powered by Google

Video: Apa kata Warren Buffett tentang Investasi ?

Jumat, 09 Mei 2014


Warren Buffett bertemu Presiden Barrack Obama



Cara Menjadi Kaya ala Warren Buffet, Beginilah Caranya.



Dimulai pada abad ke 20 hingga hari ini, banyak pakar keuangan yang mencoba menawarkan berbagai strategi untuk berinvestasi. Beberapa diantaranya yang terkenal, misalnya: Harry Markowitz yang menciptakan pendekatan Modern Portfolio Theory yang pada intinya adalah diversifikasi investasi guna meminimalisir risiko. Ada lagi Benjamin Graham dalam bukunya yang berjudul “The Intelligent Investor” yang mengajarkan cara berinvestasi melalui saham yang memiliki nilai nominal lebih rendah daripada nilai intrinsiknya (value investing).
Namun yang paling dikenal saat ini sebagai “guru” investasi adalah Warren Buffett. Sebagai salah satu orang terkaya di dunia dan dianggap sebagai investor yang paling berhasil, pandangan Warren Buffett akan investasi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Benjamin Graham, dimana Benjamin Graham merupakan dosen pengajarnya semasa bangku kuliah di tahun 1950-an.
Berikut beberapa tips investasi dari Warren Buffett yang ditulis dalam berbagai bukunya yang terkenal, antara lain “The Warren Buffett Way”, “Buffett, Making of an American Capitalist”, “The Essays of Warren Buffett”, dan lain-lain.
  1. Investasi Segera
Menurut salah satu kisah otobiografinya, Warren Buffett mulai berinvestasi pada awal tahun 1955 di usia 25 tahun ketika baru menyelesaikan kuliahnya,  dengan nilai awal USD 9.800,-. Saat ini di usia 83 tahun, nilai investasinya mencapai lebih dari USD 50 miliar. Warren Buffett sempat berkomentar, “Saya menyesal mulai berinvestasi di usia 25 tahun. Seharusnya saya mulai berinvestasi di usia lebih muda lagi.”
Mengapa investasi sedini mungkin sangat dianjurkan? Investasi sedini mungkin otomatis akan mendorong investasi jangka panjang seperti yang diuraikan pada tips #2 dibawah.
  1. Investasi Jangka Panjang
Ketika ditanya berapa lama horizon investasinya, Warren Buffett menjawab, “seumur hidup.” Tentu saja yang dimaksud Warren Buffett adalah jangka panjang. Mengapa?
Dengan investasi jangka panjang, paling tidak ada dua keuntungan:
  1. a.    Bunga Berbunga (Compound Interest)
Jangka waktu yang panjang akan memberikan kesempatan bagi hasil investasi untuk terus bergulung. Ketika anda berinvestasi secara teratur sebesar Rp. 500.000,- setiap bulannya, dengan asumsi rata-rata pertumbuhan tingkat investasi sebesar 7% per tahun, maka setelah 30 tahun investasi anda akan tumbuh menjadi Rp. 609.985.498,-. Warren Buffett pernah berkomentar, “Compound interest guarantees I’m going to get rich.”
  1. b.    Pemulihan (Recovery)
Kita tidak akan pernah mengetahui persis kapan pasar akan naik atau turun. Oleh karena itu, investor jangan panik dan langsung keluar ketika pasar sedang turun sebab justru akan “ketinggalan kereta” ketika pasar pulih kembali. Investasi jangka panjang akan selalu memberikan kesempatan kepada portofolio untuk recovery ketika pasar sedang berfluktuasi. Contoh paling nyata adalah di tahun 2008 ketika IHSG turun sebesar  -50,64% dan pulih kembali di tahun 2009 dengan kinerja melonjak +86,98%.
  1. Investasi Secara Teratur dan Berkala (Dollar Cost Averaging)
Dengan strategi Dollar Cost Averaging, maka investor akan memiliki disiplin investasi jangka panjang dan keputusan untuk tetap berinvestasi tidak harus terpengaruh apakah saat itu pasar sedang naik atau turun. Dollar Cost Averaging memberikan win-win solution bagi investor. Ketika market naik, maka nilai portofolionya berarti akan bertambah. Dan ketika market turun, maka investor berarti akan membeli di harga lebih murah.
  1. Perlakukan Investasi Anda Seperti Perusahaan Sendiri
Jangan terlalu terburu-buru untuk melikuidasi investasi anda. Ibarat memiliki perusahaan sendiri, anda tentu tidak akan mudah begitu saja melikuidasi perusahaan anda ketika perusahaan tersebut sedang goyah. Sebagai pemilik, mungkin justru anda akan menginjeksi modal kembali demi kepentingan perusahaan anda tersebut. Sama seperti di investasi, tindakan top-up justru direkomendasikan ketika pasar sedang turun.
  1. Jangan Mudah Tergoda
Pastikan anda memperoleh informasi yang transparan atas instrumen serta cara kerja dari investasi yang anda lakukan. Jangan mudah mengambil keputusan berinvestasi hanya karena investasi tersebut diiklankan mampu memberikan return 200% per tahun, misalnya.
  1. Alokasikan Portofolio Secara Efisien
Inti dari pendekatan ini adalah diversifikasi dengan tujuan menyebarkan risiko. Di awal periode, susunlah alokasi investasi sesuai profil risiko anda. Di akhir periode, lakukan review dan ubah kembali bobot alokasi portofolio agar kembali seperti sedia kala (rebalancing).
  1. Jangan Terlalu Agresif, Namun Juga Perlu Defensif
Warren Buffett lebih mengutamakan portofolio yang defensif ketimbang agresif. Alasannya adalah, portofolio yang defensif akan lebih tahan menghadapi “badai” atau pasar yang berfluktuasi. Ketika era dot.com sedang booming di tahun 1999-2001, Warren Buffett sama sekali tidak tertarik untuk ke sana karena mengganggap industri dot.com terlalu agresif dan belum tentu profitable. Ketika era dot.com benar-benar runtuh di pertengahan tahun 2001, Warren Buffett mengakui portofolionya tidak terlalu terkena dampak. Dia juga menolak ketika ditawarkan saham Facebook di saat IPO tahun lalu.
Warren Buffett memfavoritkan saham defensif seperti Coca-Cola sebagai salah satu saham sektor konsumer. Dia beralasan, “Look around you. Everyone drinks Coca-Cola everyday.”  Pada intinya, Warren Buffett menyukai sektor konsumer sebagai sektor yang defensif karena orang-orang tetap akan berkonsumsi terlepas dari apakah market sedang naik atau turun.
  1. Be Fearful When Others Are Greedy and Greedy When Others Are Fearful
Jangan mudah mengikuti arus. Ketika para investor berbondong-bondong memburu satu jenis investasi, justru anda perlu mewaspadai akan potensi bubble di situ. Sebaliknya, ketika para investor beramai-ramai menjual instrumen investasi tertentu, maka anda dapat lebih jeli untuk membaca peluang beli (buying opportunity) yang mungkin timbul.
  1. Jangan Lupa Berbagi
Selain dikenal salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett juga dikenal dermawan. Di tahun 2006, Warren Buffett mendonasikan USD 37 miliar kepada Bill Gates Foundation, sebuah yayasan sosial milik Bill Gates, pemilik perusahaan Microsoft. Salah satu anak Warren Buffett pernah berujar, “Ayahku mengumpulkan investasi, kaya raya lalu memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Ya, memang itulah hobinya.” Warren Buffett sendiri dalam salah satu interviewnya pernah berkata, “….. jadilah investor jangka panjang, nikmatilah hasil investasi tersebut secukupnya. Sisanya berikan kepada orang lain yang membutuhkan.”
----------------

Biografi Warren Buffett - Orang Terkaya Dunia


Warren Edward Buffett lahir di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, pada tanggal 30 Agustus 1930. Kemampuannya menciptakan nilai tambah ini sudah kelihatan sejak kecil. Ketika berumur 11 tahun misalnya, ia hanyalah seorang loper koran. Tapi ia memanfaatkan waktunya juga untuk keliling lapangan golf, mencari bola golf yang hilang, dan menjualnya dengan harga murah ke pemain golf di sekitar lapangan golf tersebut. Pada umur 14 tahun, saat Buffet masih duduk di banku SMA, dia memulai bekerja sehingga memiliki uang sebesar $ 1,200 untuk membeli 40 ha tanah pertanian yang akhirnya dia sewakan pada petani lokal. Dari sini ia sudah menciptakan passive income dari sewa lahan. Perusahaan yang dibelinya selalu diperbaiki sebaik mungkin, fundamental bisnisnya ditingkatkan sehingga kinerja keuanganya mengkilat.

Perusahaan yang tadinya mau bangkrut, di tangannya bisa berubah menjadi perusahaan seksi yang menarik minat banyak investor lain. Tidak heran jika harga saham Berkshire Hathaway — yang dipakai sebagai alat untuk membeli banyak perusahaan — pun terus meroket di pasar modal. Harga saham Berkshire Hathaway medio Juli 2007 – Januari 2008 misalnya, melejit sebesar 35%. Bahkan Desember lalu, harga sahamnya menembus level tertinggi sepanjang masa, menjadi US$ 150.000 per lembar. Citra pemain saham biasanya tak jauh-jauh dari citra seorang spekulan: beli saat harga rendah, jual saat harga tinggi. Buffett bukanlah Gergo Soros, sang spekulan valas (forex) kelas kakap, yang sempat diisukan sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap merosotnya nilai rupiah terhadap US$ pada awal keruntuhan presiden Soeharto, tahun 1998.

Biografi Warren Buffet
Buffet sadar, permainan jangka pendek tidak menguntungkan. Hal ini ia pelajari sejak umur 11 tahun — saat ia membeli saham pertamanya, Cities Services, seharga $38,25 per lembar. Setelah itu, dia menjual kembali saham tersebut seharga $40. Ternyata, harga saham yang dijualnya naik terus dan beberapa tahun kemudian mencapai $200 per lembar. Dari pelajaran itulah ia berkesimpulan untuk tidak erburu-buru untuk melepas sahamnya. Langkah bisnis Buffett akhirnya adalah tentang investasi jangka panjang, pada saham-saham perusahaan yang produknya ia kenal dengan baik. Itu sebabnya,ia tidak pernah mau membeli saham Microsoft atau perusahaan dotcom. Meski ia pernah ditertawakan investor lain karena keenganannya ini, kini ia justru tertawa paling akhir karena sebagian besar investasi di dotcom hangus. Ia selamat dari badai dotcom awal tahun 2.000-an karena sama sekali tidak ikut-ikutan investasi di sana.
Investasi jangka panjang juga bermakna bisnis. Buffett tidak pernah menerapkan prinsip beli saham, tapi membeli bisnis (buying a business not share). Meski saham Coca-Cola sempat ambruk pada 1998-1999, ia tetap bersandar pada tren jangka panjang. Ia pertahankan saham Coca-Cola hingga kini.

Biografi Warren BuffetLangkah-langkah bisnisnya begitu mempesona dan cerdik sehingga ia selalu menjadi buruan para jurnalis bisnis. Begitu banyak pula media yang sudah menuliskan profilnya. Nyaris, setiap langkah Buffet adalah langkah investasi, dengan membeli saham perusahaan. Langkah strategis awal Buffett dimulai tatkala ia membeli saham perusahaan tekstil Berkshire Hathaway pada 1962. Ia berhasil menjadi pemegang saham terbesar tiga tahun kemudian. Ia secara cerdik menginvestasikan uang nganggur perusahaan. Ia misalnya membeli perusahaan asuransi, perusahaan permata, utilitas, dan makanan melalui Berkshire. Lewat perusahaan ini pula ia menguasai beberapa perusahaan kelas dunia seperti Coca Cola, WellsFargo dan Kraft Food. Langkah terbarunya, Desember lalu ia mengakuisisi perusahaan manufaktur dan jasa Momon Holding sebesar US$ 4,5 miliar.

Buffett sesungguhnya sudah lama berjanji untuk menyumbangkan hartanya manakala ia meninggal. Namun, Juni 2006 lalu, Buffett bertindak lebih cepat, dengan mendermakan sebagian besar sahamnya di Berkshire. Total dermanya saat itu mencapai US$ 31 miliar alias sekitar 300 triliun rupiah, hampir separo anggaran belanja negara (APBN) kita tahun lalu! Tak mengherankan jika amal itu tercatat sebagai donasi terbesar dalam sejarah Amerika. Uniknya, sebagian derma itu diserahkan ke Bill and Melinda Gates Foundation. Dana tersebut merupakan dua kali dana yang biasa dikumpulkan yayasanBill and Melinda Gates selama ini. Dengan hartanya yang begitu melimpah, Buffett bisa saja hidup semewah mungkin di mana saja yang ia maui. Namun ia memilih hidup sederhana di rumah yang dibelinya empat dekade lalu di Omaha. Menurut majalah Adbuster, ia hanya punya dua jet pribadi dan satu yacht mewah untuk untuk ber-glamour-ria. Kalah jauh dibanding kemewahan para pebisnis dan pesohor lain yang kekayaannya justru terpaut jauh di bawahnya.


0 comments:

Posting Komentar

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP