powered by Google

Usulan KIN (Komite inovasi Nasional) tentang BRIV (Bandung Raya Innovation Valley)

Jumat, 10 Agustus 2012

1. Rekomendasi Pengembangan Inovasi Kebutuhan Dasar Manusia (Model Top-Down)

1.1 Inovasi bidang Pangan:
Why:
Guna mencapai swasembada pangan, khususnya dalam produksi padi, jagung, kedelai, makanan pokok lainnya, serta untuk mencapai swasembada dalam penyediaan benihnya, maka diperlukan peningkatan aktivitas penelitian di bidang pangan yang berbasis pada keanekaragaman hayati Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan teknologi hijau, termasuk teknik biologi molekuler. Untuk meningkatkan kesuburan lahan tanaman perlu digunakan biofertilizer, hal ini sekaligus menjawab tantangan kerusakan ekologi dan perubahan iklim melalui mitigasi dan atau adaptasi.
Who:
Kementerian Pertanian (cq Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian), Kementerian Keuangan, LIPI, IPB, BPPT, BUMN, Mitra Industri
How:
Rekomendasi Umum:
  • Segera dikembangkan teknologi food estate.
  • Segera diarahkan penelitian bidang pangan yang mampu mengatasi   tantangan perubahan iklim dengan pendekatan adaptasi dan mitigasi.
  • Penelitian bidang pangan difokuskan pada penggunaan teknologi biologi molekuler (utamanya rekayasa genetika) untuk dapat mencapai low external input, high productivity, sustainable agriculture.
  • Segera dikembangkan teknologi penghematan dan penangkapan air untuk irigasi pertanian. 
  • Segera dibuat database indigenous microbes, flora, dan fauna pada tingkat molekuler yang berfungsi di bidang pertanian (biofertilizer, benih, dan lain-lain). Untuk itu disarankan segera dilakukan identifikasi, inventarisasi, dan penyimpanan contoh sumberdaya genetika di seluruh wilayah NKRI, khususnya yang penting untuk ketahanan pangan serta kesinambungan pembangunan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada.
Rekomendasi Quick-win 2014:Untitled
Pengembangan dan penggunaan pupuk hayati (biofertilizer), yaitu: Iletrisoy, Agrimeth, Beyonic, Probio, Biopeat dan BOC-SRF.

1.2 Inovasi bidang Obat-obatan:


Why:

Kemampuan swasembada di bidang bahan baku obat (BBO) termasuk kemampuan dalam produksi vaksin, merupakan tantangan  yang sekarang ini dihadapi secara nyata oleh bangsa Indonesia. Memacu dan mengembangkan penelitian di bidang obat-obatan perlu dilakukan berbasiskan pada keanekaragaman hayati (biodiversity) dan keanekaragaman budaya (cultural diversity) yang ada di bumi Indonesia, dengan menggunakan pendekatan teknik biologi molekuler.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Biofarma merupakan industri yang berumur 100 tahun. Berpengalaman di bidang vaksin, dan produknya sudah dikenal di dunia dan mendapatkan pengakuan WHO namun masih menggunakan bahan baku dari luar. Untuk  itu, atas kesadaran dari pihak Biofarma dan dorongan dari KIN, terbentuk jaringan pelaku utama di bidang vaksin dengan tekad memproduksi vaksin sendiri secara terpadu mulai dari hulu sampai hilir.
Who:
Kementerian Kesehatan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan), Kementerian  Keuangan, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, PT. Bio Farma, PT. Indofarma,UGM, ITB, IPB, UNAIR, LIPI, BPPT
How:
Rekomendasi Umum:
  • Penelitian bidang kesehatan difokuskan pada penggunaan teknologi biologi molekuler (berbasis genomik dan proteomik) berbasiskan biodiversitas dan culture diversity yang ada di Indonesia.
  • Penelitian dan pengembangan vaksin sebagai agen preventif terhadap penyakit infeksi tropis yang umum terjadi di masyarakat (diare, disentri, dll)  perlu diprioritaskan.
  • Penelitian bidang kesehatan difokuskan untuk mengatasi penyakit infeksi tropis, degeneratif (diabetes, jantung, hipertensi), dan kanker.
  • Penelitian (farmakokinetika, farmakodinamika, dan toksikologi) terhadap obat tradisional terus dilakukan dan dikembangkan.
  • Penelitian sel punca (stem cell) perlu digalakkan dan dikembangkan aplikasinya dengan mempertimbangkan etika-etika kemanusiaan.
  • Dilaksanakannya identifikasi, inventarisasi, dan penyimpanan contoh sumberdaya genetika di seluruh wilayah NKRI, khususnya yang penting untuk ketahanan obat serta kesimbangunan pembangunan, dengan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada. 
  • Pengembangan industri alat dan fasilitas kesehatan segera dilakukan.
Rekomendasi Quick-win 2014:
Produksi dan pengembangan vaksin untuk pencegahan penyakit masyarakat perlu diprioritaskan. Vaksin tersebut adalah: Rota-vaccine-3; Pentavalent; sIPV dan Bird Close 5.1

2.  Rekomendasi Pembangunan Kawasan Industri Inovasi berbasis Unggulan Nasional dan Unggulan Daerah (Kombinasi Model Bottom-Up dan Top-Down)


Why:

Dalam rangka mengisi RPJPN (2005-2025) dan memperkuat MP3EI serta menghadapi persaingan global, pemerintah perlu memperkuat peranan sains, teknologi, dan inovasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Strategi pengembangan ekonomi Indonesia dilaksanakan dengan mengembangkan enam koridor ekonomi yang berbasis pada potensi unggulan nasional dan unggulan daerah untuk memperkokoh NKRI. Tantangan yang perlu diatasi antara lain: konektivitas dan infrastruktur, dan SDM yang belum memadai atau yang sudah ada mengalami proses penuaan. Lemahnya R&D management, program R&D yang belum sepenuhnya berorientasi pasar, ditambah  sinergi  akademisi-bisnis- pemerintah yang belum kondusif sulit menumbuhkan inovasi yang dapat melahirkan  IKM/UKM berbasis pengetahuan.
Who:
Kementerian Ristek, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Pemprov, Pemda, LPNK, Universitas, BUMN, dan Mitra Swasta.

How:

Rekomendasi Umum:
  • Perlu diciptakan Kawasan Industri Inovasi di setiap koridor sesuai dengan kebutuhannya agar para aktor inovasi dapat berinteraksi untuk mengembangkan potensi unggulan daerah;
  • Pemerintah perlu membuat payung hukum termasuk sistem insentif  untuk mendukung pengembangan Kawasan Industri Inovasi; dan
  • Pemerintah perlu melakukan penataan ekosistem inovasi untuk mengoptimalkan pengembangan SDM, sarana-prasarana, program, dan hubungan intersektoral di dalam Kawasan Industri Inovasi tersebut.
Rekomendasi Quick-win 2014:
  • Revitalisasi Puspiptek sebagai S&T Park (STP)
  • Pembangunan Bandung Raya Innovation Valley (BRIV)
  • Pengembangan Kawasan Industri Agrotek Jawa Timur
Catatan:
        Penjelasan masing-masing rekomendasi Quick win dijabarkan dengan lebih rinci di bawah ini.
2.1 Revitalisasi PUSPIPTEK: (Quick Win)
Why:
Puspiptek selama ini didesain untuk mendukung kebutuhan industri strategis dan keperluan testing, kalibrasi, dan pelayanan terhadap industri. KIN sudah berkoordinasi dengan Kemenristek, Kemenperind, dan Kementerian PPN/Bappenas mengenai revitalisasi Puspiptek menjadi Science and Technology Park (STP) berskala internasional. Disamping itu diharapkan Puspiptek dapat membina dan melaksanakan Program Inkubasi dan Start-up Company untuk menghasilkan Pengusaha Muda Indonesia berbasis S&T. 
Who:
Kemenristek, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan, LIPI, BATAN,  BPPT, KLH, LPNK, Universitas, BUMN, Mitra Industri.

How:

Rekomendasi:
1.Revitalisasi Puspiptek menjadi Science and Technology Park (STP) dengan meningkatkan sumber daya Iptek secara kualitatif dan kuantitatif dan mendirikan Puspiptek Innovation Center serta melaksanakan Program Start Up Company
2.Menjadikan Puspiptek sebagai badan usaha yang dikelola secara profesional dan mandiri berbentuk  Organisasi Badan Layanan Umum (BLU).
2.2 Pembangunan Bandung Raya Innovation Valley (BRIV): (Quick Win)
Why:
Usulan KIN mengenai Bandung Raya Innovation Valley (BRIV) didasarkan pada kenyataan bahwa ekosistem inovasi daerah Bandung dan sekitarnya relatif kondusif. Hal ini diindikasikan dengan adanya beberapa perguruan tinggi besar, lembaga litbang, dan berbagai industri besar. KIN sudah melakukan koordinasi dengan ITB, PT. LEN, PT. Pindad, PT. INTI, dan beberapa Kementerian terkait mengenai gagasan ini. Diharapkan BRIV dengan sistem insentif yang kondusif dapat menarik para pelaku industri besar berskala besar seperti Marvell Technology Group, Research in Motion (RIM), dan lainnya untuk membawa Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia. Selain itu BRIV sekaligus menumbuh-kembangkan para inovator muda Indonesia yang berada di berbagai institusi di Bandung Raya.
Who:
Kementerian Ristek, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, Institut Teknologi Bandung (ITB), BUMN, Pemprov Jabar, Pemda setempat,  Swasta
How:
Rekomendasi:
1.Mewujudkan terbentuknya Bandung Raya Innovation Valley  (BRIV) yang diharapkan menjadi pemicu berkembangnya industri berbasis teknologi di Indonesia.
2.Menyiapkan berbagai sistem regulasi dan insentif untuk menarik perusahaan multinasional agar menempatkan R&D Center di BRIV.
2.3 Pengembangan Kawasan Industri Inovasi Agrotek Jawa Timur: (Quick Win)
Why :
Pengembangan Kawasan Industri Inovasi unggulan daerah Gresik Jawa Timur didesain untuk membuat model kawasan industri inovasi daerah. Upaya ini diawali dengan adanya pengusaha yang bersedia sebagai Champion untuk mengembangkan usahanya mulai dari hulu ke hilir. Pihak Champion harus memiliki grand design yang diintegrasikan dengan rencana pengembangan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Dengan adanya model kawasan industri inovasi unggulan daerah ini, diharapkan seluruh Pemprov dan Pemda  dapat membangun kawasan  industri inovasi di daerahnya masing-masing. KIN sudah berkoordinasi dengan beberapa Kementerian terkait untuk melihat aspek Rencana Tata Ruang dan Wilayah dan status payung hukumnya.
Who:

Kementerian Perindustrian, Kementerian PU, Pemprov Jawa Timur, Pemda Gresik, Universitas, Lembaga Penelitian dan pihak bisnis swasta/investor terkait
How:
Rekomendasi:
1.Melalui pendekatan wilayah, memberikan payung hukum dengan status “Kawasan Industri “dan nama Kawasan Industri Inovasi Gresik.
2.Menyediakan lokasi/wilayah yang diperuntukan bagi Kawasan Industri Inovasi Gresik.
3.Menyediakan infrastruktur  pendukung, khususnya saluran irigasi dari Sungai Bengawan Solo
3. Rekomendasi Peningkatan Anggaran R&D Inovasi (Perlu arahan dari Bapak Presiden)
Why:

Transformasi inovasi melalui inisiatif inovasi 1-747, dilaksanakan dengan cara: pertama-tama melalui alokasi dana litbang sebagai input utama percepatan pertumbuhan. Dalam desain ini besaran belanja litbang yang harus dialokasikan adalah sebesar minimal 1 persen dari PDB setiap tahunnya hingga tahun 2014, atau lebih dari sepuluh kali lipat alokasi litbang APBN saat ini (0,07 persen). Secara berangsur-angsur alokasi litbang terus ditingkatkan hingga mencapai 3 persen pada 2025, bila Indonesia berketetapan hati untuk mencapai tahap Innovation Driven Economy . Untuk itu kontribusi pendanaan R&D dari pihak BUMN serta pihak swasta perlu ditingkatkan terutama untuk menangkap peluang masuknya investasi asing (FDI) melalui Perusahaan Multi Nasional  dalam rangka peran sertanya  di  6 koridor MP3EI.  
Who:
BKPM, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian PPN/BAPPENAS, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ristek, Kementerian BUMN, Kementerian ESDM.
How:
Rekomendasi Umum:
  • Menciptakan sistem insentif, regulasi, dan faktor lainnya yang kondusif agar menarik bagi investor untuk membawa jaringan investasinya terutama ke 6 koridor MP3EI;
  • Menyiapkan payung hukum yang memberikan kemudahan bagi para investor melaksanakan R&D dalam suatu Kawasan Industri Inovasi yang merupakan kawasan khusus (Bounded Area).
  • Melaksanakan PP 35 dan memberikan fasilitas pembebasan pajak lainnya yang mendukung kegiatan R&D di Kawasan Industri Inovasi. 
4. Rekomendasi Menumbuhkan Budaya Inovasi
Why:
Budaya inovasi suatu bangsa tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi merupakan evolusi budaya masyarakat yang berkembang, baik melalui pendidikan formal maupun informal.  Karya  kreatif,  publikasi, dan paten yang dihasilkan oleh perguruan tinggi atau lembaga riset telah bermunculan. Namun secara kuantitas masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dan masih kecil dampak inovasi terhadap pertumbuhan ekonomi.  Untuk itu,  diperlukan sistem pendidikan yang dapat menumbuh-kembangkan budaya inovasi.  Sistem pendidikan tersebut hendaknya memperhatikan kearifan dan budaya lokal sebagai landasan kreativitas dan budaya inovasi  bangsa.
Who:
Kementerian BAPPENAS, Kementerian Dikbud, Kementerian Ristek, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Dagri, Kementerian BUMN, LPNK, Pemerintah Provinsi, Perguruan Tinggi, LSM, dan Sektor Industri.
How:
Rekomendasi Umum:
  • Revitalisasi Sistem Pendidikan yang mengedepankan budaya sustainability development menuju keadaban, kemanfaatan, kesejahteraan dan kebahagiaan serta penghargaan terhadap riset dan inovasi.
  • Standardisasi evaluasi kependidikan dan kurikulum pendidikan dasar, menengah/kejuruan dan pendidikan tinggi yang bersifat discovery learning dengan menguatkan unsur kreatifitas peserta didik yang sudah berasimilasi dengan nilai-nilai kearifan lokal dan yang sudah memperhatikan kebutuhan industri.
  • Perlu sosialisasi Budaya Invensi dan Budaya  Inovasi  melalui: (1) Pusat Inkubator Teknologi di tiap daerah, dan (2) Optimalisasi infrastruktur TIK jaringan pendidikan nasional agar pembudayaan karakter inovasi tumbuh secara alamiah serta menjangkau seluruh peserta didik dan masyarakat di wilayah Indonesia.
  • Memperkokoh aktor untuk meningkatkan Science & Technology Readiness dan infrastruktur S&T berdaya saing, berharkat dan bermartabat untuk kemakmuran bangsa.
5. Rekomendasi Pembentukan Peta Rencana (Road Map) Menuju Sistem Inovasi Nasional (SINAS)
Why:
Disadari bahwa belum terjadi interaksi yang optimal antara akademisi/peneliti, pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan ekonomi berbasis pengetahuan. Banyak penemuan di pendidikan tinggi dan lembaga penelitian berhenti dalam bentuk invensi. Untuk itu dibutuhkan sebuah road map menuju SINAS yang terpadu dan akhirnya terbentuk konsensus nasional tentang SINAS yang komprehensif dan menjadi visi negara. Agar efektif dalam pelaksanaannya, SINAS seyogianya berada di bawah komando Presiden sehingga mudah melakukan harmonisasi kebijakan di bidang sains dan teknologi, pendidikan tinggi, industri, keuangan, SDM, dan HaKI.
Who:
Seluruh Perguruan Tinggi, LPNK, Kementerian, Industri Nasional dan Swasta
How:
Rekomendasi Umum:
  • Membentuk Tim untuk menyusun SINAS lintas Kementerian, dunia  pendidikan, lembaga penelitian, serta industri dan masyarakat.
  • Membangun konsensus antar para pemangku kepentingan tentang arah dan tujuan SINAS dengan mempertimbangkan comparative dan competitive advantages dari Indonesia.
  • Menjalin kerja sama dengan berbagai pihak kompeten di dalam dan luar negeri untuk menghasilkan satu dokumen  SINAS yang komprehensif dan berkualitas. 

0 comments:

Posting Komentar

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP