powered by Google

Video: Pengalaman Alumni ITB dan Supir Taxi Jujur di Singapura

Kamis, 03 April 2014


From: akhmadkh
Sender: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Date: Thu, 3 Apr 2014 13:35:59
Subject: [Senyum-ITB] Tan Hsie Long dan Kejujurannya


Tan Hsie Long dan Kejujurannya

Cerita ini bukan tentang orang2 hebat Indonesia yg mengumbar janji2
memabukkan pada rakyat.

Juga bukan tentang dua orang kawan yg tadinya begitu akrab saling
bahu-membahu. Tiba2 karena nafsu berkuasa, maka kesetiaan dan kepantasan
dilupakan.

Juga bukan cerita seorang yang dianggap lugu, sederhana dan jujur. Tapi
tiba2 diserang penyakit nafsu berkuasa sehingga ia lupakan semua janji2
indahnya. Janji untuk setia memegang amanah yg dititipkan kepadanya. Janji
untuk menyelesaikan masalah. Janji utk memenuhi ucapan sendiri. Tapi nafsu
berkuasa begitu menggodanya. Sehingga ternyata semua keluguan yg nampak
selama ini adalah topeng belaka.

Ini hanya cerita seorang sopir taxi yg lugu, jujur dan teguh pada profesi.
Cerita bermula dari Newton road di negeri singa. Saya menyetop taxi untuk
membawa saya ke Jurong yg jaraknya cukup jauh,sekitar 30-45 menit
perjalanan. Begitu naik ke taxi, sy kasihkan alamat yg saya tuju dan ada
petunjuk yg diberikan di sana. Petunjuk ini dari email yg dikirim seorang
partner.  Rupanya dia belum begitu tahu daerahnya. Yang dia tahu hanya
lokasi secara garis besar saja.

Singkat cerita, setelah daerah yg dituju hampir sampai, dia baca lagi
petunjuk yg saya berikan." Ambil Exit 18, setelah ketemu big junction, belok
kanan menuju Pioneer Road", begitu bunyi petunjuk yg ada di email saya dan
sy berikan ke dia utk diikuti.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit, dia merasa bahwa petunjuk itu
kayaknya salah. Maka taxi dihentikan, dan dia baca peta tuanya dari dalam
kotak. Setelah agak lama membuka-buka, mukanya cerah. Dan dia bilang "I got
it".

Maka segera taxi diputar balik dan meluncurlah ke arah yg benar. Sambil
mencari alamat yg dituju, dia bilang ke saya :"Nanti saya kurangi tarif
taxinya ya, karena ini kesalahan sy yg seharusnya saya tahu dengan persis
lokasi tujuan penumpang, tapi sy tidak tahu shg anda harus berputar-putar
jauh, dan ongkosnya lebih mahal".

Saya jawab "Nggak usah di potong, saya bayar penuh (dalam batin saya wong
uangnya juga bukan dari kantong saya kok), kan saya yg kasih petunjuk
jalan, dan ternyata petunjuknya yang salah". Dia  masih ngotot "Nggak, anda
berhak utk mendapat potongan harga taxi, krn kesalahan sy sbg sopir taxi yg
tidak tahu dengan persis tujuan tamunya". Saya jawab lagi :"Nggak apa2, toh
uang bukan dari kantong saya, company yg akan bayar!!".

Dia masih ngotot :"Pokoknya saya akan potong tarifnya, begitu kata dia". Tak
lama sampailah di tempat tujuan. Saya minta kwitansi dan bertanya berapa
ongkosnya. Dia  jawab dg harga yg lebih murah dari yg tertera di meteran.
Lalu saya baca sendiri meteran taxi tersebut, bacaannya 20.25. Lalu saya
kasih uang 21 sin$. Dia masih nggak mau dan ngotot agar harganya dikurangi
saja. Setelah debat cukup lama, saya bilang :"Kalau anda tidak mau ambil
uang ini, saya tidak akan keluar dari taxi ini sampai kapanpun". Akhirnya
dia menyerah dan mau menerima uang tersebut. Setelah itu dia masih minta
maaf 2 kali ke saya karena dia merasa sangat bersalah atas kejadian tadi.
Itulah Tan Hsie Long (kalau nggak salah eja begitulah namanya). Seorang
sopir  taxi di negara singa, umur mungkin 55-an ke atas. Garis2 keriput di
wajahnya menunjukkan ketuaannya dan beratnya perjuangan hidup. Di sepanjang
perjalanan sebelumnya, dia cerita "Di sini anda tidak boleh sakit, kalau
mati boleh". Karena kalau sakit bayarnya mahal dan anda tidak bisa kerja,
maka nggak dapat uang.

Saya sangat hormat dan kagum dengan budi pekerti dan kebersahajannya.
Keberanian utk mengakui kesalahan dan bahkan mengajukan diri utk menerima
akibat dari kesalahannya. Walaupun menurut ukuran saya, justru sayalah yg
salah krn petunjuk yg saya berikan ternyata salah. Ditengah2 keterbatasan
dan beratnya menjalani sisa2 hidupnya, dia memilih sikap jujur dan ksatria.

Standar moral yang tidak berbekas lagi di negri ini. Apalagi di jaman para
politisi umbar janji, dan rakyat yg juga sama serakahnya. Dengan 50 ribu,
kaos dan bensin, diterima semua pesanannya. Merah hayoo, kuning hayoo, biru
hayoo ... Pokoknya dapat duit.

Juga sangat jauh dari pengalaman saya  dengan taxi di tanah air. Sy pernah
naik taxi yg konon pelayanannya terbaik saat ini. Dan sy memang langganan.
Hari itu,  setelah naik taxi saya bilang, matikan radionya, krn saya mau
istirahat. Lalu dimatikan sebentar. Tak lama dihidupkan lagi. Lalu saat dia
mau ambil JLNT Kp Melayu-Tn Abang, saya bilang jangan ambil jalan itu, ambil
jalan bawah aja krn kita akan kelewatan. Dia ngotot, "ini jalan yg cepat
Pak, jangan kuatir". Begitu tiba di ujung turun jalan layang, baru dia tahu
bahwa jalan yg diambil salah. Maka harus putar balik sekitar 3 km-an. Untung
masih pagi shg tidak begitu macet. Akhirnya sampailah di tujuan. Ongkos 55
ribu sekian. Saya ada uang 70 ribu, maka saya kasih uang itu. Tapi dia nggak
punya kembalian 15 ribu, yg ada hanya 5 ribu. Maka sy terima saja. Artinya
saya bayar 65 ribu. Tidak ada minta maaf, tidak ada inisiatif mengurangi
ongkos taxi krn kesalahan dia tdk mengikuti petunjuk saya. Bahkan dia buat
kesalahan, shg saya bayar lebih mahal.

Itulah potret dua bangsa bertetangga yg begitu jauh. Bagai langit dan bumi.
Dan prinsip hidup sederhana : jujur, ksatria, bersahaja, berani mengakui
kesalahan dan berani meminta maaf, adalah resep maju dan kuatnya negara.
Sesuatu yg telah hilang dari negri kita.

Semoga belum terlambat.  Seorang pemimpin yg saat kampanye berjanji berapi2
akan memegang amanah jabatannya kalau terpilih nanti sampai selesai, tapi
nafsu kekuasaan melenakan dia. Lupa akan janjinya. Yang tadinya di kenal
lugu dan tidak neko-neko, ternyati sama aja. Kekuasaan memang laksana racun
yg memabokkan. Kekuasaan menyilaukan, membuat lupa pemburunya. Tapi, masih
ada waktu, sadarlah. Setia pada janji adalah resep kesuksesan hidup. Setia
pada janji harus dicontohkan para pemimpin. Belum terlambat kalau mau
mengoreksi diri. Tapi kayaknya harapan ini hanya mimpi. Semoga rakyat tidak
tertipu untuk yang kesekian kali.

------------------------



Singapore Taxi View: Marina Area to Orchard Road


Singapore Yellow-Top Taxi


1 comments:

IA-ITB 3 April 2014 pukul 08.29  

Terima kasih sudah mau berbagi cerita yg baik ini.

Saya juga pernah medapat pengalaman yg menyenangkan ketika menggunakan jasa taxi di Singapura. Dalam perjalanan kembali ke hotel di kawasan Orchad, supir taxi menerangkan banyak hal tentang obyek menarik selama perjalanan, ditambah keramah tamahannya, saya tidak sabar untuk berterima kasih dan menyatakan rasa senang saya kepada supir taxi, padahal saya belum tiba ditujuan.

Sopir taxi berkata "kalau bapak senang, semoga bapak kembali lagi ke Singapura. Kalau banyak orang senang dan kembali lagi ke Singapura, ekonomi jadi bagus, dan orang seperti saya akan tetap mendapat pekerjaan"

Yang menarik, ternyata Dinas Pariwisata Singapura telah melatih para sopir taxi untuk fasih bercerita ala Pemandu Wisata alias Tour Guide. Tidak lain untuk menyenangkan para tamu.


Suta Vijaya TA77

Posting Komentar

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP