Deng itu salah satu pemimpin Asia yang matanya tajam. Hanya beberapa bulan setelah dia naik kembali, November 1978, Deng datang ke Singapura dengan membawa tim besar (36 orang). Topik panas waktu itu adalah Vietnam yang baru menang perang, punya angkatan bersenjata luar biasa besar dan terlatih. Tapi bukan hanya itu, Deng sudah mendengar bagaimana dalam waktu 13 tahun (negara Singapura berdiri 1965) sudah ada kawasan industri yang hebat di Jurong. Padahal semula Jurong itu daerah hutan dan rawa yang penuh nyamuk.
Dalam waktu singkat Jurong, pada waktu itu (1978) area seluas 5 km2, sudah menjadi kota industri dengan prasarana modern. Ada banyak pabrik modern, ada 3 kompleks pengilangan minyak raksasa, industri petrokimia, industri besi-baja, industri perkapalan, dll. Deng terpesona! Apalagi karena hanya beberapa ratus meter dari Jurong dia lihat kota Singapura yang sangat dinamis tetapi sekaligus begitu bersih, banyak taman-taman yang indah dan nyaman, dengan transportasi umum bagus, public housing yang bagus,..... kota modern yang enak dihuni.
Selama kunjungan itu Lee Kuan Yew berbagi pengalaman dengan Deng (Gue rasa sebenernya dia kasih ceramah, tapi mana berani dia bilang itu ceramah, Lee kagum sekali sama Deng). Dengan detail dia cerita bagaimana mengembangkan Singapura. Bagaimana kebijakan pintu terbuka tapi juga terkontrol untuk menarik modal dan teknologi luar, bagaimana menyusun kebijakan industri, finansial, tata-ruang, tata kota, dsb.
Deng menyadari Singapura menjadi negara kota yang modern dalam waktu singkat mula-mula memang karena lokasinya di jalur perdagangan yang sangat strategis. Tetapi selain itu juga karena masuknya modal dan teknologi asing yang dikelola oleh pemerintahan yang bersih. Deng juga kagum karena dalam membanjirnya arus modal dan teknologi, Singapura tetap tidak terseret dan bisa menjaga identitas budayanya sendiri.
Dua tahun kemudian, 1980, Deng melancarkan program Special Economic Zone. Mula-mula hanya 4 SEZ, semuanya di pantai timur: Shenzhen, Zhuhai, Shantao dan Xiamen. Kemudian meluas ke Pulau Hainan dan Shanghai. Sedikit banyak ide membuka RRT ini diolah dari kunjungannya ke Singapura. Dan ketika di akhir dekade 80an itu akibat buruk keterbukaan – korupsi, kolusi, nepotisme – mulai menyebar, yang dikatakan Deng adalah, “Kalau kita buka jendela, udara segar masuk. Tapi pasti masuk juga nyamuk dan lalat. Dan kita tahu bagaimana menghadapi ini, ... lihat Singapura!”
0 comments:
Posting Komentar