powered by Google

Video: Beda musik Iwan Fals dan Beethoven yang "refined"

Sabtu, 23 Januari 2016


Bisakah Anda merasakan beda musik Iwan Fals dan Beethoven yang "refined" ?
Saksikan videonya dan rasakan bedanya :-))




Fur Elise (Beethoven) - Piano and Orchestra

Uploaded on Jul 26, 2011
The most famous classical piece by Ludwig van Beethoven in the world arranged for piano & orchestra.

Arranged & Orchestrated by Georgii Cerkiin
Classic FM Orchestra
Conductor: Grigor Palikarov
Soloist: Georgii Cerkiin - piano

Ludwig van Beethoven

Baca juga:
Video: Iwan Fals dan Oemar Khayam FI'76 mengajak mengenang kesederhanaan Bung Hatta

From: Subakat Hadi TK'64
Sent: Wednesday, January 20, 2016 8:31 PM
Subject: [sinergi-ia-itb] Musik klasik yang bisa didengarkan dengan santai


Ketika training internal di perusahaan tempat saya kerja, disampaikan harapan agar para MT lebih "refined" dari orang kebanyakan, paling sedikit di tempat kerja. Karena sulit menjelaskan, maka diberikan contoh sbb :
Lagu Iwan Fals bagus dan musik klasik juga bagus, nah musik klasik itu lebih "refined". 
Setelah didengarkan contohnya, mereka minta daftar lagu.
Kemudian diberikan dafar lagu klasik yang masih bisa didengarkan sambil bersantai.

Bagi alumni, yang ingin mendengar musik klasik yang ringan-ringan, dengan ini saya sampaikan daftar itu, sebagai berikut :

The second waltz
Gavotte
Minuete in G mayor
Pachebelle
The old refrain
Mozart : Divertimento In B_Minuet
Rondino on A
Ponce Estrelita
Air (dari the suite no 3)
Arabesque;Debussy
Chevalier
Tristesse
Eine kleine nacht music
Entertainer
Frohlicher Landmann
Fur Elise
Gymnopedies no 1,2,3;Erik Satie
Habanera;
Heidenroslein D257
Humoresque
Hungarian Dance
Invention in D minor
Je te veux
La fille aux cheveux de lin;Debussy
La prière d'une vierge

La Traviata
Le cygne
Liebestraum;Liszt
Valse Sentimentale

Moonlight sonata
Musette in D mayor
Nocturne op.9 No.2

Ode to joy
Pathetique (cari yang fragment singkat)
Piano Sonata K 545
Praeludium 1 (C-Dur)
Reverie Debussy
Sonatina in C major, op. 36 no. 1 - Clementi

Sonatina in F Mayor;Bethoven
Sonata in C major Mozart

Spring (dari Four Season);
Traumerei ;Schumann
Turkish March;Mozart
Wedding march;Mendehlson

Ada yang komponisnya diberikan, karena kalau tidak diberikan ambigu atau merujuk ke hal lain.

Beberapa diantaranya adalah vocal, kalau Anda tidak mau dengar vocalnya, cara yang piano version atau violin. Ada yang full version nya berpuluh menit. Kalau Anda mau yang singkat, dengarkan saja fragment-nya, yang biasa kita kenali karena waktunya yang singkat. Biasanya fragment ini memang kedengaran lebih indah, karena memang dipotong di bagian yang paling indah.

Selamat mendengarkan,



Rgds
Subakat

Read more...

Peluang Investasi di Saham Semen Indonesia, Semen Baturaja, Holcim, dan Indocement

Rabu, 13 Januari 2016


(Ditulis Januari 2015)

Pada hari Jumat tanggal 16 Januari lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah mengintervensi industri semen dengan mengumumkan penurunan harga semen sebesar maksimal Rp3,000 per sak. Dan hasilnya mudah ditebak: Seketika itu juga saham-saham semen di BEI langsung bertumbangan. Pada hari Jumat tersebut saham Semen Indonesia (SMGR) anjlok 7.4% dari 16,200 ke 15,000, dan berlanjut turun ke level 14,100 pada hari perdagangan berikutnya. Saham-saham semen lainnya yakni Semen Baturaja (SMBR), Holcim Indonesia (SMCB), dan Indocement (INTP), tiga-tiganya juga turun antara 4.9 hingga 12.2% dalam dua hari perdagangan setelah kebijakan penurunan harga semen tadi diumumkan.


Secara teori, kebijakan pemerintah terkait penurunan harga jual semen ini hanya berlaku bagi perusahaan semen BUMN, dalam hal ini SMGR dan Semen Baturaja (SMBR), dimana Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas dari kedua perusahaan tersebut tentunya memiliki kuasa penuh untuk menaikkan atau menurunkan harga jual dari produk semen yang dihasilkan perusahaan. However, kalau SMGR sebagai pemimpin pasar semen di Indonesia menurunkan harga jual produknya, maka mau tidak mau perusahaan semen lainnya akan turut dipaksa untuk melakukan hal yang sama. Jadi ini bisa menjelaskan kenapa saham dari perusahaan semen swasta seperti INTP dan SMCB ikut tertekan.

Tapi benarkah kebijakan Pemerintah ini benar-benar akan menekan kinerja perusahaan-perusahaan semen kedepannya? Well, mungkin nggak juga, dan berikut penjelasannya.

Ketika Pemerintah mengumumkan penurunan harga jual semen, pada saat yang bersamaan Pemerintah juga mengumumkan penurunan harga jual BBM (premium dan solar) dan elpiji non-subsidi. Penurunan tersebut adalah untuk menyesuaikan dengan harga minyak dunia (dan gas) yang memang sedang turun. Seperti yang kita ketahui, pada saat ini Pemerintah sudah tidak lagi mensubsidi BBM jenis premium sehingga harga jualnya bisa berubah setiap saat, dalam hal ini setiap dua minggu sekali, dengan mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Untuk gas elpiji non-subsidi ceritanya juga sama, dimana harga jualnya akan disesuaikan dengan perkembangan harga gas dunia. Terkait harga semen, belum jelas soal apakah harganya juga akan naik dan turun mengikuti harga BBM. Namun karena penurunan harga jual semen ini diumumkan berbarengan dengan penurunan harga BBM, maka besar kemungkinan bahwa kedepannya harga jual semen juga akan dinaikkan dan diturunkan mengikuti harga BBM.

Ini artinya kalau nanti harga bensin naik lagi, maka harga jual semen juga akan dinaikkan kembali. Malah faktanya tanpa perlu Pemerintah mengumumkan kenaikan harga, harga semen sudah pasti akan naik dengan sendirinya ketika nanti harga BBM naik kembali, karena memang setiap kali harga BBM naik maka harga barang-barang termasuk semen akan juga naik dengan sendirinya.

Sementara ketika gilirannya harga BBM turun (ini bukan kali pertama harga BBM turun), maka biasanya harga barang-barang bukannya ikut turun tapi malah cenderung tetap. Jika ‘kebiasaan buruk’ ini dibiarkan maka akan menyebabkan tingginya inflasi, yang pada akhirnya mengganggu perekonomian. Dan mungkin itu pula sebabnya Pemerintah mengeluarkan kebijakan intervensi pasar, dalam hal ini dimulai dari harga jual semen karena seperti hal-nya industri BBM di Indonesia dikuasai oleh Pemerintah melalui Pertamina, industri semen juga dikuasai oleh Pemerintah melalui Semen Indonesia (dan juga Semen Baturaja). Ketika harga semen disebutkan turun Rp3,000 per sak, maka sejatinya harga semen tersebut tidak benar-benar turun melainkan hanya balik lagi ke harga semula sebelum dinaikkan beberapa waktu lalu, yakni ketika harga BBM jenis premium naik dari Rp6,500 menjadi Rp8,500 per liter. Berdasarkan survei yang penulis lakukan sendiri ke toko bangunan di dekat rumah (di Jakarta), harga semen merk Tiga Roda pada saat ini adalah Rp62,000 per sak. Harga tersebut lebih tinggi dibanding beberapa bulan lalu sebelum BBM naik, yakni Rp58,000 per sak. Jadi kalau harga tersebut diturunkan Rp3,000, maka secara keseluruhan sebenarnya harga semen masih naik seribu perak toh?

Itu yang pertama. Yang kedua, meski tidak secara resmi diumumkan oleh Pemerintah, namun tarif dasar listrik non-subsidi untuk pelanggan industri juga ikut turun mengikuti penurunan harga minyak dunia (sehingga nanti kalau harga minyak dunia naik, maka tarif listrik ini juga akan naik lagi). Mengingat biaya listrik adalah salah satu komponen utama dari ongkos produksi semen, maka penurunan harga jual semen belum tentu berdampak signifikan terhadap laba bersih perusahaan, karena disisi lain biaya produksi semen-nya juga turun. Malahan kalau penurunan biaya produksi ini lebih besar dibanding penurunan harga jual semen, maka SMGR dkk jadinya justru diuntungkan, karena itu artinya margin laba mereka menjadi lebih besar. Ingat bahwa biaya BBM juga merupakan salah satu biaya utama yang harus ditanggung perusahaan-perusahaan semen, dalam hal ini biaya distribusi, dan biaya itu juga turun seiring dengan penurunan harga BBM itu sendiri.

Kesimpulannya, terlalu dini jika kita langsung memvonis bahwa ‘penurunan’ harga jual semen ini akan berdampak negatif pada perolehan laba para juragan semen. Kalau kita melihatnya dari sisi lain, maka ketika Pemerintah mengumumkan penurunan harga jual semen, itu adalah kabar baik bagi perusahaan-perusahaan konstruksi dan juga para developer properti, dimana kalau mereka sebelumnya menghemat anggaran belanja semen (karena harganya naik), maka sekarang mereka akan ramai-ramai menyerbu toko bangunan kembali. Jadi penurunan harga jual semen, jika itu benar-benar terjadi, akan dikompensasi oleh peningkatan omzet. Hal ini juga sejalan dengan visi Presiden Jokowi untuk mengembangkan infrastruktur di Indonesia, dimana visi tersebut tidak akan jalan kalau Adhi Karya dkk belum apa-apa udah males duluan ketika ketemu orang sales dari SMGR yang dengan seenaknya menaikkan harga karena alasan harga BBM naik, tapi nggak mau nurunin harga ketika gilirannya harga BBM turun.

Okay, jadi apa itu artinya sekarang merupakan saat yang tepat untuk membeli SMGR, INTP, SMBR, atau SMCB, mumpung harganya lagi turun? Sebelum itu, mari kita cek valuasi terbaru dari saham-saham semen, dan berikut datanya berdasarkan harga saham per tanggal 23 Januari 2015:

Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
ROE (%)
SMGR
14,475
15.8
3.8
24.2
INTP
23,000
17.1
3.6
21.3
SMCB
1,985
20.0
1.7
8.5
SMBR
376
12.6
1.4
11.3

Nah, kalau anda perhatikan, ketika tanggal 16 Januari kemarin pengumuman soal penurunan harga semen ini keluar, maka saham yang paling terkena dampak negatifnya adalah SMGR, dimana dia turun total 14% dalam dua hari. Sementara yang paling kuat bertahan adalah SMBR, yang cuma turun gak sampe 5% pada periode waktu yang sama. And you know what? Dari sisi PBV, seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas, saham SMGR merupakan saham termahal di BEI pada saat ini, sementara SMBR adalah yang termurah. Jadi perbedaan yang signifikan pada penurunan yang dialami SMGR dan SMBR, padahal dua-duanya merupakan perusahaan semen BUMN yang terkena dampak langsung dari penurunan harga semen ini, menjadi bisa dijelaskan. SMGR, karena valuasinya yang premium, sejak awal sudah rentan terhadap risiko penurunan jika sewaktu-waktu IHSG turun atau perusahaannya diterpa sentimen negatif tertentu. Sementara SMBR, karena  valuasinya lebih rendah, maka risiko penurunannya otomatis lebih rendah pula.

Jadi sebenarnya tidak ada yang salah dengan fundamental SMGR. Malahan sampai sekarang penulis masih menganggap SMGR sebagai perusahaan semen dengan fundamendal terbaik di BEI. Tapi kalau harga sahamnya ketinggian maka yaa.. gitu deh. Kalau anda perhatikan, dalam setahun terakhir saham SMGR selalu terjaga di level 15,000 – 16,000 dan gak mau turun (pernah turun sesekali ke 14,000-an, tapi langsung naik lagi) karena didorong oleh optimisme investor terkait prospeknya seiring dengan pembangunan infrastruktur. Namun karena disisi lain valuasinya juga sudah mahal, maka sahamnya sulit untuk naik lebih lanjut dan justru bisa dengan mudah turun ketika terjadi sentimen negatif tertentu yang secara otomatis 'membuyarkan' prospeknya.

However, karena predikatnya sebagai ‘saham dengan fundamental terbaik’, maka SMGR pada saat ini lebih menarik perhatian penulis dibanding ketiga saham semen lainnya.


Problemnya adalah, bahkan setelah harganya turun ke posisi sekarang, valuasi SMGR masih belum benar-benar terdiskon. Berdasarkan pengalaman, PER 15.8 kali (sebagai saham blue chip, valuasi SMGR bisa dilihat pula dari PER-nya) masih belum bisa dikatakan cukup rendah bagi saham dengan kriteria seperti SMGR yakni: 1. Sahamnya sangat likuid, 2. Nama perusahaannya terkenal dan juga punya reputasi baik, 3. Kinerjanya sangat baik dan juga konsisten dalam jangka panjang. Idealnya, pada kondisi pasar yang normal dimana IHSG tidak sedang terkoreksi signifikan, PER SMGR adalah kurang lebih 14 kali, sehingga dia baru bisa dikatakan murah kalau PER-nya sudah dibawah 14 kali tersebut, yang itu berarti target penurunannya adalah hingga 12,500, dimana harga tersebut akan mencerminkan PER 13.6 kali.

Lalu apakah SMGR akan benar-benar turun sampai level 12,500 tersebut? Ya ndak tau.. Siapa yang tahu kalau dua minggu lagi Pemerintah ternyata kembali menaikkan harga semen, sehingga SMGR dan yang lainnya langsung berbalik terbang? Namun yang kita ketahui adalah, valuasi SMGR pada saat ini masih belum cukup murah. Secara teknikal-pun SMGR belum tampak benar-benar rebound karena harganya sekarang masih dibawah support kuatnya (yang sekarang menjadi resistance), yakni 14,625. Kenaikan yang terjadi dua hari terakhir kemungkinan juga hanya karena didorong kenaikan IHSG yang sedangbreak new high. Jadi kalau nanti IHSG turun maka SMGR bisa saja melanjutkan penurunannya. Dan terakhir, sekali lagi berdasarkan pengalaman, kalau ada saham blue chip yang turun karena penyebab atau sentimen negatif tertentu, maka dia akan memerlukan waktu, mungkin satu dua atau beberapa bulan, untuk bisa naik lagi, yakni ketika sentimen negatif tadi dilupakan orang dengan sendirinya.

So, ketika para analis sekuritas sibuk merilis riset dan analisis mereka yang pada intinya adalah memprediksi bagaimana kinerja SMGR dkk kedepan, termasuk dengan menyertakan hitung-hitungan penurunan margin laba bersih bla bla bla yang sangat rumit, namun kita value investor mikirnya sederhana saja: Kalau nanti SMGR beneran ke lanjut turun ke 12,500 atau dibawahnya, maka boleh mulai cicil, sembari terus mengamati perkembangan kinerja perusahaan dari kuartal ke kuartal. Tapi kalau SMGR nggak turun sampai serendah itu maka yaaa.. masih ada banyak saham-saham lain yang lebih murah kok. Kalau anda masuk di harga sekarang maka anda bukannya nggak bisa dapet cuan, tapi risikonya tentu lebih besar dibanding jika anda sukses masuk di 12,500 tadi.



Sumber: Indonesia Value Investing


Read more...

Sosialisasi Dari Ridwan Djamaluddin GL82, CaKetum IA ITB Pusat #1, Denpasar 10 Januari 2016

Sabtu, 09 Januari 2016

From: "Krisnamurti Made Bayu
Date: Sun, 10 Jan 2016 00:42:49 +0000 (UTC)
Cc: Bayu Krisnamurti, Komang Kami
Subject: [IA-ITB Bali] UNDANGAN - Sosialisasi Dari CaKetum IA ITB Pusat #1, Dps, 10-1-2016




Dear Alumni IA ITB Bali yang saya banggakan,

FYI UNDANGAN

Sosialisasi Profil, Visi, Misi, dan Program Caketum IA- ITB No.1
Ridwan Djamaluddin GL82
(1 Hati, Berkarya, dan Berbagi)

Oleh Gembong Premajaya MS86 dan Dwi Larso TI84

Hari Minggu, 10/01/16
Waktu pkl 11.30-14.00
Tempat @ Wr.Bendega
Jl. Cok Tresna Renon Denpasar

Dimohon kehadiran rekan2 Alumni ITB di Bali.

Nb. Ada DoorPrize dan Organ Tunggal

Thx n Rgds.
Bayu Krisnamurti
Sie Publikasi dan Dokumentasi
On Behalf of Penguruss PENGDA IA ITB BALI

Konfirmasi kehadiran sd tgl 9 Januari 2016, 23.30 wita :
1. Suryawan SI86
2. Wayan Adnyana SI84
3. Arnold Makasau TF89
4. Rai TF93
5. Arsawan DS86
6. Bayu Krisnamurti EL92
7. Ni Made Widiasari TL84
8. Kompiang IF94
9. Bayu Susila, MS87
10. Putu Indra Sariasa PL00
11. Putu Agus Budiana GL79
12. Rudy Sem AR86
13. Supanca Ariyasa BI86
14. Cok WawaN
15. Made Wijanarka TF 80
16. Ketut Arjana A S TI87
17. Ni Nyoman Ratni PL00
18. Ngr Arida Putra SI03
19. Made Suprana AR99.
20. GedeHardy TI90
21. Agus Bayu CDE TI92
22. Ode Srijaya IF90
23. Ginarsa Putra IF92
24. Putu Widya Snicaya PL00
25. Conk PN07
26. Lila SBM07
27. Nengah Winarta EL88
28. Yan Ramona BI84
29. Sang Ayu SR03
30. Rona MS87
31. Gede Sumardika EL90
32. Komo Sulaksono EL94
33. Obenk MS87
34. Bagiarta TI90
35. Teddy Robin TI90



Rgds.
Bayu Krisnamurti


Read more...

The Beatles teriak: "Jangan tinggalkan aku, Sayang!"

Jumat, 08 Januari 2016

Oh! Darling, if you leave me
I'll never make it alone
Believe me when I beg you, ooh
Don't ever leave me alone



Dalam rangka memenuhi undangan manggung di lapangan basket ITB pada tahun baru 2016 ini, kemarin kita sudah menyaksikan video The Beatles latihan main sitar.
(The Beatles latihan main sitar)

Nah, sekarang kita lihat Bang Paul McCartney bernyanyi teriak-teriak karena ditinggalkan kabogo.
Posisi Mas John lennon berganti jadi main piano.
Dan Kang George Harrison kembali main gitar utama, setelah kemarin mencoba main sitar.


Selamat menonton The Beatles teriak-teriak nge-rock ;-))












Read more...

The Beatles latihan main sitar untuk tampil di tahun 2016

Selasa, 05 Januari 2016





I once had a girl, or should I say, she once had me
She showed me her room, isn't it good, norwegian wood?

She asked me to stay and she told me to sit anywhere
So I looked around and I noticed there wasn't a chair




Untuk memenuhi undangan tampil di lapangan basket ITB pada tahun baru 2016 ini, 

The Beatles sedang terus giat berlatih main sitar.
Salah satu lagu yang akan ditampilkan, Kang George Harison akan main sitar, semetara Kang John Lennon akan menyanyi diiringin suara latar dari Kang Paul McCartney.

Karena kesulitan mengintip sesi latihan mereka, maka programmer ITB mencoba membuat animasi videonya.

JIka biasanya kita sulit melihat The Beatles main sitar secara live, maka dengan bantuan program animasi ini kita bisa melihatnya.


Selamat menonton ;-))



Baca juga:
- The Beatles teriak:"Jangan tinggalkan aku, Sayang!"







Read more...

Video Pontas Tambunan TA90: Misi Visi Program Kerja sebagai kandidat Ketua IA-ITB 2016-2020

Sabtu, 26 Desember 2015







Published on Dec 9, 2015
Pontas R. Tambunan , Alumni Tenik Pertambangan ITB angkatan 1990, adalah kandidat ketua umum Ikatan Alumni ITB untuk masa bakti 2016-2020.
Mengusung semangat kemitraan dalam meningkatkan partisipasi dan peranan alumni untuk memberikan yang terbaik bagi almamater, masyarakat, dan kemanusiaan.

Dengan misi : BERJEJARING-BERSINERGI-BERKONTRIBUSI



Read more...

Teknologi Romantis: Playboy ITB'76 duet dengan Suster cantik Nicole Kidman di Bumi Sangkuriang

Jumat, 09 Oktober 2015



Bumi Sangkuriang, Bandung




From: "'B. Antariksa (Erik)
Date: Sat, 10 Oct 2015 00:28:55 +0000
Subject: [EL-ITB] [Senyum-ITB] Teknologi Romantis: Playboy ITB'76 duet dg Suster cantik Nicole Kidman. Re: Angkatan 76 jurusan Mesin yg katanya rada2 playboy



Buat yg penasaran, sungguh mati penasaran hehehehe:

Walaupun beda tempat dan waktu, ini video romantis Playboy Ari Williams dan mantan Suster Boromeus bernama Nicole Kidman sdg duet di Bumi Sangkuriang.
Lampu disko kelap kelip dibuat di bengkel mesin dulu.
Lalu juga pakai teknologi video sehingga walau Suster Nicole sdg di seberang samudra, videonya bisa tetap bernyanyi duet.

Mereka membawakan lagu romantis yg dulu dipopulerkan oleh Frank Sinatra berduet dg putrinya.
Jika biasanya penyanyi wanita jadi vokal utama, maka ini dibalik vokal utama oleh penyanyi pria dan suara kedua oleh penyanyi wanita.

The time is right
Your perfume fills my head
The stars get red
And oh the night's so blue
And then I go and spoil it all
By saying something stupid
Like I love you
I love you...


Video romantis duet jarak jauh dan ceritanya di
http://senyum-itb.blogspot.co.id/2012/01/something-stupid.html?m=0




Salam kompax
Erik


From: "Sundara Murti 
Date: Thu, 8 Oct 2015 01:38:05 +0000 (UTC)
Subject: Re: [Senyum-ITB] Re: [IA-ITB] Angkatan 76 jurusan Mesin yg katanya rada2 playboy. Re: Undangan Gathering Akbar "ITB Alumni Homecoming 2015"



Dear All,

Aku jadi penasaran, sunggu mati penasaran. 
Sopo kae play boy ne. 
aku angkatan 76 and ganteng. Tapi gak play boy tuh, sekarang alim banget.


Salam
Sundara Murti 

--------------------------------

On Wednesday, October 7, 2015 2:23 PM, "Chairil Anom emailbaruku76@gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB@yahoogroups.com> wrote:



Pasti sayah nyang dimangsoed :-)
Salam,
@Ri-chard Ge'er




Read more...

Video edukasi TL ITB: Renewable Energy - Biofuel.

Rabu, 07 Oktober 2015

From: "puteri salmiati 
Date: Wed, 7 Oct 2015 23:12:29 +0700
Subject: [Senyum-ITB] video edukasi TL ITB


Selamat malam alumni,


Departemen Profesi dan Direktorat Media Komunikasi dan Informasi dengan bangga mempersembahkan video media edukasi mengenai Renewable Energy: Biofuel.

Kami memilih tema ini untuk mengenalkan dan mencerdaskan masyarakat umum, khususnya mahasiswa, mengenai potensi energi terbarukan dengan menggunakan biofuel dari algae. Penggunaan Bahasa Inggris dalam narasi video animasi ini dilakukan untuk turut mendukung akreditasi internasional Teknik Lingkungan ITB oleh ABET tahun 2014 kemarin.


Video tersebut telah kami unggah dan dapat disaksikan melalui tautan berikut:



Published on Sep 6, 2015
Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB's education video that explains the basic information about renewable energy, especially biofuel made from algae


Apabila kakak-kakak alumni dan massa HMTL sekalian memiliki saran dan masukan untuk kebaikan video media edukasi di masa yang akan datang, kami akan dengan senang hati menerima.



Best Regards,
Tammya Ayu Purnomo
15312010
Environmental Engineering
Institut Teknologi Bandung

--------------------------

Best regards, 
Puteri
TL ITB - 2008

Read more...

Lo Kheng Hong: Beli perusahaan yang untung itu seperti beli mesin pencetak uang

Kamis, 03 September 2015






Sukses dan nama besar Warren Buffett di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffett sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.

Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffett. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.

Bagi Lo, Buffett adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffett, kisah hidup sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffett, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.

Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.

Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.


Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.

Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.

Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.

Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.

Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...

Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.


Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.

Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffett. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.

Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.

Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.

Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. 
Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. 
Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. 
Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money
Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.

Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.

Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.

Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.


Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.

Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.

Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.

Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.

Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity atau ROE-nya (tingkat pengembalian modal: rasio laba bersih terhadap total modal).

Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.

Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.


Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.

Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. 
Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).

Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.

Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.


Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.


Saya juga pernah rugi.

Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.

Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.

Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.


Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.

Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.


Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.

Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.


Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.

Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan
Berapa yang melakukan analisis fundamental? 
Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.

Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.





Sumber: Kontan

Read more...

Saham Sri Rejeki Isman (Sritex)

Senin, 24 Agustus 2015

Prospek saham Sri Rejeki Isman (Sritex)
(Ditulis Mei 2015)


Seperti yang anda ketahui, pada saat ini sekitar 90% emiten di BEI sudah merilis laporan keuangannya masing-masing untuk periode Kuartal I 2015. Kabar buruknya, sebagian besar dari mereka mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Bahkan perusahaan sekelas Astra International (ASII) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 15%, terburuk dalam 10 tahun terakhir. Melihat fakta tersebut maka tidak heran jika dalam semingguan terakhir ini IHSG anjlok hingga hampir 7% (meski belakangan rebound kembali), karena memang penulis sendiri, kalau saya memegang ASII atau saham-saham lainnya yang perusahaannya mencatatkan kinerja yang kurang oke, sudah tentu akan memilih untuk keluar dulu.

Kabar baiknya, dari 500-an perusahaan di BEI sudah tentu tidak semuanya mencatatkan kinerja yang buruk. Jika anda jeli, maka anda akan tetap bisa menemukan beberapa saham yang valuasinya masih cukup rendah, dan kinerja perusahaannya juga tidak ada masalah.

Dan salah satu saham tersebut adalah Sri Rejeki Isman (SRIL). SRIL mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 12.3% pada Kuartal I 2015, dan ROE 24.0%. Dengan PER hanya 7.3 kali pada harga 296, maka tentu saja saham ini relatif murah terutama ketika investor seperti tidak punya pilihan lain kecuali mengalokasikan dana mereka pada saham-saham yang masih mencatatkan kinerja yang bagus di awal tahun 2015 ini, salah satunya SRIL. Anyway, mari kita pelajari SRIL ini sejak awal.

SRIL pada saat ini merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, atau bahkan di Asia Tenggara (dari sisi omzet penjualan), yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 1966 dimana pendiri perusahaan, Almarhum Haji Muhammad Lukminto, ketika itu membuka toko produk-produk tekstil di Pasar Klewer, Kota Solo. Dua tahun kemudian, HM Lukminto sukses mendirikan pabrik kain pertamanya di Jalan Baturono No.81A, Solo. Sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1978, PT Sri Rejeki Isman, atau disingkat Sritex, resmi berdiri.

Tahun-tahun berikutnya, perusahaan terus berkembang. Tahun 1982, Sritex membuka pabrik tenun pertamanya. Pada tahun 1992, Sritex mencapai salah satu milestone-nya dengan menjadi perusahaan tekstil yang terintegrasi, dengan menguasai empat lini produksi yakni pemintalan, penenunan, pencelupan, dan garmen. Pada tahun 1994, Sritex untuk pertama kalinya memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Jerman untuk memproduksi seragam militer bagi Tentara Jerman, dan dari situlah Sritex kemudian membangun reputasinya sebagai salah satu produsen seragam militer paling terkemuka di dunia.

Tahun 2006, HM Lukminto pensiun, dan posisinya sebagai chairman Sritex digantikan oleh putra pertamanya, Iwan Setiawan Lukminto. Di tangan generasi kedua perusahaan, perkembangan bisnis Sritex bahkan melaju lebih kencang lagi dalam waktu yang relatif singkat, dimana pada tahun 2013 Sritex resmi listing di BEI, mengakuisisi salah satu kompetitornya, PT Sinar Pantja Djaja (sehingga memperbesar kapasitas produksi perusahaan), dan melipat gandakan kapasitas produksi garmen-nya menjadi 12 juta pakaian per tahun. Pada saat ini Sritex menjadi supplier tetap seragam militer bagi lebih dari 30 negara di seluruh dunia, membuat seragam bagi karyawan di perusahaan-perusahaan di Indonesia, membuat baju dan produk-produk fashion lainnya untuk dijual ke toko ritel, memproduksi benang, kain mentahan, dan fabric. Dari tadinya hanya memiliki toko tekstil di Pasar Klewer, Solo, Sritex kini memiliki sentra produksi berupa kompleks pabrik seluas 52 hektar di Sukoharjo, belum termasuk kompleks pabrik kedua di Semarang, Jawa Tengah, seluas 18 hektar, dan pada akhir tahun 2014 mempekerjakan total 16,800 karyawan.

Nah, kalau anda mempelajari bisnis tekstil di Indonesia, maka anda akan menemukan beberapa fakta berikut:

Yang pertama, diluar komoditas seperti batubara dan CPO yang sempat booming beberapa tahun lalu, Indonesia juga memiliki produk tekstil sebagai salah satu produk andalan untuk ekspor. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2013 lalu Indonesia mengekspor pakaian jadi bukan rajutan (jadi belum termasuk produk-produk tekstil lainnya) senilai US$ 3.9 milyar. Nilai ekspor ini, meski jauh lebih kecil dibanding nilai ekspor batubara dan CPO senilai total lebih dari US$ 40 milyar, tapi masih lebih besar dibanding nilai ekspor dari produk andalan ekspor lainnya, seperti sepatu dan plastik. Pada tahun 2013 tersebut, berdasarkan data dari Statista.com, Indonesia juga termasuk salah satu dari sepuluh negara eksportir tekstil terbesar di dunia.

Kedua, seperti halnya industri minyak dan gas, mayoritas industri tekstil di Indonesia dikuasai asing, terutama asal Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, atau setidaknya demikilanlah jika kita melihat komposisi pemegang saham dari 19 perusahaan tekstil yang listing di BEI (sementara secara keseluruhan, Indonesia memiliki 500-an perusahaan tekstil). SRIL adalah salah satu dari sedikit perusahaan tekstil di Indonesia yang masih dikuasai oleh pemilik lokal, tapi untungnya dia justru berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar.

Dan ketiga, entah itu karena adanya transfer pricing, kesulitan dalam memperoleh bahan baku produksi, atau lainnya, perusahaan-perusahaan tekstil yang listing di BEI kebanyakan mencatatkan kinerja yang buruk dalam jangka panjang. Kalau kita ambil contoh dua kompetitor utama SRIL, yakni Pan Brothers (PBRX), dan Apac Citra Centertex (MYTX), maka PBRX memiliki margin laba yang sangat tipis (kurang dari 3%) sehingga ROE-nya nggak nyampe 10%. Untuk MYTX malah lebih parah lagi, dimana perusahaan terus saja merugi sejak tahun 2008 sampai sekarang. Kalau melihat fakta bahwa Indonesia adalah salah satu produsen tekstil terbesar di dunia, termasuk kalau di Bandung sendiri penulis bisa melihat ada banyak pengusaha pemilik pabrik tekstil atau toko pakaian yang kaya raya, maka hal ini menjadi aneh: Ngapain aja para perusahaan tekstil itu sampe rugi melulu?

However, hal yang berbeda terjadi pada SRIL. Antara tahun 2010 – 2014, perusahaan selalu mencatatkan margin laba antara 5 – 8%, dan perolehan laba itu sendiri senantiasa naik dari tahun ke tahun. Dan pada awal tahun 2015 ini, trend kenaikan tersebut masih berlanjut dimana seperti yang sudah disebut diatas, pada Kuartal I 2015 laba bersih perusahaan naik 12.3% dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ROE tercatat 24.0%. Karena disisi lain nilai ekuitas SRIL sebenarnya melonjak karena adanya tambahan modal sebesar Rp1.3 trilyun dari IPO-nya pada tahun 2013, maka ROE sebesar 24.0% tersebut terbilang sangat baik, karena itu berarti bahwa perusahaan bisa dengan cepat menggunakan dana hasil IPO-nya (hanya butuh waktu setahun) untuk melakukan pengembangan usaha.

Lalu bagaimana dengan prospek perusahaan kedepan?

Sebagai sebuah perusahaan, SRIL boleh dibilang mengalami masa-masa keemasannya terutama sejak tampuk kepemimpinan perusahaan diambil alih oleh Iwan Setiawan Lukminto, dan juga adiknya, Iwan Kurniawan Lukminto (Iwan S. menjadi komisaris, sementara Iwan K. menjadi direktur), dimana sejak tahun 2006 lalu SRIL melakukan banyak pembangunan pabrik baru untuk memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, memperluas diversifikasi produk, hingga menambah jaringan pelanggan. And so far, berbagai ekspansi tersebut sukses besar hingga SRIL sekarang ini menjadi perusahaan tekstil terbesar di Indonesia (pada tahun 2006, SRIL sama sekali belum sebesar sekarang).

Namun proses ekspansi itu sendiri masih jauh dari kata berhenti. In fact, perusahaan masih punya rencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga tahun 2016 nanti (dihitung sejak 2006, berarti proses ekspansinya membutuhkan waktu total 10 tahun), salah satunya produksi pakaian jadi yang ditargetkan akan mencapai 30 juta potong pada tahun 2016, meningkat 150% dibanding 2013.

Lalu dari mana kebutuhan modalnya? Well, setelah sukses meraup Rp1.3 trilyun dari IPO-nya di BEI pada tahun 2013 lalu (yang langsung habis untuk membangun ini dan itu), setahun kemudian SRIL menerbitkan obligasi senilai US$ 270 juta di Singapura, dimana US$ 110 juta diantaranya digunakan untuk melunasi utang bank (refinancing, utang bank dengan bunga 11 – 12% per tahun diganti dengan utang obligasi dengan bunga yang lebih murah, yakni 9% per tahun), sementara selebihnya dipakai untuk belanja modal.

Karena adanya utang obligasi ini maka nilai kewajiban SRIL tercatat total  US$ 433 juta pada Kuartal I 2015, atau mencapai 1.7 kali nilai ekuitasnya sebesar US$ 247 juta, dan menurut penulis sendiri ini DER sebesar itu agak berisiko. Wujud utangnya yang dalam mata uang USD juga membuat kinerja SRIL menjadi rentan terhadap risiko pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. However, karena proses ekspansi yang dilakukan SRIL sudah lebih dari separuh jalan (dan sejauh ini semuanya lancar-lancar saja), maka penulis optimis bahwa manajemen akan mampu menggunakan dana hasil penerbitan obligasinya secara optimal. Pelemahan nilai tukar Rupiah juga seharusnya tidak akan berdampak negatif karena toh mayoritas pendapatan SRIL juga dalam mata uang USD. In fact, jika ada perusahaan-perusahaan di BEI yang diuntungkan karena pelemahan Rupiah, maka SRIL adalah salah satu perusahaan tersebut mengingat SRIL membayar biaya bahan baku dan tenaga kerja dalam mata uang Rupiah (posisi SRIL sebagai perusahaan tekstil yang terintegrasi dari hulu ke hilir menyebabkan perusahaan tidak tergantung pada impor bahan baku), namun memperoleh pendapatannya dalam mata uang USD. Dan tidak seperti harga CPO atau batubara yang terus saja turun dalam tiga tahun terakhir, harga produk-produk tekstil yang dihasilkan perusahaan terbilang sangat stabil.

Jadi jika tidak ada aral melintang ataupun kejadian luar biasa (force majeure) terentu, maka kinerja positif serta pertumbuhan aset yang signifikan yang dihasilkan oleh SRIL sejauh ini seharusnya bisa dipertahankan paling tidak hingga tahun 2016 nanti. And by that I pointed to you, private equity guys, ‘coz you do like prospect, eh?

Kemudian bagaimana dengan sahamnya?

Sejak listing perdana di BEI pada bulan Juni 2013 di harga 240, pergerakan SRIL terbilang fluktuatif dimana meski ia sempat naik sampai 300 pada Januari 2014, tapi selanjutnya  ia malah turun, dan terus saja turun hingga sempat menyentuh 120 pada Oktober 2014, atau anjlok persis 60% dibanding harga puncaknya, yang mungkin itu karena investor khawatir dengan utang obligasi perusahaan sebesar US$ 270 juta, dimana nilainya dalam mata uang Rupiah tentu akan meningkat jika Rupiah itu sendiri melemah.

However, seperti yang sudah dibahas diatas, pelemahan Rupiah seharusnya tidak akan berdampak negatif terhadap perusahaan. Penulis sendiri mulai tertarik dengan saham ini ketika ia berada di posisi 150-an, karena ketika itu PBV-nya cuma 1.1 kali sementara kinerja perusahaan terbilang no problemo (saya ketika itu sudah membahas dan merekomendasikan sahamnya di ebook kuartalan edisi Kuartal III 2014). Plus, SRIL berstatus sebagai leader di bidangnya, dan juga menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang seperti yang sudah dibahas diatas. Meski ketika itu sahamnya masih downtrend berat sampai tinggal sisa 120-an perak, namun setelah penulis pertimbangkan, no way sahamnya bisa sampai ke gocap. Malahan jika perusahaan sukses membukukan kenaikan laba pada Kuartal I 2015 nanti, maka sahamnya seharusnya bakal sukses naik kembali.

Dan kabar baiknya, SRIL memang sukses mencatatkan kinerja positif di Kuartal I 2015. Tapi kabar buruknya, sahamnya juga sudah terbang duluan. Setelah sideways cukup lama di rentang harga 150 – 160 dari November 2014 hingga Februari 2015, sejak awal Maret lalu SRIL mulai merangkak naik dan teruuus saja naik hingga sekarang sebentar lagi mencetak new high. Tapi dari sisi valuasi dimana harga 296 masih mencerminkan PER 7.6 kali dan PBV 1.7 kali, serta dengan memperhatikan outlook perusahaan yang cukup cerah, maka peluang kenaikan lebih lanjut bagi SRIL mungkin masih terbuka. Secara konservatif saja, dengan mempertimbangkan bahwa PBV yang wajar bagi SRIL ini adalah 2.0 kali, maka targetnya sekitar 350. Fluktuasi IHSG sepertinya tidak berpengaruh dimana meski semingguan ini IHSG turun tajam, namun SRIL malah terus saja naik, dan kenaikannya tersebut memang ditopang oleh fundamentalnya yang juga bagus.

Hanya saja, berdasarkan pola pergerakan saham ini di masa lalu, SRIL memang cenderung fluktuatif dimana dia bisa cepat naik, tapi juga bisa dengan cepat turun. Kenaikan hingga nyaris 2 kali lipat (dari 150-an hingga sebentar lagi tembus 300) hanya dalam tempo dua bulan juga tentu saja terlalu cepat, dimana kedepannya mungkin akan ada investor yang profit taking dari SRIL ini sehingga menyebabkan sahamnya turun kembali. Secara teknikal, support kuat hingga beberapa bulan kedepan bagi SRIL ini adalah di level 225-an, atau cukup jauh dibawah posisi harganya saat ini (jadi secara teknikal pula, anda baru boleh akumulasi SRIL di harga 225-an tersebut).

Karena itulah, jika anda tertarik dengan saham ini maka strateginya adalah sebagai berikut: 1. Jadikan SRIL ini sebagai investasi untuk jangka minimal menengah (3 – 12 bulan), dimana target 350 tadi mungkin baru bisa dicapai, dengan catatan tidak terjadiforce majeure, dalam waktu hingga setahun dari sekarang. Lupakan soal trading jangka pendek apalagi swing, karena SRIL ini terlalu bagus untuk itu, dan 2. Sebelum waktu setahun tersebut ada kemungkinan SRIL ini bisa turun dulu, mungkin mentoknya sampai 225 tadi. Karena itulah anda sebaiknya membeli SRIL ini secara sedikit demi sedikit sambil ‘testing the ground’, yakni untuk mengetahui bahwa kalau saham ini nantinya turun lagi maka dia mentoknya sampai berapa. Jangan beli sekaligus terutama karena posisi IHSG juga masih rentan koreksi lanjutan, dimana kalau ada orang yang beli SRIL ini pake duit margin dan dia kena force sell, maka SRIL tetap akan terseret turun meski fundamentalnya nggak kenapa-napa.

Okay, I think that’s all. Any comments? :)

PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (SRIL)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2015: A
Rating Harga Saham pada 296: A
--------------


Sumber: Indonesia Value Investing



Read more...

Pencarian

10 Halaman Favorit

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP