unemployment in Indonesia thus could be diminished as also hawking of the tourists.


The steam roller on a pedestal is a tribute to Governor General Daendels of the Dutch Indies in the nineteenth century who had built the Groote Postweg (the Long Mail Road) across Java. Well, the plague on the pedestal explains enough as you will see.
The next old picture shows a rice field along the mentioned road.
Note the image of Marilyn Monroe on a wall along the Asia-Afrika Road. You'll certainly know this almost classical image of her. Here in Bandung she appears to lose something...
We strike upon the protestant Bethel church which also dates from the former centuries. Stroll along some beautiful architectural creations, the local mosque, on our way to resto 'De Bandungsche Melk Centrale' which has been described before.

Read more...

Rasa itu tetap sama di restoran Braga Permai, Bandung


Ada sebuah tempat di Bandung, yang sedapat mungkin kukunjungi setiap ke Bandung. Hanya untuk sekedar minum kopi atau membeli oleh-oleh di sana. Aku tahu tempat ini dari papaku. Dulu kalau papa pulang dari Bandung, dia suka membawa Karya Umbi/ Raos, Sus Merdeka atau oleh-oleh dari sini. Lama-lama Karya Umbi/ Raos, dan Sus Merdeka bisa beli juga di Jakarta, kami menjadi bosan, dan tidak pernah beli lagi. Tapi kalau oleh-oleh dari sini, tidak pernah kami tolak!

Oleh-oleh itu adalah coklat yang kebanyakan adalah bitter sweet dengan berbagai bentuk dan campuran rasa. Ada yang truffle, ada nougat, ada kenari, ada marzipan, ada kacang giling dll. Kalau dulu papa sering membeli semua jenis seratus gram (Di sini memang cara membelinya dengan per 100 gram – harganya sekitar 35.000 rupiah sekarang) lalu dibagilah untuk 5 orang, Mama dan 4 anak, masing-masing satu kantong. Masing-masing menerima satu kantong, boleh makan kapan saja, tapi tidak boleh minta punya orang lain. Kalau ada jenis yang tidak suka bisa barter dengan damai! hoho…senang sekali waktu kami menuliskan nama di kantong dan menyimpannya di lemari es. Dan tentu saja tidak ada yang berani mengambil coklat yang bukan miliknya.

Restoran jadul Braga Permai yang terkenal dengan coklatnya


Braga Permai ( Jl. Braga No. 58 Telp 022-4233778) adalah nama Restoran (dulunya Maison Bogerijen) yang menyimpan sejarah, mungkin satu jaman dengan ice cream Ragusa. Kabarnya sudah ada sejak tahun 1930-an, sebagai tempat meneer-meneer dan mevrouw-mevrouw minum kopi. Karena itulah papaku tahu tempat ini, dan setiap ke Bandung pasti membelikan kamu coklat Braga. Lihat saja foto kotak kuenya, masih memakai foto-foto jaman bahelua itu. Ada beberapa meja di teras restoran, dan tentu saja di dalam restoran.Dulu aku jarang mampir duduk dan makan di sini,biasanya langsung ke dalam tempat etalase coklat dan kue-kue, memesan dan langsung bayar. Tapi waktu mudik musim panas kemarin, dua kali ke sini dan duduk untuk sekedar ngopi atau nge-es dan beristirahat. Sang supir pun perlu istirahat kan? Dan waktu datang ke dua kalinya dengan Gen, dia juga menikmati kopi tubruk yang disajikan. Sayang waktu itu kami baru makan di Raja Rasa, dan kecewa karena Kopi Aroma tidak buka. Sayang waktu aku ke sana dua kali itu, mau pesan es krim Tutti Frutti tapi tidak ada.

Coklat braga yang dijual per 100 gram. Salah satu kuenya yang akhir-akhir ini aku suka adalah sus dengan saus caramel di atasnya kiri bawah. Kanan bawah kue dengan amandel (marzipan)

So, jika ada waktu silakan coba menikmati suasana Bandung jaman dulu sambil ngopi dan makan coklat, meskipun tentu saja ada makanan lain spesialitet restoran ini. Coklat di sini rasanya tetap sama seperti coklat oleh-oleh papa dulu waktu kami kecil!

Sumber: imelda.coutrier.com

Read more...

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP