powered by Google

Kebudayaan dan pembangungan ekonomi nasional

Jumat, 21 Maret 2014

From: Widodo
Date: Fri, 21 Mar 2014 19:37:36
Subject: [sinergi-ia-itb] Kebudayaan dan pembangungan ekonomi nasional

Orang Jepang pemalas dan orang Jerman pencuri.

Saat ini tidak terbayangkan bahwa kata-kata diatas berdasar
pengamatan nyata "orang asing" terhadap bangsa Jepang dan Jerman.
Jepang sebagai bangsa pemalas ditulis oleh seorang konsultan
industri dari Australia dalam artikel "Japan Times" terbitan 18
Agustus 1915. Uraian lebih lengkap terdapat pada buku "Evolution of
the Japanese" yang ditulis oleh Sidney Gulick pada tahun 1903,
seorang misionari Amerika. Gulick pernah tinggal di Jepang selama 25
tahun, menguasai bahasa Jepang dengan baik dan mengajar di beberapa
universitas Jepang.

Demikian pula dengan Jerman sebelum kebangkitan industrinya pada
pertengahan abad-19. Orang Inggris menyebut orang Jerman sebagai
"bodoh" dan "pemalas". Seperti yang ditulis oleh John Russel (1820),
seorang penulis perjalanan wisata. Orang Inggris juga menyebut orang
Jerman sebagai yang tidak dapat dipercaya, tidak jujur. Seperti yang
diungkapkan oleh Sir Arthur Brooke Faulkner, dokter yang berdinas di
angkatan darat Inggris:

“the tradesman and the shopkeeper take advantage of you
wherever they can, and to the smallest imaginable amount rather than not
take advantage of you at all … This knavery is universal”

Dari uraian diatas, bagaimana bangsa yang sekarang dikenal sangat
kaya dan makmur, mempunyai sejarah kebudayaan barbar sedemikian rupa.
Yang tidak terbayangkan mampu memperbaiki taraf hidupnya.

Pertanyaannya dan sering kita argumentasikan, bahwa untuk melakukan
pembangunan ekonomi nasional diperlukan pengubahan karakter kebudayaan
nasional. Atau sebaliknya, dengan semakin baiknya keadaan ekonomi
nasional, maka kebudayaan menyesuaikan diri?

Itu teori, praktiknya bagaimana? Kebudayaan adalah sistem yang rumit
(kompleks) bahkan untuk mendefinisikannya suatu kesulitan tersendiri.
Kebudayaan yang baik dapat mendukung pembangunan nasional, ini tidak
saya sanggah. Pembangunan nasional yang baik lebih banyak
mempengaruhi kebudaayan kebiasaan karakter suatu bangsa.

Kebudayaan tidaklah bersifat kaku, kebudaayan dapat diubah melalui
upaya-upaya bersama berkaitan dengan pembangunan ekonomi, kampanye
ideologi, serta kebijakan institusi pendukung untuk mendorong kepada
suatu bentuk kebiasaan, dengan bergulirnya waktu menjadi benih
kebudayaan nasional.

Tulisan diatas adalah rangkuman dari bab 9 "Lazy Japanese and
Thieving Germans", buku "Bad Samaritans: Rich Nations, Poor Policies,
and the Threat to the Developing World" karya Profesor Ha Joon Chang.
Yang dapat dibaca (19 halaman) pada tautan berikut:

http://www.sed.manchester.ac.uk/research/events/conferences/povertyandcapital/chang.pdf


Salam,

widodo.sw
EL-91

-------------------------------------

Komentar:

From: Satria Zulkarnaen
Date: Fri, 21 Mar 2014 14:02:27 +0100
Subject: Re: [sinergi-ia-itb] Kebudayaan dan pembangungan ekonomi nasional



Mas Widodo coba cari di google untuk mendapatkan link streaming nonton dorama Jepang yang judulnya "Saka no Ue no Kumo". 13 atau 15 episode yang diputar pada tiga tahun yang berbeda. 
Film ini diangkat dari novel non-fiksi yang berjudul sama mengisahkan tentang kehidupan tiga orang berkawan saudara pada periode setelah Restorasi Meiji, tepatnya di sekitar masa perang Russo-Japan. Jadi tepat dengan masa yang Mas Widodo tulis di atas. 

Ketiga orang tersebut adalah: Akiyama Saneyuki, Akiyama Yoshifuru, dan Masaoka Shiki. Mereka adalah tiga tokoh sejarah Jepang. Kedua bersaudara Akiyama menjadi tokoh kunci kemenangan Jepang melawan Russia secara militer. Dan Masaoka Shiki adalah tokoh kunci revolusi kebudayaan Jepang. 

Coba ditonton deh. Dari situ kita bisa belajar banyak tentang revolusi berpikirnya orang Jepang di masa tersebut. Dan tentunya dari perspektif internal orang Jepang-nya, bukan dari perspektif eksternal visitor Inggris atau Amerika di masa itu, dimana tentunya mereka punya prejudice tersendiri. Bagaimana mereka membangun Angkatan Laut dan Kavaleri-nya dari "scratch", juga bagaimana sistem pendidikan di sana berubah. 

Dan kalau bisa, Mas Widodo cari juga buku "Edo Inheritance" tulisannya salahsatu keturunan Tokugawa untuk memahami bagaimana Jepang sebelum masa restorasi Meiji. Apa sih fondasi yang sudah terbangun sebelum itu. Dan kalau sempat ke Tokyo, mengunjungi Edo Museum (di sebelah stadion Sumo) bisa menjadi cara yang baik melihat transformasi Jepang sendiri. 

Untuk Jerman, buku "German Genius" patut jadi referensi hal yang serupa. Selain mengunjungi "Deutches Museum" di Munich seharian penuh bisa membuka wawasan akan perubahan Jerman. Timeline-nya memang di sekitaran yang Mas Widodo sebutkan. 

Tapi ingat 1820, Jerman masih terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, sementara Jepang sudah menjadi one nation sejak zaman Tokugawa. 

just my 2 cents, 

Satria FI`02

0 comments:

Posting Komentar

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP