Image
Berfoto sejenak di depan Gare du Nord, Paris
a small step for my Ph.D study
Puji Tuhan, akhirnya saya tiba di Perancis. Saat ini saya sedang menulis catatan ini di dalam kamar apartment saya di kota Calais. Saya terbangun di pagi hari, sekitar jam 4.30 (pukul 10.30 di Bandung). Saya terbangun karena masih mengalami jet-lag, perbedaan waktu hingga 6 jam membuat jadwal tidur dan makan saya menjadi berubah.
Saya bangun pagi-pagi dengan perasaan campur aduk. Ada sedikit antusiasme memulai kehidupan yang baru di sini, namun kebanyakan adalah perasaan yang melow, rasanya saya ingin pulang saja ke Bandung. So, daripada terlalut dengan perasaan itu, saya pun memutuskan untuk menulis catatan perjalanan ini. Mungkin bisa memberi inspirasi kepada and yang membacanya, atau sekedar memberi informasi bagaimana suasana di Perancis.
Saya tiba di sini hari Senin lalu, 17 Desember 2012. Saya memulai perjalanan dari Bandung pada hari Minggu. Minggu pagi saya pergi ke gereja untuk beribadah di sana dan pamitan kepada teman-teman saya. Satu hal yang membuat saya terharu adalah ketika doa terakhir (syafaat), Pendeta secara khusus mendoakan saya. Well, doa tersebut menjadi semacam peneguhan untuk saya agar bisa berangkat ke Perancis.
Saya lalu berangkat ke Jakarta dengan travel, perjalanan dari rumah ke travel nya sendiri diantar oleh mama dan adik saya. Di perjalanan, mama berpesan agar saya menjaga kesehatan dan menghubungi dia apabila saya kekurangan uang di sini.
Sesampai di Jakarta, saya menunggu flight  di sebuah louge, saya juga menunggu pacar saya yang hendak pulang ke Bandung karena sudah libur kuliah.
Pertemuan terakhir sebelum saya berangkat tersebut begitu singkat. Saya sendiri direpotkan dengan merekam beberapa DVD untuk saya tonton di Perancis, kami juga repot mencari travel dari bandara ke Bandung. Pertemuan itu memang terasa singkat, tidak seperti biasanya dimana kami bisa menghabiskan waktu seharian untuk jalan-jalan dan ngobrol.
Well, the time went by and we have to say goodbye. Maybe we have a very little time since we have this relationship. I went to France on our first month anniversary. I know it is only one month, but the we felt the sad feeling to separate for a long time.
Saya lalu terbang menuju Perancis dengan transit di Abu Dhabi. Saya menggunakan pesawat Etihad Airways.
Di atas pesawat saya ngobrol dengan seorang Bapak asal Bandung yang juga hendak pergi ke Perancis. Bapak ini bersama 3 teman lainnya hendak pergi untuk urusan kenegaraan, yakni mengaudit sebuah perusahaan di Paris. Mereka kerja di Kementrian Perindustrian dan Perdagangan.
Satu hal yang mereka katakan kepada saya adalah:
wah, mas Chris enak ya belum berkeluarga… jadi bisa pergi untuk studi lama tanpa harus mikirin keluarga
Sejenak saya jadi berpikir, “wah saya yang baru punya pacar saja ngerasa sedih ninggalin, apalagi teman-teman lain yang memiliki keluarga?”. Sesaat itu juga saya bersyukur untuk ke-single-an saya, karena saya tahu ada beberapa teman yang harus meninggalkan anak dan istri ada yang harus meninggalkan anak dan suami mereka.
Singkat cerita, saya sampai di Paris pukul 7 pagi. Saya heran dengan suasana di Paris. Matahari belum terbit pada waktu itu, bahkan hari masih sangat gelap. Orang yang duduk di sebelahku berkata bahwa matahari terbit jam 9 pagi di Perancis. Saya juga heran dengan suasana kota yang sepi (saya melihat lalu lintas yang sepi dari atas pesawat). Padahal saya tahu bahwa Paris adalah kota besar. Dan ternyata setelah saya tanyakan, office hours (jam kantor) di sini dimulai pukul 9 pagi. Berbeda dengan di Bandung, dimana pukul 7 pagi, lalu lintas sudah sangat ramai.
Tiba di Paris
Saya tiba di bandara Charles de Gaule dan menunggu seorang teman yang akan menjemput. Saya menunggu cukup lama, mungkin sekitar 45 menit, dan ternyata teman saya terlambat karena kereta yang dia naiki mengalami keterlambatan.
Kami lalu ngobrol banyak sejak perjalanan dari bandara ke stasiun kereta, mungkin sekitar 20 menit-an. Di stasiun saya bertemu dengan seorang teman lagi yang hendak mengambil titipan keluarganya.
Sambil menunggu kereta ke Calais (pukul 11:46), saya dan teman saya ngopi sejenak di McD yang terletak di depan stasiun. Kami bicara soal banyak hal, kebanyakan tentang kehidupan di Perancis.
Jadwal kereta pun tiba dan saya harus berangkat ke Calais. Saya menikmati pemandangan selama di perjalanan yang didominiasi oleh ladang persawahan yang luas.
Tiba di Calais
Saya tiba di stasiun Calais Frethun, karena tidak ada yang menjemput saya pun naik taxi hingga ke residence (tempat tinggal). Di sini lah akhirnya saya bertemu dengan dua orang teman Indonesia yang mengantar saya untuk check-in, naik ke lantai 4 dan berbelanja makanan.
Di hari pertama tersebut, tidak banyak barang yang bisa saya beli, karena perut kami sudah lapar dan hari sudah gelap dan dingin. Well, yang saya tahu, kota ini adalah kota kecil yang sepi. Saya menyukai kota ini, mirip seperti kota Kanazawa tempat saya menempuh pendidikan master dua tahun yang lalu.
Kalau saya menyelidiki perasaan saya, saya antara siap dan tidak siap menjalani kehidupan yang baru ini.
Saya rasa, pengalaman saya ketika menjalani hari-hari pertama di Jepang dulu cukup membantu membuat perasaan saya stabil. Walau baru dua hari saja, saya sudah ingin pulang.
But anyway, there is a reason that God put me here. I’ve been through all the obstacles and challenges for my Ph.D here. I don’t wanna waste his grace. So, welcome a new life at Calais.
- be blessed
Sumber: chrisphdlife.wordpress.com

Peta: Gare du Nord, Paris (A) - Calais Frethun, Calais (B) = 283 km

View Larger Map