powered by Google

Wirausaha Berbasis Teknologi di Indonesia dan Data CEO Google

Senin, 13 Januari 2014


Sewaktu CEO Googgle Eric Schmidt berkunjung ke Indonesia dan menyampaikan data-data tentang prospek pengembangan bisnis berbasis teknologi di negeri ini, saya sempat agak terkejut (walaupun tidak terlalu heran). Di-informasikan bahwa Indonesia menduduki ranking kedua pemakai Facebook dan juga ranking ketiga untuk pemakai Twitter. Beberapa tahun yang lalu, kecepatan internet untuk mendownload video masih memerlukan waktu sekitar 20 menit. Tetapi sekarang dengan berkembangnya high speed internet di seluruh Indonesia dan juga dengan biaya telekomunikasi yang semakin murah, maka akses ke internet menjadi sangat cepat dan semakin terjangkau. Tulisan tentang ini pernah saya liput sebelumnya.

Dengan pasar yang sangat besar dan juga dengan semakin tersedianya akses internet berkecepatan tinggi, yang jangkauannya semakin meluas, peluang perkembangan berbagai macam kewirausahaan berbasis teknologi di Indonesia, diprediksi akan semakin melejit.Menurut majalah Forbes, perkembangan kewirausahaan di India dan China sudah relatif jenuh. Selain itu, jumlah pemodal yang ber-investasi pada ”start-up companies” pada negara-negara tersebut, sudah relatif sangat banyak. Di Indonesia justru sebaliknya, peluang bisnis sangat terbuka lebar, tetapi investornya masih sangat sedikit. Itulah sebabnya, statement Eric Schmidt sempat mendorong banyak investor manca negara mulai melirik untuk ber-investasi pada start-up technology companies di Indonesia. Contoh-contoh awalnya memang sudah terlihat sepertiGroupon membeli Disdus, Tripadvisor mengakuisisi Tripadvisor.co.id. Lalu investor mulai melirik www.Kaskus.us  karena transaksi per tahun-nya sudah mencapai US $ 100 juta dengan 33 juta pengunjung dari kalangan muda (catatan saya : penangkapan polisi untuk transaksi di Kaskus, waktunya hampir berbarengan dengan adanya calon investor yang sedang menjajagi untuk investasi di portal ini).

Untuk melihat betapa bergairahnya perkembangan kewirausahaan di bidang teknologi, khususnya pada kalangan muda, silahkan kunjungi  www.startuplokal.org (lihat foto di kiri atas). Komunitas ini dibangun oleh 4(empat) orang Aulia Halimatussadiah (Ollie @salsabeela),Natali Ardianto (@nataliardianto), Nuniek Tirta (@nuniek) dan Sanny Gaddafi (@SaGad). Merekalah yang membangun komunitas start-up tech companies di Indonesia dan menginisiasi pertemuan dengan Eric Schmidt, Hillary Clinton dan para petinggi dari berbagai perusahaan maupun jajaran pemerintahan. Program-program dan tawaran-tawaran kerja sama untuk ber-investasi banyak ditayangkan pada portal ini (silahkan lihat link showcase). Juga ada banyak program-program kompetisi kewirausahaan untuk menghasilkan start up company yang terbaik, seperti Project Eden yang sangat sukses dilaksanakan bulan Juli lalu.  Silahkan kepada teman-teman calon investor untuk mem-browse website bagus ini. Siapa tahu berminat untuk mulai ber-investasi pada berbagai bisnis yang sangat beragam.

Untuk menguji sejauh mana perkembangan start-up companies dalam kehidupan sehari-hari, saya mencoba 2(dua) masalah utama yang sedang dihadapi keluarga kami, khususnya menjelang lebaran, yaitu mudiknya para pramuwisma alias pembantu rumah tangga. Saya mencoba mencari tempat cucian kiloan dan juga catering untuk sahur, melalui internet. Ternyata website untuk melayani kebutuhan ini sudah sangat banyak tersedia, contoh-contohnya :

-         Untuk catering pengiriman makanan buka puasa dan sahur silahkan kunjungiwww.cateringjakarta.net . Saya sudah mencobanya.

-         Untuk cucian kiloan saya search Google dan ternyata jasa ini sangat banyak tersedia di Jakarta. Saya juga sudah mulai mencoba jasa yang ditawarkan www.cucikiloan.com dan jugawww.laundryfirst.com (lihat foto dikanan)

Jasa-jasa tersebut menyediakan pelayanan pengambilan dan juga pengantaran secara gratis. Ciri-ciri generasi enterpreneur muda terlihat dari cara mereka melakukan usaha pada berbagai bisnis diatas. Pertama, website mereka dibuat cukup cantik dan menarik. Umumnya sang pemilik langsung beroperasi dengan menggunakan handphone, dan menangani sendiri penerimaan order serta melakukan koordinasi pengaturan pekerjaan. Hal-hal seperti ini adalah typical layaknya sebuah start-up company dengan overhead yang diupayakan serendah mungkin. Bravo kepada para enterpreneur muda Indonesia.


Demikian sharing informasi.



Sumber: www.triharyo.com

0 comments:

Posting Komentar

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP