powered by Google
Tampilkan postingan dengan label Betti Alisjahbana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Betti Alisjahbana. Tampilkan semua postingan

Senjata Buatan PINDAD

Senin, 27 Februari 2012

From: Betti Alisjahbana
Date: Mon, 27 Feb 2012 03:22:29






Rekan-rekan Alumni,

Seusai memberikan pelatihan kepemimpinan, selain mencoba panser, saya juga mencoba senjata buatan Pindad. SS1 desainnya FN Belgia dan dipasarkan di Afrika, Sementara SS2 murni desain Pindad dan digunakan oleh TNI.

Di bawah ini foto saya ketika mencoba menembak. Ternyata cukup akurat lho. Cuma kalau pakai pistol masih meleset euy. Mesti lebih banyak latihan ;-)


Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana - AR79



Baca juga :
Panser Buatan Pindad

Read more...

Panser Buatan Pindad

From: Betti Alisjahbana
Date: Mon, 27 Feb 2012 03:09:17







Rekan-rekan Alumni,

Melanjutkan diskusi tentang keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Pagi ini saya memberikan pelatihan kepemimpinan di PT PINDAD dan sesudahnya sempat mencoba mengendarai Panser mereka, wah kereen lho. Panser ini dipakai di batalion kav seluruh Indonesia, di 2 batalion infantri mekanis, dan di UNIFIL Libanon Selatan. Sedang finalisasi expor ke Malaysia. Saat ini sudah delivery 161 panser, kedepan sudah LOI 100 panser lagi sampai dengan 2014.
Dirut Pindad adalah Adik Soedarsono MS 79

Terlampir adalah foto saya di atas panser ;-)



Salam hangat penuh semangat
Betti-AR79



Baca juga :

Senjata Buatan PINDAD

Read more...

Betti Alisjahbana AR79 mengirim lagu berirama bossas

Jumat, 24 Februari 2012

2010/10/12 99Venus Team wrote :


Oh ternyata Dubes Ari suka nge-bossas.

Kalau begitu, Betti kirim lagu berirama bossas Fly Me to The Moon ya.
Dinyanyikan oleh penyanyi yang bersuara merdu seperti suara Dubes Ari loh. Siapa hayo ?

Sering diputar menemani Betti waktu ngelembur tengah malam mengerjakan tugas-tugas gambar waktu kuliah di Arsitektur dulu.


Untuk melihat videonya, silahkan mainkan rekaman berikut :



Fly me to the moon
And let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a-Jupiter and Mars






Salam nge-bossas penuh semangatsss,

;-))
Betti Alisjahbana dan 99Venus Team






Baca juga:
- Betti mau menjajaki karir sebagai penyanyi OSD HMT-ITB



----- Original Message -----
Sent: Tuesday, October 12, 2010 8:10 AM
Subject: [ITB-Club] Mbak Betti / Quiz: Apakah Dubes Ari & ITB-Club juga suka jazz ?

Jazz, Bossa, ogut suka.
Tapi jarang kunyanyikan dipanggung. Kecuali pas suasana tenang, saat jam makan, saat pagi2 ngawali acara kayak pas tanding tenis di hotel hilton dulu, saat pesta kawinan, dan saat2 ogut kehabisan stok lagu, hehehe. Saat sudah nggak ada yang mau nyanyi lagi, hahaha. Katanya cocok dgn suaraku yang melo :).

Mbak Betti memang jago nyanyi. Makanya waktu ogut jadi ketua panitia ITB Bowling Open di MAG, kusediain band, karena ada rencana mbak Betti mau hadir, ikut tanding bowling, nyanyi dan kampanye pilketum. Sayang bentrok dgn acara luar kota. Tapi kirim tim suksesnya dgn seragam kaos "ToGetHer"-nya. Tim sukses paling meriah saat itu. Kandidat yang hadir Mas Hengki, yang satu lane dengan saya. Ada pemain bowling bagus yang jago nyanyi juga saat itu, Benny si76.
Kalo nyanyi lagunya Engelberth, wouwww asoy geboy.

Kita tunggu live-nya mbak Betty nyanyi lagu Fly to the Moon didepan khalayak milis ITB Club.
Tariikkkk manngggg.



:-)
Sengkyu-@ri lurah ms76.

Read more...

Petualangan Betti Alisjahbana AR79 di Pulau Komodo

Jumat, 17 Februari 2012

Petualangan di Pulau Komodo
Kamis, 07 Agustus 2008



Beberapa minggu yang lalu kami sekeluarga beserta keluarga Marita dan Marga ( kakak Mario) dan dua teman keluarga berkewarganaan Amerika, melakukan petualangan di Pulau Komodo yang memberikan pengalaman baru. Seluruhnya ada 21 orang di rombongan kami. Berikut ini adalah sedikit ceritanya.

Perjalanan kami ke Pulau Komodo dimulai dengan penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo, kota pelabuhan di barat pulau Flores. Penerbangan menggunakan pesawat Fokker 50 itu memakan waktu 1 jam 20 menit. Rupanya mayoritas penumpang nya adalah orang asing. Kami seharusnya hanya membawa barang-barang secukupnya saja, akan tetapi kareana sebelum itu kami berlibur di Bali, maka barang bawaan kami pun cukup banyak. Untuk meyakinkan bahwa pesawat kami tidak melampau beban yang diijinkan, maka masing-masing penumpang ditimbang bersama dengan barang bawaannya. Pengalaman ditimbang di timbangan barang ini cukup unik dan menggelikan juga. Rasanya kami seperti barang yang hendak di jual saja.

Pesawat kami mendarat pada tengah hari. Saya sungguh kecewa ketika menyadari bahwa tidak ada sinyal XL disana, sementara Telkomsel dan Indosat bisa beroperasi dengan baik. Dengan ketergantungan yang sangat tinggi pada handphone selama ini, hidup tanpa handphone terasa sangat tidak nyaman. Labuan Bajo adalah kota pelabuhan berpenduduk 12000 orang, kebanyakan adalah nelayan. Rumah-rumah disana tampak sederhana dari bahan kombinasi bata/batako dan kayu dengan atap seng. Pendapatan utama didapat dari hasil laut, hasil perkebunan (kopi, macademia, pisang), turisme dan pertambangan.

Dengan mengendarai bis kami menuju pelabuhan untuk naik ke kapal laut dari kayu. Kapal kayu sederhana yang kami tumpangi dilengkapi dengan kamar tidur diruang bawah dan ruang duduk di dek atas. Kapal ini disewa khusus untuk rombongan kami. Tanpa buang waktu kami langsung berlayar menuju pulau Rinca. Perjalanan ke pulau Rinca dari Labuan Bajo makan waktu sekitar 2 jam. Kami menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan laut nan biru yang indah dan sejuknya hembusan angin.



Air laut di sana terlihat sangat jernih dengan ikan-ikan berwarna-warni yang tampak jelas dari atas. Dikiri kanan tampak bukit-bukit yang dari jauh tampak hijau di bagian bawah namun tandus di puncaknya, mengigatkan saya pada kepala orang botak..ha..ha..ha.





Pulau Komodo dan pulau-pulau disekitarnya ditetapkan sebagai Taman Nasional di tahun 1980. Taman seluas sekitar 2000 kilometer persegi ini di tahun 1996 di nyatakan sebagai “world Nature Heritage Site” oleh UNESCO dan karenanya sangat dilindungi.

Sekitar jam 2 siang kami berlabuh di loh (teluk) buaya di Pulau Rinca. Dari sana kami mulai trekking. Sekitar 15 menit jalan kaki dari loh buaya kami sampai ke ranger station. Bangunan-bangunan di sana dibuat dari kayu dengan desain panggung. Desain seperti ini ditujukan untuk menghindari komodo naik ke atas bangunan. Ada 3 komodo kecil merayap di seputar ranger station. Dibimbing oleh ranger kami mulai berjalan mendaki bukit, baru beberapa menit kami mendaki bukit, ada komodo yang sangat besar menghampiri kami. Kami diminta untuk naik ke bukit dengan tenang. Rupanya komodo besar itu terus mengejar kami mendaki bukit. Saya berdiri dibarisan paling belakang dekat sekali dengan komodo besar itu, karena saya ingin mendapatkan foto jarak dekat.Anak saya Nadia dan Aslan tampak sangat kuatir melihat ibunya begitu dekat dan tampak dikejar oleh komodo. Beberapa foto jarak dekat sempat saya ambil sebelum segera bergegas naik ke bukit. Akhirnya komodo berhenti juga mengikuti kami dan berbelok kesamping. Wuih lega rasanya. Sungguh pengalaman dikejar komodo yang sangat menegangkan.



Komodo besar yang kami lihat panjangnya sekitar 2-3 meter, beratnya konon bisa sampai 150 kilogram. Komodo biasanya makan bangkai. Mereka juga berburu mangsa seperti kerbau, rusa dan burung yang ada disekitarnya. Ketika mengigit komodo mengeluarkan bakteri yang perlahan tapi pasti mematikan mangsanya. Komodo biasa nya kawin dibulan Mei-Agustus dan bertelur di bulan September. Sekitar 20 telur yang dihasilkan di tanam di sarang burung megapodes yang telah ditinggalkan. Makan waktu antara tujuh sampai delapan bulan sebelum telur itu menetas di bulan April. Makan waktu tiga sampai lima tahun sebelum komodo menginjak dewasa. Mereka bisa hidup sampai 50 tahun. Ada 2700 populasi Komodo di Pulau Rinca, Pulau Padar dan Pulau Komodo.

Pemandangan di bukit-bukit pulau Rinca kearah laut terlihat sangat indah. Bukit-bukitnya sendiri tampak gersang. Perjalanan melalui perbukitan itu cukup menyenangkan sekaligus menegangkan karena kami harus selalu awas akan kemungkinan datangnya komodo sewaktu-waktu. Kami disarankan untuk selalu berjalan di dalam kelompok yang di jaga oleh ranger di depan dan di paling belakang.

Sekitar jam enam sore kami kembali ke kapal kami. Perjalanan di perbukitan itu cukup membuat kami lelah dan lapar. Malam itu kami bermalam di kapal. Beberapa orang dari rombongan kami berenang di laut. Berenang di laut di sinari bulan purnama tampak sangat menyenangkan, namun demikian saya merasa terlalu malas untuk berenang tanpa fasilitas mandi yang memadai di kapal itu. Makan malam di buka dengan sup sosis dan kembang kol yang terasa sangat nikmat, mungkin karena perut yang sangat lapar. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol ngalor ngidul sebelum akhirnya tertidur pulas.

Pagi hari kami bangun disambut dengan sarapan nasi goreng dan ikan goreng segar hasil pancingan Joost kakak ipar saya malam sebelumnya. Ikan goreng segar itu terasa sangat nikmat, apalagi saya dapat bagian yang penuh telur. Pagi itu kapal kami berangkat menuju pulau Komodo. Pelayaran dari pulau Rinca ke pulau Komodo makan waktu sekitar 2 jam. Kami merapat di Loh Liang dan memulai trekking di pulau Komodo itu. Tidak seperti di Pulau Rinca dimana kami bertemu dengan delapan komodo sepanjang trekking, di pulau Komodo kami tidak bertemu dengan seekor Komodo pun. Mereka rupanya sedang sibuk kawin sehingga menjauh dari jalan trekking kami. Di pulau Komodo kami melihat berbagai jenis burung termasuk kakak tua dan elang yang terbang dengan sangat gagahnya. Kami juga melalui berbagai jenis pohon-pohon yang dilindungi dan di beri nama dengan teliti. Berbagai binatang hutan seperti kerbau, rusa, monyet, babi hutan kami temui di sana. Kami diminta berjalan dengan tidak berisik agar tidak menggangu binatang-binatang itu. Kami trekking disana selama sekitar 4 jam.

Setelah puas jalan-jalan di taman nasional Komodo, kami kembali ke kapal dan berlayar ke pantai merah. Kapal kami berhenti beberapa ratus meter dari pantai merah. Disana kami berenang dan ber snorkeling menikmati taman laut dan ikan-ikan yang berwarna warni. Perairan disekitar pulau Komodo dikenal sebagai salah satu kehidupan laut yang paling beragam di dunia. Ada sekitar 1000 spesies ikan dan 250 jenis karang merah disana. Taman laut di sana tidak terlalu istimewa dalam pengamatan saya, namun jenis dan jumlah ikannya sungguh sangat kaya dan mengagumkan. Kami berenang cukup lama di sana menikmati indahnya ikan yang berwarna warni. Ombak di sana cukup keras sehingga kami harus cukup berhati-hati berenang agar tidak berbawa arus terlalu jauh. Oya, pantai merah dinamai begitu karena pasirnya yang berwarna kemerahan. Acara renang ditutup dengan makan siang di kapal dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di Labuan Bajo, bis kami sudah menanti untuk membawa kami ke Gua Batu Cermin. Gua Batu Cermin dipenuhi dengan stalagmite dan stalactite. Didalam nya terdapat berbagai fosil. Gua ini dipercaya sebagai tempat bertapa orang animisme dimasa lampau. Kami tidak lama disana karena badan yang sudah terasa sangat lelah dan berkeringat. Pada saat itu yang kami inginkan adalah cepat sampai ke tempat penginapan agar kami dapat segera mandi. Losmen Chez Felix tempat kami menginap di Labuan Bajo adalah Losmen yang sangat sederhana tapi bersih dan memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya. Para petugas di sana sunguh sangat ramah dan kekeluargaan. Mandi dengan gayung dari bak mandi terasa sangat menyegarkan. Sungguh nikmat bisa mandi setelah 2 hari dan satu malam dikapal. Sehabis mandi dan istirahat sejenak kami makan malam dan langsung tidur nyenyak.

Keesokan harinya kami bangun cukup pagi untuk menikmasti pemandangan ke laut yang sangat indah dari ruang makan terbuka di losmen. Makan pagi pancake dengan sirup madu terasa sangat nikmat dinikmati sambil melihat pemandanan ke laut. Saya sempat membeli beberapa kalung mutiara yang ditawarkan dengan harga sangat murah di sana untuk oleh-oleh sambil membantu perekonomian setempat. Membeli barang dari penduduk yang sangat ramah sungguh menyenangkan. Sekitar jam 8 pagi kami berangkat ke Airport untuk kembali ke Denpasar. Petualangan singkat kami di Pulau Komodo merupakan pengalaman baru yang lagi-lagi menyadarkan kami betapa beragamnya potensi parawisata di Indonesia ini. Sayang kurang tergarap.














Sumber: betti-alisjahbana.blogspot.com


Baca juga :
Yayung TI77 dan Erik EL86 Mengajak Berlayar Dengan Phinisi Ria
Windriyo MA95 mengajak ke Pantai Kita, di sebelah utara Pulau Sumba
Cerita BJ Habibie saat mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia
Komodo: The Last Living Dinosaur on Earth

Read more...

Komodo: The Last Living Dinosaur on Earth

Sabtu, 29 Oktober 2011

Komodo: The Last Living Dinosaur on Earth


Oke, mari kita mulai postingan ini dengan pertanyaan dari rekan saya saat mengikuti hunting di Taman Nasional Komodo, Bang Yudi @kudaliarr.
Pertanyaannya ada dua. Pertama, kenapa sih Taman Nasional Komodo harus dipilih menjadi The New Seven Wonder of Nature? Yang kedua, kalau Komodo terpilih menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia, apa untungnya buat Indonesia yang telah melakukan promosi secara besar-besaran untuk program ini?
Sebelumnya saya jelaskan sedikit, program hunting foto dan video di Taman Nasional Komodo yang saya ikuti beberapa hari yang lalu, diselenggarakan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata RI untuk satu tujuan yaitu mendongkrak angka voting Komodo National Park for the New Seven Wonders of Nature in the World. Dalam ajang ini Komodo memang harus bersaing dengan 27 finalis ajaib lain di dunia, seperti Dead Sea, Grand Canyon, Bay of Fundy, Masurian Lake District, Puerto Princesa Underground River, dan sebagainya.
Hingga saat ini voting memang terus berjalan, dan hasilnya akan diumumkan tahun depan pada 11-11-2011. Sekarang komodo mengantongi angka voting pada kisaran 40-50%, dengan 90% voters berasal dari Indonesia. Tapi rupanya itu tidak cukup, sodara-sodara. Coba klik tautan berikut, lihat sendiri statistik hasil perhitungan ranking terakhir minggu ini. See, angka segitu ternyata masih harus dipompa terus agar bisa menyalip finalis-finalis yang sempat saya sebutkan tadi.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata adalah mengirim fotografer, videografer, media dalam dan luar negeri, plus selebriti selama beberapa hari di Taman Nasional Komodo untuk membantu kampanye Seven Wonders ini sesuai dengan bidang yang digelutinya.

Oke, karena saya hanyalah seorang travel writer dan fotografer kacangan, maka satu-satunya cara yang bisa saya lakukan (selain melakukan voting, tentu saja) adalah menceritakan pada Anda sekalian, pembaca yang budiman, betapa Komodo itu layak mendapatkan posisi satu dari tujuh keajaiban dunia. Jadi ya, saya mohon maaf lahir batin tidak membuat travelogue seperti biasa, karena menurut saya ini lebih penting daripada mengawali tulisan dengan keindahan pantai berpasir putih... Em, kalau pengen tahu masalah How to Get There and Where to Stay selama saya berada di Taman Nasional Komodo, silahkan kirim e-mail ke blog ini, insya Allah bisa saya beri rekomendasi. Atau bisa melalui tautan berikut ini dan ini.

Komodo (Varanus komodoensis), yang sering kali disebut dengan panggilan sadis The Dragon ini, merupakan spesies purba endemik yang hidup dari zaman Tertiarum, yang ‘seharusnya’ sudah punah seperti teman-teman seangkatannya, T-rex dan berbagai jenis hewan purbakala lain yang memang sudah habitatnya sekarang berpindah ke museum sebagai jejeran fosil saja. Ajaibnya, hingga zaman Twitter seperti sekarang ini, si komodo ini lah kok masih eksis gitu. Hidup dalam jumlah populasi yang stabil yaitu sekitar 2500 ekor di Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Komodo yang mencakup tiga pulau yaitu Pulau Rinca (1100 ekor), Pulau Komodo (1300 ekor) dan Pulau Padar (100 ekor).

Dari jumlah sekian itu, perbandingan antara yang jantan dengan betina adalah 3 banding 1. Maka tidak heran jika pada musim-musim kawin (Juli-Agustus), banyak pejantan usia produktif (di atas tiga tahun) yang terlibat pertarungan sengit demi nge-date dengan seekor betina. Yang jadi looser silahkan gigit jari, sedangkan pemenang akan mendapatkan mempelai wanita dan siap bersembunyi di hutan untuk melangsungkan perkawinan. Yeap! Wisatawan yang berkunjung pada bulan Juli-Agustus mungkin, mungkin lho ya, bisa menyaksikan pemandangan raksasa-raksasa ini saling menyerang rebutan cewe. Tapi ya harus sabar tingkat internasional juga, menghadapi kenyataan jika tidak menemukan seekor komodo pun karena mereka, adalah tipikal hewan yang tidak suka memperlihatkan diri jika musim kawin tiba.
Komodo betina akan bertelur pada bulan September. Lalu dia akan menggali tanah untuk mengubur dan mengamankan calon-calon bayinya hingga tanah yang menimbunnya cukup padat dan tidak tercium oleh komodo dewasa lain. Ow yeah, mereka kanibal. Anak sendiri bisa dimakan. Selain komodo dewasa, yang menjadi predator telur adalah sekawanan babi hutan. Makanya induk betina akan berjaga selama beberapa minggu di atas gundukan tanah tersebut (Biasa disebut dalam TNK sebagai Sarang) hingga kondisi aman.

Seekor betina bisa menghasilkan 10 hingga 35 telur, dengan prosentase menetas mencapai 80%. Yah, angka yang cukup tinggi dari masalah kepunahan, bukan?? Tapi ya itu… setelah menetas pada bulan Maret-April, komodo imut-imut pemakan insect ini akan benar-benar diuji ketentraman hidupnya. Hanya dia yang mampu lolos dari predator lah yang bisa survive hingga dewasa. Diperkirakan usia komodo bisa mencapai 50 tahun, dan kalau ada komodo mati ya biasanya ngga berbekas apa-apa.

Begini, komodo akan melahap mangsa hingga tetes terakhir! Tulang pun akan dicerna dan dikeluarkan menjadi butiran kalsium. Makanya kotoran komodo pun warnanya putih. Dan dia biasanya hanya meninggalkan kenang-kenangan berupa helaian rambut dan kuku saja. Kata Pak Dacosta, polisi hutan yang saya kenal di sana, hanya dua hal itu yang tidak bisa dicerna oleh komodo.
”Kalau punya musuh, lempar saja ke Komodo, Mbak... Kalau dimakan komodo, pasti tidak ada bekasnya, hahaha...” canda lelaki Flores itu. Saya meringis maksa.

Tapi ya, serius, kita sebagai pengunjung memang harus ekstra hati-hati selama berada di dalam Taman Nasional. Jangan melakukan hal-hal spontan, jangan berisik dan terlebih lagi jangan berkunjung saat datang bulan, wahai wanita-wanita... Komodo dengan mudah mencium bau darah yang akan meningkatkan nafsu makannya, bagaikan anak kecil diberi asupan Scott’s Emulsion. Laper, Mama...
Komodo bertebaran bebas di taman nasional ini, ada yang manjat di pohon (oh yes, they can swim too), ada yang tidur-tiduran di bawah barak Ranger (sebutan untuk jagawana Komodo), ada juga yang jalan-jalan dengan gagah menjulurkan lidah bercabangnya yang berwarna merah jambu pucat, atau banyak pula yang hanya diam di tempat, tengok kanan kiri sambil pamer air liurnya yang terkenal mematikan karena mengandung enam puluh jenis bakteri itu. Beberapa kali saya sempat mengira mereka sebagai potongan kayu mati. Lah wong warnanya hampir sama, untung saya ngga inisiatif duduk di atas kayu mati palsu itu.
Komodo memiliki tiga titik lemah, yaitu mata, leher dan kepala. Makanya, tiap trekking, para Ranger selalu berbekal senjata berupa tongkat kayu panjang dengan ujung bercabang dua. Kali aja, hewan purba yang bisa mencapai panjang 3 meter dan berat 90 kg ini lagi badmood. Sodorkan saja tongkat-tongkat itu ke tiga daerah sensitif tadi, agar dia tidak menyerang kita.


Dalam Taman Nasional ini saya juga sering menemukan gerombolan rusa asik ngemil biji asam. Pohon asam memang vegetasi yang banyak tumbuh di sini, selain jarak, srikaya dan gebang. Ada anggrek juga lho di sini, tumbuh liar di batang-batang pohon. Berbagai jenis burung, seperti kakak tua, gagak, juga hewan kecil lain seperti siput unik bercangkang kuning menyolok, sempat saya lihat selama trekking di Pulau Rinca dan Komodo. So wildlife banget lah!! :D




Karena komodo berstatus sebagai predator utama, maka menjaga kelestarian rusa, babi, dan sebagainya dari perburuan liar, adalah tugas penting polisi hutan di sini. Intinya, jangan sampai komodo kekurangan makanannya sehingga beresiko menyerang penduduk desa Komodo di sekitar pulau tersebut.
Oke, apakah si naga tanpa sayap dan semburan api ini sudah cukup ajaib bagi Anda? Vote sekarang juga kalau begitu!!!
Lalu, kalau apa untungnya bangsa ini jika Komodo sudah menang voting dan resmi menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dengan promosi besar-besaran seperti ini?? Jawaban berikut ini berasal dari tulisan Pak Hanif dari pihak Kementrian Budaya dan Pariwisata, sekaligus orang yang memperkenalkan saya pada website pariwisata Indonesia milik BudPar www.indonesia.travel (@indtravel). Sengaja saya copas dari milis, agar kalian semua, para pembaca yang budiman, bisa turut memahami betapa promosi wisata sangat penting untuk mengangkat nama Indonesia di masa akan datang.


Untuk jangka pendek, jelas tujuan pemerintah adalah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Taman Nasional Komodo (TNK), dengan demikian otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, karena pendapatan sektor pariwisata bisa langsung dinikmati oleh daerah setempat, yaitu melalui hotel, airline, travel, restoran, pedagang souvenis, pengusaha kapal, guide dan sebagainya.

Sebagai catatan semenjak BudPar mempromosikan TNK secara besar-besaran mulai tahun 2008, jumlah kunjungan ke TNK pada 2009 naik hingga 67% (naik sekitar 15.000 orang), jika rata-rata pengeluaran wisatawan asing USD 1000 berarti devisa yang diperoleh adalah USD 15 juta (sekitar 140 M).

Selain itu, melalui seven wonders ini, citra Indonesia bisa meningkat di mata internasional, mereka bisa melihat keseriusan pemerintah dalam mengelola aset dunia, karena TNK merupakan warisan dunia.

Jangka panjang, tentu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Logikanya semakin terkenal suatu destinasi, semakin banyak orang yang peduli terhadap destinasi tersebut, khususnya dalam menjaga dan memeliharanya.

Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat komodo lewat film seperti Jurrasic Park!
Namun perlu diketahui pula, bahwa kunjungan yang tidak terkontrol ke TNK dapat membuat komodo stress dan dapat membahayakan pengunjung. Menurut penelitian batas aman jumlah kunjungan ke TNK adalah 500 orang per hari, di sesuaikan dengan jumlah komodo dan jagawana yang ada di TNK.


Selain melakukan trekking di Pulau Rinca (Loh Buaya) dan Pulau Komodo (Loh Liang) yang sangat menawan itu, jangan lupa untuk mampir ke Pulau Kalong, Pulau Papagaran, Pulau Mesah, dan Pink Beach. Pastikan Anda melihat lumba-lumba juga di perairan ini. Snorkeling dan diving adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Ada surga bawah laut yang sangat layak untuk dinikmati.
Pink beach adalah destinasi yang wajib hukumnya! Dari kejauhan sih memang tidak terlihat pink-nya yah, tapi coba mendekat dan letakkan segenggam pasir di tangan, barulah Anda akan melihat keajaiban lainnya. Pasir putih bercampur butir-butir pecahan koral merah tersebar di seluruh pantai ini. Amaziiiinggg! Anda bisa snorkeling di pantai atau trekking ke bukit teratas. Merekam gambar sebuah pantai biru jernih dengan pasir berwarna merah jambu yang dikelilingi gundukan bukit-bukit hijau. Sumpah, ngga bakal rugi mampir ke pantai ini!


Oh iya, satu lagi, jangan pernah bepergian ke Indonesia bagian Timur ini dengan tidak menikmati sunset! Ya ampun, dosa besar kalo Anda malah tidur kala matahari tenggelam! Sunset di Pulau Kalong, misalnya... Widdddiihh, sadis beraaatt!! Pada pukul 18.00-19.00 WITA, kala matahari sudah ingin menutup hari dengan hanya meninggalkan hamparan cahaya merah di langit; ribuan (entahlah saya ngga ngitung juga...) kalong akan keluar terbang dari Pulau tersebut, berhamburan, berdesakan, dan tampak sangat tergesa-gesa. Entah mereka akan pindah kemana, yang jelas keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, pemandangan langit merah dan ribuan kalong terbang ini akan terlihat jika kapal Anda dihentikan di depan Pulau Kalong pada jam tersebut. Kalau beruntung, mungkin Anda bisa melihat Batman juga, sapa tau ikut memeriahkan rombongan hewan nokturnal ini.



Sayangnya, tidak ada itinerary mampir ke Pulau Papagaran dan Pulau Mesah. Dari atas yacht, sambil mendengarkan cerita Pak Andi Sucirta yang pernah bertugas sebagai dokter di sana, saya hanya bisa memandang sederet kampung nelayan yang ada di dua pulau tersebut. Pulau Papagaran tampak berbeda dengan bukit-bukit merah yang menjadi background kampung kecil itu. Sedangkan Pulau Mesah menyajikan bukit-bukit batu berwarna putih yang menawan. Yap, semoga saja lain kali saya bisa menginjakkan kaki lagi di gugusan pulau di Nusa Tenggara Timur ini (Amin!)
Oke, semoga sedikit kampanye ini, mampu menggerakkan kursor Anda untuk turut voting melalui tautan berikut. Tentu saja saya ngga punya apa-apa sebagai imbalan Anda yang sudah menyumbangkan suara, tapi seriusss, yang sudah voting saya doakan bisa menginjakkan kaki di Pulau Komodo dan snorkeling di Pink Beach! :)

Read more...

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP